Fantasy and Reality

Mei 5, 2007

Oleh: benni junaedi

Aku Toni, pria 31 tahun dan tinggal di sekitar Jakarta. Ceritaku ini adalah gabungan antara kenyataan dan keinginan yang tidak terwujud. Saat kelas 3 SD seperti biasa aku sedang kumpul dengan teman-temanku. Kami sedang membicarakan buku seks yang dibawa oleh salah satu temanku. Diantara kami ada yang mengaku pernah melihat orang tua masing-masing melakukannya.

Tapi lain lagi dengan Fery, “Deni juga sering ngentotin Liana”. Deni, Liana dan Fery adalah kakak beradik yang usianya masing-masing selisih satu setengah tahun dan Deni 2 tahun diatas ku. Kami kaget sekaligus penasaran.
“Jangan ngibul loe, Fer”, sela Amri memancing.
“Bener deh”, Fery berusaha meyakinkan. Kami terbilang masih kecil, maka bagi Fery tidak masalah menceritakan hal yang sebenarnya aib.
“Kadang kalo malem gua kebangun, gua liat Deni ama Liana ngga pake baju ama celana. Terus titit Deni dimasukin ke memeknya Liana, terus digoyang-goyang”.
“Liana ngelawan apa ngga”, tanyaku.
“Waktu pertama gua liat sih gitu. Deni pake ngancem sambil maksa. Tapi udah-udahannya Liana diem aja kalo Deni nelanjangin terus ngentotin dia.”
“Yang laen ngga ada yang tahu?”, tanyaku lagi.
“Yuni dan Wiwi tahu. Dan Deni juga tahu kalo gua, Yuni dan Wiwi tahu. Deni pernah nawarin gua ngentotin Liana. Cuma gua pengennya ama Yuni, tapi ngga boleh. Kata Deni Yuni masih kecil.”

Deni memang anak tertua. Seorang yang galak dan ditakuti adik-adiknya. Kalo dia nyuruh pasti ngga ada yang berani ngelawan. Kecuali Yuyun, adik mereka terkecil, mereka memang tidur di satu kamar dengan masing-masing kasur di lantai. Tidak mustahil kalo Deni bisa menyetubuhi Liana. Beruntung sekali Deni itu.

Selalu mendebarkan kalo aku inget cerita Deni dan Liana. Tapi aku tidak pernah terpikir akan meniduri adikku, Susi. Sampai suatu malam ketika aku terbangun dan ingin ke kamar kecil. Saat melewati kamar orang tuaku, terdengar rintihan ibuku.

Suara yang aneh. Dari celah pintu kamar yang ternyata tidak dirapatkan aku bisa melihat kedalam. Ayah dan ibuku telanjang bulat. Ibuku terlentang dengan tangan dan kaki terbuka lebar. Sedangkan ayah memeluk ibu erat-erat dan menggoyangkan pantatnya maju mundur dengan cepat sambil terengah-engah. Ayah sedang menyetubuhi ibu. Gemetar tubuhku.

Aku asyik menikmati tontonan tersebut sampai tiba-tiba ayah mengerang dan menekan penisnya sedalam mungkin. Yang kemudian jatuh terlentang di kasur di samping ibu. Ibu memegang penis ayah dan menggosoknya secara perlahan dari pangkal kearah kepala penis. Semua itu diakhiri dengan ibu yang mengelap cairan di penis ayah dan juga vagina ibu. Merekapun tertidur.

Setelah agak lama baru aku pergi ke kamar kecil. Penisku menegang. Cepat-cepat kembali ke kamar, naik ke tempat tidur. Saat ini masturbasi adalah tindakan yang dapat memuaskan nafsuku. Tapi anehnya sesudah puas, nafsuku tidak juga hilang. Masih terbayang adegan ayah dan ibuku. Aku malah makin resah. Tidak lama kemudian penisku tegang kembali.

Tiba-tiba saja terbayang cerita Deni dan Liana. Deni yang beruntung. Bagaimana kalau aku meniduri Susi? Tiba-tiba pula terlintas keinginan itu. Ide gila, tapi tanpa kusadari aku sudah berdiri di depan pintu kamar Susi. Perlahan kubuka pintunya. Dan kututup perlahan setelah masuk.

Kutatapi Susi yang tertidur dan kudekati. Perlahan aku singkap selimutnya dan kulihat ia mengenakan daster. Aku angkat dasternya sampai posisi perutnya. Saat kulihat CD-nya makin berdebar dadaku dan tubuhku juga gemetar. Ingin segera aku meremas vaginanya itu. Tapi aku takut Susi terbangun. Setelah menimbang-nimbang, apa yang perlu ditakuti. Deni saja berhasil.

Maka aku mulai dengan menyentuhkan telapak tanganku ke permukaan CD yang menutupi vagina. Kemudian perlahan kuremas dan kuulangi. Tak puas, aku aku selipkan tanganku kedalam CD-nya. Vaginanya yang halus, lembut dan kenyal membuatku semakin bernafsu. Remasanku makin bersemangat dan Susi tetap tertidur pulas. Sambil meremas aku selipkan jariku di belahan vaginanya. Bibirkupun ingin menikmati vaginanya. Aku naik ke ranjang, kurentangkan kaki Susi dan kuposisikan diriku diantara kedua kakinya. Awalnya aku hanya menciumi dari balik CD-nya saja. Itu tidak memuaskan. Perlahan aku ciumi dari gundukan dibawah perut. Makin kebawah perlahan aku turunkan CD-nya. Tapi karena kakinya direntangkan sulit untuk menurunkan CD-nya. Aku turun lagi dari ranjang. Kurapatkan kaki Susi dan perlahan kuturunkan CD-nya sampai lepas. Kurentangkan kembali kakinya. Sekarang terlihat pemandangan indah yang terbuka lepas.

Kembali aku naik ranjang dan menunduk diantara kedua kaki Susi. Kedekatkan mukaku ke vaginanya. Dimulai dengan kecupan-kecupan kecil di vaginanya. Lalu kebenamkan wajahku ke vaginanya. Lidahku mulai beraksi. Bergerak sepanjang belahan vagina, naik turun berulang kali. Sesekali aku buka mulutku lebar-lebar dan kucaplok vagina mulus itu dan kugigit kecil.

Celah antara vagina dan paha juga menarik, lidahkupun bermain disana. Lebih jauh dengan kedua tangan aku buka celah vagina Susi. Terlihat pemandangan yang lebih membangkitkan nafsu. Lidahku bermain lebih jauh lagi. Bahkan sampai ke lubang senggama aku coba jangkau dengan lidahku sejauh mungkin.

Cukup lama aku memuaskan tangan, wajah, bibir dan lidahku menyentuh vagina Susi. Penisku tentu sudah tak tahan. Dengan dipenuhi nafsu, aku putuskan bahwa aku, Toni, usia 12 tahun akan menyetubuhi adikku Susi yang berusia 8 tahun.

Aku pernah melihat adegan film porno. Jadi aku tahu dimana seharusnya penisku memasuki vagina Susi. Aku lepaskan celanaku dan mendekatkan penisku ke selangkangan Susi. Penisku sudah tak sabar. Namun aku puaskan dulu dengan menggosok-gosokannya ke sekitar vagina. Aku selipkan di belahan vagina, naik dan turun. Setelah merasa cukup, saatnya masuk ke babak utama. Kedua tanganku membuka celah vagina agar terlihat dimana posisi lubang kenikmatan berada. Setelah ditemukan, kuarahkan kepala penisku ke lubangnya. Kutekan masuk kedalam secara perlahan. Kepala penisku sudah masuk tetapi sulit untuk masuk lebih jauh.

Aku jadi tidak yakin apakah bisa masuk semua. Aku jadi tidak sabar dan mendorongnya dengan sabar. Tidak beruntung. Sudah tidak berhasil menembus lubang malah Susi terbangun.
“Mas Toni sedang apa?”, tanya Susi tidak mengerti.
“Ngga apa koq. Aku cuma mau peluk-peluk Susi.”, aku menjelaskan. “Ngga apa-apa ya.”, sebuah permintaan yang aku sampaikan.
“Iya”, jawaban dari Susi setelah berpikir sejenak.
Akupun mulai menekan penisku lebih jauh lagi. Tapi itu membuat Susi kesakitan.
“Aduh sakit, ngga mau ah mas.”, ia protes dan berusaha mendorongku.
“Ngga apa-apa. Sakit sebentar doang koq.”, entah benar atau tidak, aku cuma berusaha agar usahaku tidak sia-sia. Tapi tampaknya berhasil, Susi tenang kembali. Kembali aku dorong, tapi dengan lebih hati-hati. Tetap saja, rasa sakit membuat Susi tidak suka. Ia kembali berusaha lepas dari pelukanku. Tentu aku tidak akan membiarkannya. Usaha terus berjalan begitu juga perlawanan.

Suara pintu dari kamar orang tuaku membuat aku kaget. Ayah atau ibu pasti akan ke kamar kecil. Buru-buru aku turun dari ranjang dan memakai kembali celanaku. Aku juga menyuruh Susi memakai CD-nya dan berpesan agar ia tidak bilang siapa-siapa.

Perlahan aku kembali ke kamarku. Rasa kaget yang sangat membuat nafsuku hilang. Sedang usahaku telah menguras tenaga sehingga akupun tanpa sadar langsung tertidur.

Pagi-pagi aku kuatir kalo Susi akan cerita ke orang tuaku. Ternyata sampai malam besoknya semua aman. Tidak ada perubahan saat Susi bicara denganku. Malam berikutnya aku tidak bisa gerilya karena kebetulan ayah atau ibuku tidur di ruang tengah – merupakan bagian depan dari kamarku atau Susi. Mereka memang kadang-kadang suka tidur berpindah antara kamar mereka dan ruang tengah.

Berita bagus datang pada hari Jumat sore. Ketika kami berkumpul, ayah mengatakan bahwa pada hari Sabtu ayah dan ibu bersama beberapa adik ibu akan mengunjungi kakak ibu yang tinggal di Bandung. Kakak ibu sedang dirawat di rumah sakit sejak 2 hari yang lalu. Mereka akan menginap dan baru akan kembali sampai di rumah pada Minggu sore atau malam. Jadi aku diminta untuk menjaga Susi di rumah. Alangkah kesempatan baik bagiku untuk mewujudkan hasratku yang beberapa malam lalu telah tertunda.

Pagi itu aku dan Susi berangkat sekolah sedangkan ayah dan ibu pergi ke Bandung. Kunci rumah aku yang bawa.

Sepulang sekolah Susi sudah menunggu di depan kelasku. Kami memang di satu sekolah. Hari itu mendung dan dalam prjalanan menuju rumah hujanpun turun. Sampai di rumah kamipun basah. Aku langsung mandi. Begitu selesai, aku menyuruh Susi mandi.

Rencana telah disusun. Segera aku menunggu didalam kamar Susi dalam keadaan bugil. Saat ia selesai mandi dan masuk kamar, aku segera memeluk Susi. Ia tidak mengerti dan membiarkan aku memeluknya. Awal yang baik.

Tapi ia kaget saat aku menarik handuk yang menutupi tubuhnya. Lebih kaget lagi saat melihat aku bugil. Ternyata ia belum sadar saat aku memeluknya tadi. Sementara ia masih bingung, aku membimbingnya ke ranjang lalu kubaringkan tubuhya. Akupun menjatuhkan tubuhku diatas tubuhnya. Aku peluk dan secara spontan aku mencium bibir adikku itu. Karena merasa aneh, ia sempat coba menghindar. Tapi berhenti setelah aku terus menciuminya. Ia biarkan aku mencaplok-caplok bibirnya. Atas bergantian bawah.

Perlahan aku bergerak turun. Kuikuti langkah-langkah yang ada di film porno. Bukan sekedar mengikuti tapi juga secara naluri aku menikmati. Kuciumi lehernya. Dada dan perutnya. Untuk mengakses bagian utama aku meminta Susi merentangkan pahanya lebar-lebar dan ia mengikuti permintaanku. Segera kuciumi vaginanya. Kubenamkan wajahku. Kujelajahi seluruh bagian luar vaginanya dengan lidahku. Saat kubuka bibir vaginanya dan kutelusuri belahan serta lubang senggama dengan lidahku, Susi menggeliat kegelian. Kadang tangannya mendorong kepalaku. Tentunya itu tidak akan menghentikan semua aksi. Pandangan Susi terus mengkuti semua sentuhanku. Selanjutnya aku melingkarkan tangan-tangaku dari bawah paha ke arah depan paha menarik vaginanya lebih dekat ke wajahku. Aku benamkan wajahku dan lidahku bergerak menggesek-gesek lubang vaginanya. Sungguh nikmat.

Dan Susi terdengar mendesah sementara tangannya mengusap-usap kepalaku.

Cukup sudah semua pembukaan. Saatnya memuaskan penisku yang sudah dari tadi menegang. Aku duduk diantara kedua kaki Susi dan penisku terarah pada lubang kenikmatan milik Susi. Kusentuhkan pada mulut lubang dan secara perlahan kudorong masuk. Seperti beberapa malam lalu, setelah kepala penisku masuk, sulit untuk masuk lebih jauh lagi. Dan Susi yang merasakan sakit berusaha untuk mendorongku. Tapi nafsu sudah meyakinkanku bahwa saat ini harus berhasil. Maka akupun memeluk Susi erat-erat. Sementara pinggulku mendorong terus. Aku mulai sedikit frustasi karena tidak berhasil membenamkan seluruh penisku. Tanpa sadar aku menghentak-hentakan pinggulku lebih keras. Dan tidak sia-sia kurasakan aku bisa mendorong penisku lebih dalam. Lebih dalam lagi. Dan akhirnya seluruhnya telah tertelan dalam sempitnya lubang kenikmatan Susi. Susi yang kesakitan mulai meronta dan menangis. Cukup keras tetapi di luar hujan deras, maka suaranya teredam.

Belum aku goyang sudah demikian nikmat. Mulai kutarik perlahan, dan kudorong lagi. Oh, luar biasa. Tarik dan dorong. Keluar dan masuk lagi. Dinding vagina yang sempit memijit-mijit penis. Sungguh nikmat, jauh lebih nikmat daripada masturbasi. Aku gerakan pinggulku makin cepat. Pelukankupun makin erat. Aku tidak menyadari sejak kapan Susi tertidur. Mungkin ia kelelahan.

Penisku yang bergerak makin cepat memberikan frekuensi kenikmatan yang makin besar. Setiap gerakan mendorong, aku benamkan penisku sedalam mungkin. Aku lelah tetapi makin bersemangat.

Setelah hampir 5 menit aku merasakan ada sesuatu didalam penisku yang mendesak ingin keluar. Aku tahu aku akan segera sampai, maka kugenjot adikku Susi dengan lebih bernafsu. Dan akhirnya mengalirlah spermaku didalam tubuh adikku. Aku masih sempat menggoyang pinggulku sampai seluruh otot-ototku terasa ngilu dan penisku sudah tidak terlalu tegang. Kubiarkan sesaat penisku didalam vagina adik kandungku. Sampai aku benar-benar kehilangan tenaga dan jatuh disamping tubuh Susi. Akupun tertidur.

Saat kubangun setengah jam kemudian, Susi masih tertidur. Aku siapkan makan siang, karena sejak pulang sekolah kami langsung mandi dan bersetubuh. Setelah makanan siap, aku bangunkan Susi dan mengajaknya makan siang. Di ranjangnya kulihat ada bercak darah. Dan Susi sering memegang vaginanya dan meringis.
“Susi, sakit ya”, aku bertanya. Dan Susi hanya mengangguk.
“Maaf ya. Aku janji ngga akan ngulangin lagi deh”, itu kata-kata yang akan terucap. Mengandung dua poin, yaitu permintaa maaf dan janji tidak akan mengulang. Tidak mungkin. Minta maaf boleh, tapi untuk tidak mengulangi adalah hal yang mustahil. Menghindari kenikmatan yang luar biasa. Jadi aku putuskan hanya mengucapkan, “Maaf ya. Tapi mas janji, lain kali tidak akan sesakit tadi.”.
Mendengar itu, Susi agak terperanjat. Pasti karena pernyataan akan ada lain kali. Tapi ia pun mengangguk.

Setelah makan, kami melakukan aktifitas biasa didalam rumah. Diluar hujan masih rintik-rintik. Kulihat Susi masih memegangi vaginanya. Aku sempat mendengar Susi berteriak saat buang air kecil. Rupanya vaginanya terasa perih saat terkena air.

Saat malam, aku dan Susi sedang menonton film di tv. Saat ada gambar wanita-wanita sexy di pantai, hasratku muncul kembali. Apakah aku akan menggagahi adikku lagi malam ini. Saat sedang menimbang-nimbang, aku teringat bahwa aku masih meminjam video porno milik temanku. Aku ingin tahu reaksi Susi saat menonton film tersebut.
“Susi, mas mau tunjukin film.”, aku menawarkan.
“Film apa, bagus ngga”, tanyanya.
“Liat aja dulu. Mas ambil dulu deh”, aku pergi ke kamarku untuk mengambil film porno yang aku sembunyikan. Aku segera mainkan film porno tersebut dan aku majukan agak kedepan. Aku ingin langsung ke adegan-adegan panas. Aku duduk di dekat Susi. Ia memandang penuh ingin tahu. Film dimulai dengan pria duduk berdekatan seorang wanita sexy.

Sang pria mulai memeluk dan menciumi wanita dengan penuh nafsu. Aku mulai membelai rambut Susi. Sang pria melucuti seluruh pakaian wanita dan menciumi seluruh tubuhnya. Susi mengarahkan pandangannya kepadaku dan berkata, “Seperti kita tadi siang”.

Dan akupun mengangguk. Sampai pada adegan sang wanita dengan posisi diatas mengarahkan penis pria yang besar kedalam vaginanya. Sedikit demi sedikit sampai hilang terbenam. Susi terpaku pada adegan di film tersebut.

Akupun lanjutkan aksiku dengan menciumi bibirnya. Susi diam membiarkan aku melumat bibirnya. Aku meminta ia membuka seluruh bajunya sedang aku melepas semua pakaianku. Kamipun sama-sama telanjang bulat. Setelah itu aku rebahkan Susi di sofa panjang.

Pandangannya berpindah-pindah dari tv lalu ke aku. Aku ciumi seluruh tubuhnya. Seperti tadi siang aku minta ia rentangkan kakinya agar vaginanya terbuka. Aku ciumi dan jilati vaginanya dengan rakus bahkan dengan setengah menghisap.

Pada saat adegan film si wanita terlentang dan pria akan memasukan penisnya, aku membiarkan Susi mengikuti setiap aksi. Setelah pria mulai menggoyang tubuh wanita, aku meminta perhatian Susi.
“Susi, kamu liat kan yang di film tadi.”, dan Susi mengangguk.
“Titit cowok tadi dimasukin dalem-dalem ke memek-nya cewek itu. Dan liat deh cewek itu suka kan”, aku mencoba merayu.
“Tapi kan sakit, mas”, Susi memberikan alasan.
“Iya, tapi itu juga awal-awal aja. Kalo udah sering ngga sakit lagi. Kayak di film itu, yang pertama kali masukin kan yang cewek. Soalnya dia suka.”, aku harus berhasil meyakinkan Susi.
“Bener ya mas, kalo nanti-nanti ngga sakit?”, ia mempertanyakan kebenaran kata-kataku.
“Bener lah. Ayah sama ibu juga sering.”, entah mengapa aku harus menyebutkan soal seks orang tuaku.
“Masa sih mas. Ayah ama ibu begituan.”, ia tidak percaya sambil mengarahkan pandangannya kepadaku yang sedang asyik menikmati vaginanya dengan bibir dan lidahku.
“Bener lah. Lain kali akan mas tunjukin ke kamu. Tapi ngga boleh bilang siapa-siapa. Soal seperti tadi siang juga ngga boleh ada yang tahu.”, aku mencoba meyakinkan.
“Iya deh.”
“Kalo begitu, mas boleh masukin lagi ya. Kalo sakit tahan dulu.”, aku sudah tidak tahan. Untunglah Susi mengangguk setuju. Aku segera duduk diantara selangkangannya. Kuarahkan penisku yang telah kulumuri ludah ke vaginanya. Tidak diperlukan usaha sebesar tadi siang untuk membenamkan penisku. Dan yang lebih menyenangkan tidak ada perlawanan dari Susi. Ia mengikuti semua gerakanku sambil menonton film. Aku mulai goyang pinggulku menggerakan penisku keluar masuk lubang sempit Susi. Semakin cepat dan cepat. Susi mulai merintih karena sakit tapi tidak berusaha mempersulitku. Ia biarkan kakaknya ini menikmati lubang kenikmatan miliknya. Membiarkan merasakan nikmatnya seks.

Adegan di film membuatku lebih bernafsu. Aku peluk tubuhnya erat-erat. Dorongan-dorongan pinggulku membuat tubuhnya tergoncang-goncang. Seperti tadi siang, setelah lima menit penisku memuntahkan sperma didalam tubuh adikku. Susi yang kali sadar saat aku ejakulasi mempertanyakan cairan yang membasahi didalam vaginanya. Aku cuma bilang itu sebagai tanda sayang. Aku biarkan penisku didalam vaginanya sambil memeluknya sebelum akhirnya aku mengajak ia tidur di kamarku. Waktu menunjukkan jam 9 malam.

Kamipun tertidur di kamarku tanpa pakaian. Saat menjelang pagi aku terbangun dan saat kulihat tubuh Susi tanpa busana akupun terangsang lagi. Kembali aku setubuhi adikku. Minggu, sebelum makan siang aku dengan sengaja mengajak Susi bersetubuh sambil menonton film porno. Mumpung orang tuaku tidak di rumah, aku ingin mencoba variasi. Aku meminta Susi menjilat dan menghisap penisku. Dan saat penetrasi aku juga mencoba sambil duduk dan juga dengan posisi Susi diatas. Tapi saat orgasme aku tetap ingin berada diatas dengan penisku terhujam maksimal didalam vagina Susi yang sempit. Sangat seksi memikirkan spermaku membasahi vagina adik kandungku.

Terakhir aku setubuhi Susi sore hari. Saat ejakulasi, aku biarkan tumpah di bibir vagina dan aku masukan lagi. Ini memberi pemandangan seksi yang menggairahkan. Kamipun mandi bersama dan menunggu orang tua kami pulang.

Sejak itu aku selalu ingin menyetubuhi Susi. Tapi jarang-jarang punya kesempatan. Yang pasti sebulan sekali atau dua kali, saat arisan ibu-ibu dan pada hari kerja. Karena saat ibu pergi arisan dan ayah belum pulang, aku bisa mengajak Susi bersetubuh. Paling sebel kalo arisan jatuh pada hari libur. Kesempatan lain adalah saat ayah dan ibu pergi ke tempat saudara dan kami tidak wajib hadir. Kalo malam, kadang-kadang bisa. Yang aman saat ayah dan ibu sedang bercinta juga.

9 Responses to “Fantasy and Reality”

  1. eddy Says:

    lo otak udang. adik sendiri dijadiin pemuas nafsu. dasar binatang. gak ada bedanya lo sama anjing.

  2. Dean Says:

    Jeyuk makan jeyuk

  3. koerozyx Says:

    MANUSIA BEJAT..!!!!!!!!!!!

  4. Jemie porn Says:

    he3 ancur loe ! ank di bwh umur tuh !
    Gw nginetin aja lho !

  5. Mrs.Sexy Says:

    kereeenn critanya….profesional writer bgt…two thumbs up ^^

  6. abi Says:

    kl ini kacau banget

  7. Rocker Says:

    LO GILA YA ADEK SENDIRI DIEMBAT SAMA AJA AM ANJING LO!!!!MALAHAN LEBIH DARI ITU

  8. rain Says:

    loe manusia apa binatang sech COYYY?????????


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: