Unforgettable Memories 02

September 17, 2007

“Cind, kamu sayang sama saya?”
Dan saya lihat Cindy mengangguk.
“Boleh saya sayang kamu juga Cind?”
Kali ini Cindy menatap saya dan balik bertanya, “Benar kamu juga sayang sama saya? Gimana sama Rico?”
“Saya akan minta putus sama Rico karena saya benar-benar sayang sama kamu dan saya tidak bisa membina dua hubungan dalam waktu yang bersamaan sekalipun sayang saya ke kamu berbeda dengan sayang saya ke Rico.”

Tiba-tiba Cindy mencium pipi saya dan merebahkan kepalanya di dada saya. Mungkin dia dapat mendengarkan debar jantung saya yang mengatakan betapa bahagianya perasaan saya pada pagi hari itu. Saya membelai rambut Cindy yang tergerai panjang sebahu. Tangan Cindy pun mulai terasa membelai paha saya. Terus terang, saya menyadari kalau saya termasuk type wanita yang mempunyai dorongan sexual yang tinggi. Sedikit saja saya disentuh, saya akan meminta lebih dari itu sampai saya dapat menuntaskan kebutuhan sexual saya, tapi tentunya dengan pacar saya sendiri.

Mendapat belaian tangan Cindy di daerah paha saya, langsung saya menghadapkan wajah Cindy menghadap saya dan saya cium bibirnya. Saya tahu saya yang pertama untuk Cindy dan dia belum tahu caranya berciuman. Maka saya mencoba untuk merangsangnya dengan membuka mulutnya dengan lidah saya dan saya mainkan lidah saya di dalam rongga mulutnya. Saya mengait-ngait lidahnya untuk dapat saya kulum dan saya hisap. Oohh.., nikmat sekali rasa lidahnya dalam kuluman lidah saya, dan Cindy mulai terengah-engah dengan sensasi sexual yang baru pertama dialaminya.

Cindy nampak mulai kehabisan napas ketika saya mulai mengulum dan menghisap lidahnya dengan sangat bernafsu. Tangan saya pun tidak tinggal diam, tapi mulai meraba payudara Cindy yang ternyata cukup besar, yaitu 36B dan saya sendiri 34A. Kami memang tidak pernah memakai BH kalau tidur, jadi saya dapat langsung merasakan kelembutan payudara Cindy di tangan saya. Nafsu saya untuk mengungkapkan perasaan cinta saya ke Cindy telah melupakan perasaan aneh karena memainkan payudara wanita lain. Malah sebaliknya, begitu saya memainkan payudara Cindy yang indah itu, nafsu saya makin bertambah untuk memberikan kepuasan pada Cindy disamping perasaan saya sendiri yang sudah sangat terangsang tentunya.

Cindy dengan napas terengah-engah mendorong saya pelan untuk menghentikan kuluman saya pada lidahnya.
“Gila kamu, saya sampai kehabisan napas kamu ciumin seperti itu.”
“Kamu ngga suka Cind? Kamu marah? Kalau kamu ngga suka, kita ngga usah ngelakuin ini dan hal ini ngga akan ngerubah perasaan saya ke kamu.”
Saya memang agak khawatir kalau-kalau Cindy tidak menyukai hal ini. Tapi ternyata saya keliru.

“Kamu lebih gila lagi kalau kamu pikir saya ngga suka dengan semua yang kamu lakuin ke saya barusan. Saya malah mau bilang untuk jangan pernah berhenti, tapi saya juga mau kamu ajarin saya karena saya pengen bisa nyenengin kamu juga.”
“Saya sendiri baru sekali ini ‘making love’ sama perempuan Cind, pernah ngebayangin pun ngga. Mungkin karena saya sayang banget sama kamu makanya saya bisa ngelakuin ini semua sama kamu. Cindy, boleh ngga saya senengin kamu sekarang ini dan kamu ngga usah mikirin caranya nyenengin saya juga. Kamu nikmatin aja dan kamu ikutin perasaan kamu. Boleh kan sayang?”

Saya mulai memanggilnya dengan kata ‘sayang’ ke Cindy dan dia menyukai panggilan itu yang dipakainya juga untuk memanggil saya. Dia hanya mengangguk sambil melingkarkan sebelah tanganya ke leher saya dan saya dekatkan wajah saya ke wajah Cindy dan saya mulai mencium bibirnya yang sexy dan menggemaskan itu kembali. Tapi kali ini saya kulum dengan perlahan dan tangan saya pun mulai kembali bergerilya.

Sambil mengulum bibirnya, tangan saya mulai saya selipkan di balik kaos tidurnya dan mulai meraba-raba payudara Cindy yang halus terasa di kulit jari-jari saya. Jari-jari saya pun mulai memainkan puting susunya yang sudah mengeras dan Cindy mulai mengerang dan napasnya makin memburu karena rangsangan di puting dan payudaranya.

“Aagh.. Sayang..! Suck my nipples, please.. agh.., please..!” erang Cindy ketika jemari saya dengan lincahnya memainkan puting payudaranya.
Mendengar permohonannya, saya berhenti mencium bibirnya dan tangan saya pun saya tarik keluar dari balik kaos tidurnya. Lalu saya mulai menarik kaosnya ke atas melalui kepalanya dan juga saya tarik celana pendeknya ke bawah beserta dengan celana dalamnya. Sekarang Cindy sudah bertelanjang bulat di depan saya dan saya benar-benar mengagumi badannya yang sintal dan tidak kurus.

Dengan bergegas Cindy pun mulai ikut melepaskan pakaian tidur saya satu persatu hingga kami berdua sama-sama telanjang tanpa sehelai benang pun yang menutupi badan kami. Karena masih dalam musim dingin kami mulai merasa kedinginan, sekalipun badan kami masih di bawah selimut. Saya merengkuh badan Cindy dan memeluknya dengan erat sehingga kami dapat merasakan kehangatan badan kami satu sama lain. Kami kembali berciuman dan puting susu kami saling bergesekan yang memberikan sensasi tersendiri yang membuat kami berdua menjadi lebih terangsang.

Ciuman saya mulai berpindah ke leher Cindy yang putih dan cukup jenjang dan juga sangat menggoda libido untuk menciuminya. Saya mulai menciumi dan menjilati lehernya yang sexy itu. Tangan saya pun mulai kembali menggeranyangi payudara Cindy dengan meraba-raba dan meremas daging yang kenyal dan hangat itu. Cindy mulai kembali terangsang dan megerang, terlebih ketika saya mulai memainkan puting susunya dengan memijat dan memutar-mutarnya. Putingnya terasa makin mengeras dan membengkak di antara jari-jari saya.

Ciuman saya berpindah naik ke daun telinganya yang mulai saya ciumi dan saya jilati bagian dalamnya. Begitu lidah saya menyentuh telinga bagian dalamnya, napas Cindy makin memburu dan terengah-engah. Setelah beberapa saat saya mainkan lidah saya di bagian dalam telinganya, saya rasakan badan Cindy mengejang beberapa saat untuk kemudian melemah. Saya yakin Cindy telah mengalami klimaksnya yang pertama, tapi saya tidak berhenti sampai di situ. Saya ingin pagi itu menjadi hari yang tidak pernah terlupakan bagi Cindy.

Lantas ciuman saya berpindah ke arah payudaranya. Menciumi payudaranya yang kenyal sambil sebelah tangan saya tetap memainkan payudaranya dan juga putingnya yang sebelah lagi. Cindy mulai terangsang kembali ketika saya mulai menciumi dan menggigit perlahan payudaranya yang kenyal itu.

Perlahan-lahan lidah saya mulai saya julurkan dan menjilat putingnya yang sudah sangat mengeras. Cindy menjerit kecil ketika lidah saya menyentuh puting susunya dan mulai terengah-engah ketika saya mulai menjilatinya berulang-ulang dengan intens.
“Aahh.. Sayang, jangan berhenti. Uugghh.., enak sekali Sayang. Aagh..!”
Mendengar rintihannya, nafsu saya makin besar untuk memberikan kepuasan pada wanita yang sangat saya cintai ini.

Putingnya yang berwarna pink dan sudah mengeras mulai saya hisap perlahan dan makin lama makin dalam yang membuat Cindy makin menjerit dan terengah-engah serta mengerang tidak karuan. Semuanya makin menjadi ketika saya mulai menggigit-gigit putingnya dengan lembut. Yang saya kira Cindy akan merasa sakit karena untuk pertama kalinya puting susunya digigit, ternyata malah sebaliknya. Dia menekan kepala saya lebih dalam ke payudaranya dan memohon saya untuk menggigit putingnya lebih keras.

Takut dia akan merasa sakit, tangan saya yang sedang bermain dengan payudara dan putingnya yang sebelah kanan saya arahkan ke selangkangan Cindy yang saya yakin sudah amat basah dengan maksud untuk menambah rangsangan pada Cindy. Dugaan saya benar. Vagina Cindy sudah basah kuyup dengan lendir kewanitaannya yang keluar akibat dari orgasmenya yang pertama dan rangsangan-rangsangan yang masih dirasakannya. Saya ingin sekali mencicipi lendir kewanitaan Cindy, tapi saya ingin membuat lendir itu lebih banyak lagi.

Jilatan di puting payudara Cindy makin sering saya lakukan bergantian dengan gigitan-gigitan lembut dan kasar, dan kali ini ditambah dengan jari-jari saya yang menari di antara bibir-bibir vaginanya. Uugh.. sangat lembab dan hangat vagina Cindy di jari-jari saya, tapi juga begitu sensual yang saya rasakan. Jari telunjuk saya menari berputar-putar di sekitar dan di depan lubang vagina Cindy yang tidak henti-henti mengeluarkan lahar panasnya.

Saya gemas sekali dan ingin cepat-cepat turun ke bawah mencicipi lendir kewanitaannya. Tapi saya juga tahu kalau Cindy ingin mencapai orgasme keduanya dan saya tidak tega untuk menghentikannya dan itu tidak mungkin saya lakukan kepada wanita yang saya cintai ini. Sambil tetap menjilati dan menggigit puting susunya secara bergantian, ujung jari telunjuk saya mengambil cairan lendir kewanitaannya untuk kemudian saya taruh di klitorisnya dan jari telunjuk itu mulai saya mainkan dengan membuat gerakan melingkar di atas klitoris Cindy.

Reaksi Cindy seperti yang sudah saya bayangkan sebelumnya bahwa dia akan menjerit menerima kocokan telunjuk saya di klitorisnya.
“Aaghh.. Sayang, apa yang kamu lakukan..? Ouughh.., just don’t stop it.. Aacch..!”
Badan Cindy mulai bergelinjang dengan hebat dan permainan lidah saya mulai saya tingkatan menjadi hisapan-hisapan dan gigitan yang dalam pada puting payudara Cindy. Cindy begitu terangsang sampai menarik kepala saya lebih dalam ke payudaranya dan juga menjepit jari-jari saya yang ada di selangkangannya.

“Aacchh.. Sayang..!” Cindy menjerit panjang sambil menaikkan pantat dan pinggulnya bersamaan dengan mengalirnya lahar panas dari vaginanya yang turun membasahi jari-jari saya.
Saya tarik jari-jari itu dari selangkangan Cindy dan saya jilat jari telunjuk saya yang basah oleh lendir orgasme Cindy.
Saya bisikkan kata-kata mesra di telinga Cindy yang sedang terengah-engah dan mencoba mengatur napasnya kembali.
“You taste so nice, darling..!” sambil saya ciumi telinga dan leher Cindy.

Beberapa saat kemudian Cindy menggeliat karena helaan napas saya di telinganya. Vagina saya mulai terasa sensitif, basah dan membengkak menahan keinginan saya untuk dicumbu oleh Cindy. Tapi saya tahu bahwa Cindy belum mahir atau mungkin belum tahu caranya. Tapi sialnya, Cindy menjamah vagina saya dengan jari-jarinya yang membuat saya sedikit terkejut dan mengejang menerima sentuhannya. Cindy pun ternyata kaget mendapati vagina saya sudah bengkak dan sangat basah.

“Sayang, punya kamu udah basah banget kaya vagina Cindy. Boleh ngga Cindy lakuin kaya yang kamu lakuin ke Cindy tadi..? Please..?”
“Boleh, asal memang kamu juga mau ngelakuinnya dan bukan cuman karena pengen nyenengin saya.”
“Kok kamu ngomongnya gitu sich, Sayang. Kalau Cindy mau ngelakuin yach karena Cindy sayang sama kamu dan Cindy cuman mau kamu ngerasain senang cuman dari Cindy seorang dan bukan dari orang lain.”

Cindy tidak lagi menunggu jawaban saya, tapi langsung menyambar mulut saya dan melumat bibir saya dengan penuh nafsu. Ternyata Cindy seorang ‘Quick Learner’ karena ciuman, lumatan dan hisapan lidahnya di dalam mulut saya begitu merangsang dan saya tidak sanggup untuk menunggu lebih lama lagi. Tangan Cindy saya raih dan saya letakkan di payudara saya. Cindy mengerti maksud saya.

Sambil menghisap lidah saya, Cindy mulai meremas payudara saya dan memainkan kedua puting saya bergantian.
“Uughh.. ach.. Sayang, please..! Bite my nipples, please..!”
Cindy langsung menurunkan mulutnya untuk kemudian melumat puting payudara saya yang sudah benar-benar mengeras.
“Ach.. Sayang, oh ya Sayang..!” kata-kata itu berulang kali saya ucapkan ketika mulut Cindy mulai menjilati dan menghisap dalam puting payudara saya bergantian dengan gigitan-gigitannya.

One Response to “Unforgettable Memories 02”

  1. e1 Says:

    nice story n experienced for both of you. as long as you both doing it with feeling…….keep doing it.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: