Liburan Akhir Pekan – 1

Mei 19, 2007

P. W. <pwpwpw@hotmail.com>

Ini cerita bulan lalu ketika suami dinas ke luar negeri. Sehari sebelumnya,
hari jumat sore sekretaris saya menanyakan besok malam ada acara tidak
kepada saya. Dia tahu suami sedang dinas ke luar negeri. Sekretaris saya
bilang kepada saya bahwa besok malam mau bikin acara makan-makan dengan
anak-anak kantor, staff saya. Mereka memang sering bikin acara-acara seperti
ini, maklum masih muda-muda. Saya bilang ke dia bahwa mau lihat-lihat
dahulu, kalau tidak ada acara saya mau hadir. Mereka mengadakan acara di
salah satu restoran tekenal di Jakarta selatan.

Pada malam minggu itu memang saya tidak ada acara apa-apa. Ketika berias
untuk bersiap-siap pergi, saya agak bingung juga mau pakai baju apa. Maunya
sportif, santai tapi menarik di lihat. Setelah agak lama memilih baju
akhirnya saya pilih baju terusan warna merah terang. Bahannya dari kaus yang
elastis yang ngepas di badan sehingga tidak terlalu risih untuk bergerak.
Bawahnya agak mini dengan sedikit belahan di bagian depan paha kiri. Bagian
dadanya agak terbuka dan ada belahan kicil meruncing di tengah terus sampai
sebatas bawah buah dada saya. Sebenarnya paling cocok tidak pakai bra lagi
di dalamnya, soalnya kalau pakai bra pasti terlihat bra nya dari celah
belahan itu dan di bagian punggungnya bisa kelihatan juga karena rendah di
belakang, tapi kalau tidak pakai terkesan terlalu berani. Jadi saya coba
pakai cup bra, seperti dahulu waktu saya pakai di acara pesta suami saya,
hanya busa spons yang pas menutupi dada saja. Celana dalamnya kalau tidak
salah waktu itu warna hitam, tapi yang jelas celana dalam yang mini dan
model ‘T back’ di belakangnya supaya dari belakang tidak mengecap garis
celana dalam saya.

Malam itu saya pakai mobil model 2 seat kesenangan suami, karena dia jarang
pakai dan kebetulan dia lagi tidak ada, tidak ada salahnya.
Sampai di restoran sekitar jam tujuhan dan anak-anak kantor dan beberapa
rekan kerja sudah datang sedang menikmati minuman ringan dan sedang melihat
lihat menu makanan. Anak-anak begitu melihat saya segera menyambut saya
melambai-lambaikan tangan, tarik sana tarik sini, minta duduk di kursi yg
masih kosong di dekat mereka, apalagi sekretaris saya sempat bilang,
“wah…Mbak, malam ini cantik dan sexy sekali…”. Saya jadi sedikit gr dan
tersipu-sipu tidak enak. Mereka menyambut begitu mungkin karena memang saya
jarang ikut acara-acara mereka diluar kerjaan, jadi sekalinya datang mereka
begitu antusias, apalagi saya ini dekat dengan mereka-mereka.
Saya akhirnya memilih duduk di salah satu sudut meja yg kebetulan hanya ada
dua kursi. Saya duduk disebelah salah satu staff pria saya, sebutlah namanya
Doni (bukan nama asli). Anaknya masih muda, cakep dan ganteng, tapi dia
sopan dan dia termasuk staff yang baik dan rajin di kantor saya.
Acara berlangsung cukup meriah juga, penuh tawa dan canda. Doni pun
sepertinya juga cukup membuat meriah suasana dengan berbagai humor dan
lelucon yang kadang-kadang sedikit menyerempet-nyerempet ceritanya.
Dalam suasana yang meriah itu saya sempat berkali-kali mempergoki si Doni
mencuri pandangan ke saya yang segera dia menolehkan ke arah lain. Saya pun
berpura-pura tidak begitu memperhatikan dan acuh tak acuh. Saya tahu berkali
kali dia melirik ke paha saya yg sedang bersilang kaki dan juga matanya yang
mengarah ke sekitas dada saya. Maklum anak muda.
Setelah acara makan selesai kami tidak segera bubar, tapi kami pindah tempat
ke bar stand yang ada di restoran itu untuk terus memeriahkan malam minggu.
Tapi ada juga yang kemudian pulang, seperti beberapa rekan kerja dan
beberapa staff wanita. Yang berada di bar stand itu sebagian besar staff
prianya dan saya satu-satunya senior staff. Seperti biasa, kalau sudah
cowok-cowok yang kumpul, ceritanya mulai berani-berani, apalagi alkohol
sudah masuk, lupa mereka itu bahwa saya ini atasan mereka. Belum lagi yang
nakal-nakal mengganggu saya dengan cerita-cerita sekitar sex. Tapi memang
staff saya ini pada dekat dengan saya sehari harinya.

Tidak terasa malam semakin larut, akhirnya kami pulang. Ketika akan pulang,
beberapa staff pria sempat menawarkan saya untuk diantar pulang, tapi saya
mengelak karena saya bawa mobil sendiri. Saat kami bergerombol mau pulang di
tempat parkir saya lihat si Doni sedang di tawari teman-temannya untuk
menumpang mobil. Saya pun ikut nimbrung sambil iseng bertanya kepada mereka,
“Emangnya kamu dimana tinggalnya?…”. Ternyata dia tinggal tidak begitu
jauh dari tempat saya dan saya pasti melewati apartement nya. Langsung saja
saya panggil dia, “Don, ikut aku saja…sejalan kok”.
Tadinya dia agak malu-malu karena diledeki teman-temannya, tapi akhirnya dia
mau juga. Ketika mau naik mobil, dia menawarkan diri untuk dia yg bawa
mobilnya, tapi saya tolak, biar saya saja yang membawanya. Di jalan saya
sempat melihat dia melirik-lirik ke paha saya yg terbuka karena rok saya
yang mini menjadi lebih tertarik ke atas karena jok mobil yang rendah. Tapi
saya biarkan saja pura-pura tidak tahu, malah saya jadi lucu melihatnya.
Ingat waktu masih pacaran dengan suami, dia sering mencuri-curi mengintip
paha saya. Di tengah jalan dia bertanya, “Mbak mau langsung pulang?…”.
“Memang kenapa?…kamu mau ngajak jalan-jalan apa?…”, saya membalasnya
dengan nada becanda. Dia sedikit mesem-mesem dan mengajak  dengan agak
malu-malu untuk mampir di salah satu pub & bar di sekitar kemang.

Saya tidak terlalu lama berfikir, dirumah juga tidak ada siapa-siapa,
anak-anak juga lagi tidak dirumah, “boleh…boleh, enggak apa-apa nih, nanti
ada yang marah enggak?”. Dia sedikit tersenyum dan bilang tidak apa-apa.
Tidak lama kemudian kami pun sampai. Karena malam minggu, jam segitu pun
masih saja ramai. Lebih banyak tamu yang muda-muda di sana, orang-orang
asing pun banyak terlihat. Tadinya saya ingin duduk di bar stand, senang
bisa melihat bar tender bekerja, tapi penuh jadi di meja biasa saja. Kami
duduk berhadap-hadapan.

Awalnya pembicaraan kita cukup santai dan penuh tawa, walaupun kesannya
lebih banyak ngeledek dia. Malam itu dia terlalu banyak minum sehingga
kemudian saya tegur, “Eh Don…kamu kebanyakan minum malam ini, besok kamu
pusing loh…”. Tapi dia membalasnya dengan sangat yakin tidak apa-apa.
Kemudian dia mulai cerita dan menanya-nanya masalah pribadi, seperti gimana
saya kenalan dengan suami dan gimana waktu itu pacarannya dll. Bagai mana
sekarang dengan suami, juga sedikit nanya seputar sex, karena dia melihat
kok kami cukup bebas tapi tetap selalu harmonis dan mesra kelihatannya. Saya
jawab dan menasihati dia seperlunya saja.
Lalu saya balik bertanya tentang pribadi dia, hubungannya dengan pacarnya
dll. Ternyata dia sedikit ada problem dengan pacarnya dan seputar kehidupan
sexnya yang kalau saya dengar sepertinya hanya masalah komunikasi yang
kurang nyambung, sepertinya dia terlalu egois terhadap pacarnya.
Lama lama dia bicaranya seperti adik yang mengeluh ke kakaknya, apalagi dia
sudah mabok lagi. Saya sedikit menghibur dia agar hatinya sedikit terhibur,
dan ini kesempatan untuk saya ajak pulang dia, karena sudah larut malam. Dia
pun setuju dan kami pun pulang.
Waktu itu saya sempat merasakan ada sesuatu yang dia harapkan dari saya,
matanya yang penuh arti. Tapi entah lah, mungkin waktu itu saya juga sudah
agak mabok karena cukup banyak juga saya minum.

Dia tinggal di apartement sekitar jalan TB Simatupang, di depannya ada jalan
toll. Karena sudah malam sekali tempat parkir dan sekitarnya juga sudah sepi
sekali. Dia saya antar ke kamar apartement nya di tingkat sepuluh. Saya
khawatir karena di sedang mabok, takut ada apa-apa nanti menuju kamarnya.
Tangannya sambil di genggam saya bawa masuk ke gedung. Di loby gedung ada
dua satpam yang jaga, saya beri salam dan mereka membalasnya. Di depan pintu
masuk kamarnya dia masih sempat mencari cari kunci masuk di celananya.
Setelah masuk kami duduk di ruang tengah dan kemudian saya ke kulkas
mengambil air putih dingin. Dia saya suruh minum air putih yang banyak untuk
mengurangi maboknya dan supaya fresh sedikit. Saya juga ikut minum, karena
saya juga sedikit pusing kebanyakan alkohol. Kemudian saya minta izin ke
toilet nya sebentar. Di dalam saya sempat mencuci muka biar agak fresh,
karena saya masih harus bawa mobil. Saya juga sempat merapihkan pakaian saya
yang sedikit agak kusut, dan ketika itu saya sempat melepas cup-bra saya,
entah kenapa saya membukanya kalau di ingat sekarang saya juga lupa.
Ketika kembali ke ruang tengah, si Doni masih duduk di sana dan sedang
meubah-rubah chanel tv. Saya kembali duduk di sebelah dia dan menanyakan,
“sudah segaran Don…”. Dia bilang sudah lumayan. Dia saya nasihati lagi
karena kebanyakan minum. Seingat saya waktu itu kemudian suasana menjadi
hening, dan entah bagaimana kepala kami saling mendekat dan dia mencium
saya. Ciumannya terasa begitu nafsu dan tergesa gesa. Saya pun membalas
ciumannya dan kami terus bercumbu, setelah itu tangannya ke dada saya dan
meremas-remas buah dada saya. Saya menjadi terangsang dan enak sekali,
apalagi saya sudah tidak pakai bra lagi. Saya biarkan terus tangan si Doni
demikian.
Tapi ketika tangannya mau masuk ke balik baju saya dan mau memegang
langsung, tangannya saya tahan dan terus saya segera berdiri menuju jendela
teras. Setelah itu karena tidak enak mungkin dia minta maaf ke saya, tapi
saya tidak membalasnya dan hanya melihat keluar jendela dan kemudian saya
bertanya, “Don…jendelanya boleh di buka tidak, aku ingin menghirup udara
luar..”. Dia bilang boleh dan jendela pun saya buka dan keluar teras.
Angin malam silir-silir terasa. Saya berdiri di pagar teras dan memandang
lampu-lampu jalan dan gedung sambil sedikit menahan perasaan, tapi heran
saya merasakan celana dalam saya membasah dan terus semakin basah. Kemudian
saya panggil dia, “Don…sini Don..”. Dia tidak menjawab tapi tidak lama
kemudian saya mendengar suara kakinya menuju teras dan mendekat di belakang
saya, kemudian saya bilang, “Boleh Don….tapi lupakan ya malam ini…jangan
kamu ingat-ingat lagi”.
Dia hanya terdiam dan tidak lama kemudian terasa tangannya menyentuh dan
mengusap-usap paha saya dan sedikit demi sedikit tangannya naik dan terasa
rok saya tertarik sampai atas. Kemudian tangannya ke selangkangan dan
jarinya menggesek-gesek bagian sensitif saya dari atas celana dalam.

Dia sempat bilang “Mbak sudah basah sekali”. Mendengar itu saya tambah
terangsang dan saya semakin merenggangkan kaki. Kemudian saya merasakan
jarinya menyelinap ke balik celana dalam dan terus masuk ke vagina saya.
Gerakan jarinya enak sekali, dia pintar memainkan jarinya, apalagi setelah
dia menambah jarinya untuk masuk ke vagina saya. Saya sendiri sudah tidak
ingat lagi apakah waktu itu saya sempat mengeluarkan suara atau tidak.
Kemudian tangan yang satu dari belakang meremas-remas buah dada saya.
Beberapa saat saya biarkan dia begitu karena saya juga merasa enak sekali.
Kemudian saya membalikkan diri dan berhadap-hadapan dengan dia. Tangannya
seperti tergesa-gesa merauk baju di kedua pudak saya dan ditarik ke bawah
hingga terbuka dada saya. Kemudian dia menjilat dan mengisap-isap puting
saya, saya benar benar terangsang dan sudah tidak bisa mengatur diri lagi,
pasrah sama anak muda ini. Saya juga mulai gemes dan menggenggam kemaulannya
dari atas celananya, terasa sudah menegang dan terasa ukurannya besar.
Begitu penasaran hingga saya menarik kepalanya yang sedang berada di dada
saya dan saya cium bertubi-tubi. Dia saya dorong sedikit-sedikit ke belakang
sampai menubruk kursi di belakang dia. Kemudian saya paksa duduk dia.
Resleting celananya saya buka dan segera bersama dengan celana dalamnya saya
turunkan.
Dia hanya diam melihat apa yang saya lakukan. Ukuran penisnya cukup besar
dan tidak sabar lagi saya untuk menciumnya. Agak susah saya mengutarakannya
dengan tulisan perasaan waktu itu.
Seperti ketika oral dengan suami, saya senang mencium dan menjilat sekitar
ujungnya. Baru sebentar saja sudah terasa cairannya keluar sedikit dari
ujungnya. Pria rata-rata memang sepertinya paling tidak tahan kalau yg
ujungnya di hisap atau di jilat dengan ujung lidah. Selanjutnya saya mulai
melakukan oral. Terasa penisnya penuh di mulut. Tapi baru sebentar dia sudah
tidak tahan minta segera dilepas karena takut keluar di mulut.

Setelah saya lepas dari mulut, dia sedikit lega, tapi saya segera naik ke
atas dia yang sedang duduk di kursi pantai itu. Saya juga sudah tidak sabar
lagi, kapan celana dalam dilepas juga saya tidak ingat lagi. Penisnya saya
genggam dan sedikit-sedikit saya masukkan ke saya, terasa penis yang besar
itu masuk ke saya. Dia sedikit menarik nafas ketika penisnya masuk ke saya.
“Don…tahan ya, jangan cepat cepat…”, saya sempat bicara demikian ke dia.
Ketika saya mulai gerak, dia berkali-kali mendesah dan memanggil-manggil
nama saya. Saya juga tidak bisa menahan perasaan yang enak itu dan berkali
kali menyebut-nyebut nama dia.
Akhirnya dia tidak tahan juga berdiam diri, segera dia memeluk saya dan
membenamkan mukanya ke dada saya. Saya hanya dapat mengelus-elus rambutnya
yang ikal itu. Berkali-kali penisnya saya jepit dan setiap di jepit, saya
juga merasakan enak di dalam vagina. Tapi dia tidak bisa lama-lama, dia
bilang sudah tidak tahan lagi, tapi saya tidak ingin selesai sekarang, saya
sedang benar-benar menikmati punyanya (maaf terus terang bilang
demikian…). Dia takut sperma nya keluar di dalam saya, tapi saya sudah
bilang biar keluar di dalam, aman. Belum sempat saya puas dia akhirnya
keluar juga, terasa berkali-kali keluar dari penisnya.
Saya diam sampai dia tenang, dan sebelum berdiri aku berbisik ke dia, “Aku
pulang dulu ya…”.
Ketika saya keluar apartement nya dia masih duduk di teras. Saya segera
turun dan menuju mobil dan segera pulang.
Malam itu saya di rumah sendirian tidur, tapi tidur dengan nyenyak karena
capai.
Esok harinya saya bangun agak siang. Dan sepulang joging pagi saya baru
ngeh, handphone saya hilang. Saya cari di mobil juga tidak ketemu, saya
khawatir hilang di restoran atau entah jatuh di mana. Akhirnya saya coba
telephone ke handphone saya, lama tidak ada yang mengangkat, tapi setelah
beberapa kali mencoba akhirnya ada yang mengangkat di sana. Suara laki-laki
dengan nada ragu-ragu menjawab. Ternyata itu suara si Doni.
Dia bilang katanya tadi malam hp saya tertinggal di meja tengah dan waktu
pulang lupa mengambilnya. Ketika hp nya bunyi dia ragu-ragu untuk
mengangkat, takut orang lain atau suami saya yang menelphone. Kemudian dia
bilang ada satu lagi yang ketinggalan, dia malu-malu mengatakannya, celana
dalam saya tertinggal di teras rumahnya. Saya jadi geli sendiri. Kemudian
saya bilang nanti agak sore saja saya ambil ke apartement.
Tamat sementara dan akan disambung bagian 2.

2 Responses to “Liburan Akhir Pekan – 1”

  1. abi Says:

    bagus kok cerita nya, aku aja ampe terangsang ,,, hehehehehe… sip,

  2. beny Says:

    hai lam knl enak ya….
    aq mw ko ikutan n diajarin coz aq blom prnh…..
    cahsolo_12@yahoo.co.id


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: