Petualangan Ari III: Dengan Mbak Vidya

Tante Hani tinggal di daerah Jakarta Timur di sebuah kompleks mewah. Om Hari, suaminya adalah pengusaha sukses yang memiliki beberapa hotel yang tersebar di berbagai tempat di Indonesia. Tante Hani 6 tahun lebih tua dari ibuku. Tante Hani adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ibu anak ke tiga, Kakak kedua ibuku bernama Tante Lidya berusia 4 tahun lebih tua dari ibu dan adik ibu Tante Alya dua tahun lebih muda dari ibu.

Seperti kisahku sebelumnya, kisahku dimulai ketika aku berusia 13 tahun. Aku mendekati ibu dalam usaha menidurinya selama lebih kurang setahun. Dan hanya sebulan aku menikmati hubungan dengan ibu sehingga ibu hamil. Saat itu ibu yang melahirkanku pada usia 18 tahun, berusia 32 tahun. Berarti, usia para tanteku saat cerita ini adalah Tante Tante Hani 38 tahun, Tante Lidya 36 tahun dan Tante Alya 30 tahun.

Mengenai Tante Lidya dan Alya akan aku ceritakan pada kisah yang terpisah.

Kini kembali ke Tante Hani. Tanti Hani telah menikah selama 19 tahun, pada saat ia berusia 19 tahun. Seperti halnya dengan keluarga kami, Tante Hani hanya memiliki satu anak. Anak sulung mereka bernama Mbak Vidya yang kini berusia 18 tahun. Sudah kelas tiga SMA. Sementara, Om Hari berusia 45 tahun.

Om Hari memiliki empat orang isteri. Maklum, orang kaya. Tante Hani adalah istri tertuanya. Tiga isteri lainnya tidaklah penting diceritakan. Yang patut diketahui adalah karena isterinya yang banyak inilah, maka Om Hari tidak setiap hari ada di rumah yang Tante Hani tinggali. Malahan, pada saat kisah ini diceritakan, yaitu sewaktu aku menginap, Om Hari sudah jarang sekali berkunjung. Hal ini yang menyebabkan Tante Hani menelpon ibu waktu itu.
Tante Hani lebih tinggi dari ibu. Sekitar 168 cm. Badan Tante Hani lebih berisi, dengan perut yang sedikit buncit, namun tidak berkesan gendut. Lengannya juga lebih gemuk dari ibuku. Namun, dadanya sangat besar. Ukurannya (yang kuketahui setelah mendapatkan dia) adalah 36 C. Sungguh stw tobrut. Kulit Tante Hani juga putih. Semua saudara kandung ibu memiliki kulit yang putih. Namun harus kuakui, walaupun wajahnya chubby, tapi tak kalah cantik dengan ibuku. Apalagi selain mancung seperti ibu, Tante Hani memiliki bibir yang tipis dan sensual. Walaupun rahangnya tidak setinggi ibu, namun dagu Tante Hani lancip menggemaskan. Singkat kata, wajah yang sensual.

Membayangkan Tante Hani ketika mobil kami hampir sampai ke rumahnya, membuatku horny. Saat itu sudah sekitar jam setengah tujuh malam. Aku membujuk ibu untuk parkir dulu di sebuah danau besar dekat komplek Tante Hani yang memiliki banyak tempat teduh. Banyak juga mobil ataupun motor yang parkir berjauhan di sana-sini, karena kudengar dari orang kompleks bahwa danau itu lokasi orang pacaran bahkan ada juga yang menyewa pelacur dan melampiaskan birahi di situ.

Aku ingin melampiaskan syahwat dulu dengan ibu, ibu mula-mula tidak mau, namun aku membujuknya dengan alasan aku tak punya kesempatan lagi kalau sudah nginap di rumah Tante Hani dan akhirnya ibupun mengalah. Jok depan kami turunkan dan kami beringsut ke kursi belakang sedan kami setelah ibu memarkir di pojokan jalan yang dinaungi pohon-pohon rimbun.

Ibu saat itu memakai blazer dengan tank top di dalamnya, dan rok selutut. Tak sabar aku melucuti blazer, tank top dan BH ibu. Ketika aku hendak membuka roknya, ibu melarang. Alih-alih membuka rok, ia membuka celana dalamnya tanpa membuka roknya.

“biar gampang masangnya lagi. Kamu buka celana aja. Baju ga usah. Supaya gampang juga.” kata ibu. Aku menurut saja dan beberapa detik kemudian bagian bawahku polos sementara ibu telanjang kecuali roknya yang ia tarik ke pinggang.

Dalam keremangan bulan Purnama, ibu terlentang di kursi belakang mobil dengan kepala di bagian kanan mobil, kaki kirinya tertekuk membuka bersenderan dengan bagian tegak kursi sementara kaki kanannya menginjak pinggiran kursi. Ibu sudah siap mengengkang di kursi sambil tiduran menunggu serangan anak tunggalnya.

Aku segera menindihnya dan mencecar bibir ibu yang merekah dengan buas. Kedua tanganku memeluk ibu keras dengan kedua telapak memegang pinggir kepala ibu, ibu jari di telinganya. Dalam sela-sela ciuman, ibu berkata,

“badan kamu panas banget. Kamu udah horny banget ya, Ri? Dasar anak kurang ajar….. nafsu sama ibu sendiri…”

Nafas ibu yang segar aku hirup dalam-dalam sehingga bau nafas ibu dan sedikit bau tubuh ibu masuk ke relung penciumanku. Semenjak kami rutin bersetubuh, aku selalu minta ibu untuk tidak memakai parfum ketika bersamaku, sehingga hidungku saat ini juga dapat samar-samar mencium bau tubuh ibu yang sangat kusukai itu. Kontolku yang sudah keras kupalangkan sejajar dengan garis bibir memek ibu. Kurasakan sudah lembab kemaluan ibu. Kami berciuman cukup lama sementara selangkangan kami asyik masyuk bergesekkan yang makin lama menyebabkan lubang surgawi ibu mengeluarkan cairan kewanitaannya.

Berhubung mesin mobil mati, AC pun mati. Maka tak lama, peluh kami berdua mulai bercucuran. Suasana dalam mobil yang panas ditambah situasi kami berdua yang sedang menikmati birahi membuat apa yang kami berdua rasakan sangat sensual dan hot. Bau tubuh ibu yang keluar dari kedua ketek indah ibu makin lama makin tajam pula. Bau yang sama yang kini mulai santer tercium yang berasal dari vagina ibu yang basah. Dari pengalamanku, aku tahu ibu sudah horny berat juga sama sepertiku.

Nafsuku begitu tingginya sehingga kini mulutku tak hanya menciumi bibirnya, tapi seluruh wajah ibu aku jilati, hisapi, kecupi dan ciumi. Bagian lehernya tak lupa kuselomoti, aku ingat untuk tidak mencupang, karena takut Tante Hani nanti curiga. Kemudian aku menarik tangan kiri ibu ke atas sehingga menyandar di pintu mobil. Serta merta ketek ibu yang wangi alami itu terbuka mempertontonkan bulu ketiak yang tercukur rapi namun tidak sampai gundul. Bulu-bulu ketek ibu tampak kecil-kecil dan tajam menghiasi keteknya yang putih.

Dengan penuh nafsu kujejalkan hidungku ke tengah ketek ibu yang mengeluarkan bau perempuan yang khas. Aroma tubuh ibu begitu nikmatnya kusedoti hingga masuk ke rongga penciumanku, merangsang syaraf-syaraf indera penciumanku, makin membekas di memori dalam syaraf-syaraf sinaptik dalam otakku, membuat rasa cintaku kepada ibu lebih dalam dan luas. Membuatku tak puas-puasnya menikmati kebersamaan dengan ibu, tak puas-puasnya menghirup aroma tubuh ibu, tak puas-puasnya menikmati kehangatan tubuh ibu. Ibu adalah dahagaku yang tak dapat aku puaskan.
Sementara tangan kiriku mulai meremasi tetek kanan ibu yang besar dan kenyal. Kulitnya yang halus, licin dan basah begitu nikmatnya terasa di telapakku, sementara jari telunjuk kananku menjelajahi mulut ibu yang membalas dengan menjilati dan menyedoti jariku itu.

Setelah beberapa menit menikmati harum ketek ibu, aku mulai menjilati seluruh ketiak ibu. Rasa asin dan getir di lidahku ditambah gelitik bulu-bulu ibu yang pendek dan tajam, kembali mengirimkan sinyal kenikmatan dalam otakku. Seluruh akalku kini tertuju kepada keindahan bentuk dan aroma tubuh ibu. Seluruh otot dan syarafku kurasakan bersiaga penuh. Sekujur kulitku yang menempel di kulit ibu yang basah dan hangat seakan dapat aku rasakan sekaligus. Ibuku bagaikan kulitku yang kedua. Keindahannya dapat aku rasakan di sekujur tubuh.

Saat itu kami berdua sudah basah kuyup oleh keringat. Pada bagian kulit kami yang saling menempel, peluh kami bercampur menjadi satu, tanda bahwa ini adalah permulaan, permulaan percampuran yang lebih indah lagi. Dan ibu tampaknya tidak sabar menunggu percampuran yang terindah itu, karena tangan kanannya telah menggenggam kontolku saat itu dan menariknya ke lubang memeknya.

Kepala kontolku tahu-tahu sudah menancap di ujung lingkar lubang memek ibu yang sudah banjir oleh cairan pelumas dari ibu di tambah keringat kami berdua. Aku tak tahan dan segera menghujam lubang kencing ibu dalam-dalam dengan kontolku yang sudah tegang itu. Dalam satu gerakan cepat kemaluan kami berdua sudah bersatu hingga selangkangan kami menempel tanpa ada jarak lagi.

Kami berpelukan ketika kontol dan memek kami bersatu lagi dan bersama-sama mendesah keras karena sensasi ini. Kami akhirnya menjadi satu tubuh tanpa ada yang menghalangi. Kulit dengan kulit, otot dengan otot. Otot vagina ibu membungkus secara sempurna seluruh otot kemaluanku. Lubang surgawi ibu memang surga bagi kontolku. Begitu sempit, hangat dan licin.

Aku selama ini berasumsi bahwa setelah kami sering bersetubuh, memek ibu seiring waktu tidak akan seketat pertama kali kami ngentot. Tapi, tidak begitu kenyataannya. Vagina ibu selalu saja sempit. Mula-mula kukira karena otot memek ibu yang selalu elastis dan kembali ke ukurannya, tetapi, ternyata aku salah. Ketika pertama kali aku mengukur penisku (setahun yang lalu), penisku sepanjang 13 cm. tapi ketika beberapa hari yang lalu aku ukur, ternyata kini panjangnya hampir 15 cm. rupanya penisku masih dalam pertumbuhan. Ini mungkin yang menyebabkan sensasi persenggamaan dengan ibu selalu bagaikan saat pertama kami bersetubuh. Ketika ibu kuberitahu, ibu tertawa dan berkata ukuran penis ayah 13 senti. Jadi saat ini, penisku sudah lebih panjang, bahkan diameter penisku kini sudah jauh lebih besar dari ayah. Aku selalu bangga dengan fakta ini.

“Ohhhhh Ariiiii….. kontol kamu enak banget sayaaanggg… memek ibu jadi penuh rasanya….. hmmmmmm genjot memek ibu lebih keras lagi sayaaangg…. Gagahi terus ibu…… gesek terus kontol kamu dalam-dalam…..”

Aku memperkeras sodokanku sehingga kontolku menghujam vagina ibu lebih kuat. Ini menyebabkan suara benturan selangkangan kami mulai membahana di dalam mobil. Aku sudah tak peduli bila mobil kami dilihat orang lain bergoyang-goyang. Yang jelas aku hanya konsen menikmati tubuh ibuku yang seksi ini.

Kami berdua selalu menatap mata satu sama lain bila kami mengoceh ketika kami bersenggama. Kami saling berbicara jorok sambil bertatapan untuk kemudian diselingi berciuman atau salah satu kami menjilat atau menciumi atau menyupangi bagian tubuh kami yang lain untuk kemudian meneruskan pembicaraan kotor kami.

Sambil menatap ibu aku berkata, “memek ibu hangat dan sempit. Nikmat banget Ari rasakan”

“dasar bandel! Kamu suka memek ibu kamu sendiri. Ibu yang ngelahirin kamu. Yang ngerawat kamu.”

“Iya… Ari lahir dari tubuh ibu lewat memek ibu yang legit. Sekarang Ari kembali masuk dalam tubuh ibu juga lewat memek ibu…. Ibu memang perempuan yang paling sayang sama Ari… semuanya dikasih untuk Ari… bahkan memek ibu yang suci dan indah juga dikasih untuk Ari…. Ari mencintai ibu luar dan dalam….”

Lalu aku mencium bibir ibu. Ibu membalas tak kalah hot-nya. Lidah kami menarikan tarian rujak bibir yang sangat basah hingga ludah kami tak hanya bertukaran di mulut tapi terkadang merembes keluar, seirama dengan tarian persenggamaan yang sedang berlangsung di bagian bawah antara kontol mudaku dan memek dewasa ibu.

Terkadang kami bertukaran ludah bukan dengan jilatan-jilatan saja. Aku perlahan meludahi mulut ibu dan ibu membuka mulut dan mengeluarkan lidahnya menyambut air liurku. Ketika air liurku jatuh di lidah ibu, ibu akan memainkan lidahnya dalam mulut sehingga ludahku tersebar di relung mulutnya, gigi, langit-langit dan gusinya untuk kemudian ia telan dengan gerakan yang amat erotis.

Terkadang lidahku menjelajahi wajahnya. Bahkan lubang hidung ibu kuentot dengan lidahku. Dapat kurasakan bulu hidung dan dinding hidung ibu di lidahku. Terkadang telinga dan lubangnya yang kugagahi dengan lidahku. Singkat kata seluruh wajah ibu dan rambutnya pernah kurasakan dengan lidahku.

Bahkan di rumah, pernah aku sejam hanya menjilati ibu dari ubun-ubun sampai ujung jempol kakinya. Seluruh tubuh ibu telah kurasakan dengan mulut dan lidahku. Tidak ada satu titik pun yang terlewati. Aku tahu rasa kulit ibu di seluruh tubuhnya. Tubuh ibu adalah idamanku. Tubuh ibu adalah hidupku. Aku tak dapat hidup tanpa ibu.

Hubungan seksual kami memang selalu intens. Bahkan ketika kami tidak bersetubuh, kami selalu mengeksplorasi tubuh satu sama lain. Pernah kami saling menjilat lidah dengan posisi tiduran dengan kepala kami yang terbalik satu sama lain sehingga ujung lidah atas kami bertemu dan kami lakukan hampir setengah jam. Terkadang aku di atas terkadang ibu yang di atas. Aku paling suka bila aku di bawah kala kami saling menjilati lidah dengan posisi itu, karena air liur ibu akan jatuh ke mulutku. Dan aku suka rasa maupun aroma ludah ibu.

Bahkan ketika makan, kami pernah melakukan sambil kontolku di dalam memek ibu. Kami makan di ruang tamu di mana mejanya rendah. Dengan tubuh kami yang menyamping, lengan kami sejajar dengan meja dan piring makan di meja persis di samping kami. Aku duduk di lantai dengan kaki melonjor sementara ibu menduduki kontolku dengan memeknya, kedua kakinya menjepit pinggangku dengan posisi duduk kaki di tekuk. Kami tidak ngentot, tapi kami makan dengan kemaluan kami bersatu.

Ibu akan mengunyah makanan tanpa menelan lalu melolohkan makanan di mulutku bagaikan induk burung menyuapi anaknya. Ini memang ideku. Ibu akan menyuapi aku sampai habis makanan di piring dengan cara ini.

Kemudian giliran ibu yang aku suapi. Ibu akan sedikit merebah di lantai dengan kedua siku menyangga tubuhnya, sementara kepala ia senderkan di kaki sofa sehingga tubuhnya akan melengkung agar aku mudah mencapai mulutnya dengan mulutku. Lalu aku akan gantian melolohkan makanan dari mulutku ke mulutnya. Barulah setelah kami selesai makan, aku akan mengentoti ibu di lantai setelah ibu beringsut merebahkan kepalanya di lantai.
Setiap hari ibu akan mengerjakan tugas dirumah bugil. Begitu juga aku. Seringkali aku menyetubuhinya dari belakang ketika ia cuci piring, atau mengentoti ibu dengan posisi doggy ketika ia sedang mengepel lantai. Sering pula ketika kami menonton TV, aku akan menghisapi puting dan tetek ibu sebelum akhirnya bersetubuh setelah kami horny.

Bahkan ketika kami berdua sudah lemas dan tak mampu lagi berhubungan seks dan bersiap tidur, aku akan menciumi, menjilati, mencupangi, menghisapi, meremas-remas sekujur tubuh ibu. Bagian yang sering aku kerjai adalah payudara dan vagina ibu, tentu saja.

Itulah kenapa akhirnya ibu hamil. Tak ada satu haripun lewat tanpa kami bersetubuh. Bahkan rekor kami dalam sehari pernah sepuluh kali kami melakukannya. Entah sudah berapa ratus kali kontolku menembakkan spermanya dalam rahim ibu, entah berapa juta spermaku yang berenang dalam tubuh ibu mencari sel telurnya. Melihat statistik seperti itu, tak heranlah bahwa aku dapat menghamili ibu dalam waktu hanya sebulan.

“Aaaahhhhhhhhh……. Kontol kamu enak bangeeeet…….. gedeeee…… keraaaasss…… terus Ri…. Entoti ibu…. Entoti ibu keras-keras…… kontolmu emang hebaaattt…….. ibu cinta kontolmu, Ri……”

“Memek ibu legit……. Indah….. cantik…… seluruh tubuh ibu indah…… wangi lagi…… biar ga mandi tetep aja ibu haruuummm….. Ari mencintai ibu…… Ari mau jadi suami ibuuuuuu….”

“Kamu udah jadi suami ibu, riiiii….. kamu sudah menghamili ibumu sendiriiii…. Ibu sudah jadi isteri kamu, Riiiiii……”

Kini mobil kami sudah bergoyang dengan hebat. Kami saling menumbukkan selangkangan dengan keras dan cepat. Kami sudah tidak berciuman lagi, karena mulut kami mengeluarkan lidah di mulut yang terbuka dan lidah kami bagaikan bertarung saling menjilat dengan brutalnya sambil terkadang salah satu dari kami berbicara dan yang lainnya tetap menjilat dan sebaliknya.

“kontol anakmu enak, bu? Enak dientot anak sendiri, bu?”

“enak, ri…. Enak…… goyang ibu yang keras, rii….”

Akhirnya, dalam waktu yang sama kami berdua berteriak keras saat orgasme melanda. Spermaku berhamburan masuk ke rahim ibu seakan tak mengerti bahwa mereka tidak berguna, karena rahim itu sudah mempunyai penghuni, dan tidak ada lagi sel telur yang dapat dibuahi….

Akhirnya kami sampai juga di rumah Tante Hani. Saat itu sudah pukul 8 lewat. Mbak Vidya yang membukakan pintu. Mbak Vidya itu tinggi seperti Om Hari. Tingginya sekitar 170 cm. Kulit Mbak Vidya putih dan hidungnya mancung, namun matanya sedikit sipit. Walaupun dadanya tidak sebesar ibu atau Tante Hani, tapi dada itu mancung dan proporsional untuk tubuh langsingnya. Ukurannya 36 A.

Tak beberapa lama kami semua makan. Tante Hani dan ibu asyik berbicara, sementara ada keheningan di antara aku dan Mbak Vidya. Setelah kami selesai makan, ibu dan Tante Hani beranjak ke sofa dan menyuruh kami untuk jangan mengganggu mereka karena ada yang ingin dibicarakan. Mbak Vidya menemaniku dan mengajakku ngobrol di kamarnya sementara aku dengan malu-malu menjawab sedikit-sedikit. Ada ceritanya kenapa aku malu-malu.

Sedari dulu, Tante Hani dan Ibu memang dekat. Seringkali di akhir pekan saling mengunjungi sehingga aku dan Mbak Vidya juga lumayan dekat. Aku sudah naksir Mbak Vidya jauh sebelum aku mulai terobsesi dengan ibu. Pertama-tama aku hanya merasakan sangat sayang selayaknya seorang adik kepada kakaknya. Namun semenjak kelas 6 SD tiga tahun yang lalu, saat pergaulanku di sekolah mulai membuat aku tahu mengenai pacaran dan ciuman, aku mulai melihat Mbak Vidya secara lain. Ingin sekali aku mencium bibirnya yang mungil dan merah itu. Apalagi Mbak Vidya yang berusia 17 tahun mulai menunjukkan tubuh seorang gadis. Kedua payudaranya sudah membentuk dan terlihat menggunung. Aku yang sebelumnya tidak menyadari, menjadi sadar penuh bahwa Mbak Vidya adalah gadis yang seksi.

Saat itu aku dan ibu sedang menginap di rumah Tante Hani. Masih teringat jelas olehku saat itu aku sedang menemani Mbak Vidya yang mengerjakan tugas di komputernya. Komputer itu ditaruh di meja yang rendah sehingga tidak perlu menggunakan meja. Mbak Vidya saat itu memanggilku karena ia hendak mengajariku cara menulis dokumen menggunakan Microsoft Word.

Aku bersimpuh menyamping di belakang Mbak Vidya namun agak ke kanan agar aku bisa melihat layar computer. Saat itu sore hari, Mbak Vidya baru saja mandi dan menggunakan daster bertali tipis. Bukan daster tembus pandang, hanya daster anak remaja biasa bermotif kotak-kotak. Namun dengan posisiku saat itu, kepalaku tepat di sebelah kanan pundaknya namun dari belakang. Hidungku berjarak sekitar 20 cm dari lengan telanjangnya. Tubuh Mbak Vidya begitu harum.

Sambil bekerja, Mbak Vidya menjelaskan banyak hal yang sedikit sekali kudengar. Yang jelas, entah kenapa aku mulai berani mendekatkan kepalaku sedikit demi sedikit ke pundaknya. Kehangatan badan Mbak Vidya mulai kurasakan selain panasnya suhu tubuhku sendiri yang dipacu oleh debaran jantungku yang mulai menggila.

Sedikit demi sedikit hidungku mendekat. Akhirnya dalam gerakan cepat, hidungku bersentuhan dengan pundak lengannya yang halus, namun secepat itu pula aku menarik kepalaku. Mbak Vidya Nampak sedikit terkejut dan menoleh ke arahku, sementara aku pura-pura manggut-manggut dan melihat layar computer.

Mbak Vidya kembali menatap layar dan aku menjadi lega. Namun di lain pihak, aku menjadi horny dan ingin kembali merasakan kehalusan kulit kakak sepupuku itu. Aku mendapat ide. Aku segera mendoyongkan badan kedepan sehingga daguku menempel di pundaknya sedikit sambil menunjuk layar monitor dan bertanya,

“Itu yang namanya kursor ya? yang kelap-kelip itu?”

Mbak Vidya kemudian mengangguk dan menjabarkan kegunaan kursor kepadaku. Sementara aku hanya berfokus kepada daguku yang menempel di pundaknya. Mbak Vidya tidak curiga apa-apa. Ia terus bekerja sambil kadang menjelaskanku mengenai office. Lama-kelamaan aku beringsut ke samping Mbak Vidya dan menggelayutkan daguku di pundaknya.

“kenapa dek?” katanya sambil menoleh ke belakang yang membuat pipinya hampir tabrakan dengan hidungku.

“Ari kan pendek, Mbak. Kalo ga berjingkat ga kelihatan. Cuma kalo naruh dagu di pundak gini jadi pegel juga. Soalnya harus berlutut. Gimana kalo Ari peluk dari belakang aja terus nyender ke Mbak Vidya?”

“Ada-ada saja, kamu. Terserah gimana enaknya aja,” jawabnya tanpa menaruh curiga.

Aku dengan senang hati merubah dudukku. Kini kedua kakiku mengangkang mengapit tubuhnya dari belakang, namun tidak sampai kena. Malu juga kalau batangku yang sudah keras dirasakan Mbak Vidya menekan tubuhnya. Namun kedua tanganku melingkari perutnya dari belakang dan karena aku pendek, maka kini hanya mataku yang melewati pundaknya. Sementara hidungku sudah dekat sekali dengan pundak Mbak Vidya. Bahkan nafasku yang hangat dapat aku rasakan terpantul pundak putihnya yang mengkilat bagai porselen cina.

Tubuh Mbak Vidya harum sekali. Aku menjadi lupa daratan, sementara aku tidak dengar lagi suara indah Mbak Vidya sedang berbicara padaku sambil mengetikkan essay yang adalah pekerjaan rumahnya. Sedikit demi sedikit hidungku mendekati pundaknya. Ini berarti bibirku juga mulai mendekat. Entah berapa menit aku tidak menyadari hingga akhirnya hidungku menempel pundak kanan Mbak Vidya dan bibirku perlahan menyentuh juga pundak belakang Mbak Vidya.

Mbak Vidya menggigil pelan.

“Ih Adek…. Geli tau…..” katanya. Tapi ia tidak melarangku melainkan meneruskan pekerjaannya.

Aku menikmati wangi tubuhnya dan betapa halusnya pundak Mbak Vidya. Selama beberapa saat aku asyik terdiam dengan hidung dan bibir menempel di pundaknya sampai baru menyadari bahwa Mbak Vidya tidak lagi berbicara melainkan hanya mengetik saja.

Ingin sekali aku membenamkan wajahku dalam-dalam di pundak Mbak Vidya namun aku tidak berani. Kami terdiam beberapa lama dengan Mbak Vidya yang mengetik sambil dipeluk olehku dengan pundak yang tempel dengan hidung dan bibirku. Aku kini bernafas di pundak Mbak Vidya dan Mbak Vidya tampak tidak terganggu. Namun, kenikmatan ini berakhir ketika kami mendengar Tante Hani memanggil untuk makan malam. Dalam kecanggungan kami memisahkan diri.

Hari itu kami tidak saling berbicara. Ada keanehan yang menggantung. Namun, semenjak saat itu, Mbak Vidya menjadi obsesiku dan rasanya aku ingin sekali bertemu dengannya setiap hari. Minggu depannya aku bujuk ibu untuk menginap lagi di rumah Tante Hani dan ibu setuju.

Ketika aku datang, Tante Hani bilang Mbak Vidya baru saja naik ke kamarnya untuk mengerjakan PR Komputer. Aku senang sekali. Entah kenapa sebagai anak kecil aku tidak ada rasa takut saat itu, tapi itulah yang terjadi. Aku bergegas ke kamarnya dan mendapati dia sedang asyik mengetik. Betapa bahagianya aku ketika melihat Mbak Vidya mengenakan tank top dan celana pendek, rambutnya yang sebahu diikat melingkar di belakang kepala. Berarti ada kesempatan cium pundaknya lagi, bahkan lehernya kini terbuka.

“Lagi ngapain Mbak?”

“Ini lagi main Friendster (saat itu belum ada Facebook).”

“Friendster? Aplikasi baru ya? ajarin donk….”

Mbak Vidya tertawa pelan dan berkata, “sini Mbak ajarin. Duduk di belakang Mbak kayak kemarin.”

Aku segera memposisikan diri seperti kemarin dan memeluknya. Tak lama aku mulai bernafas di pundaknya lagi. Sejak saat itu kami selalu “belajar” computer. Dan aku sungguh amat senang menginap di rumah Tante Hani.

Tentu saja terkadang mereka menginap di rumah kami, dan berhubung aku juga punya computer, maka aku selalu meminta ia mengajariku dan ia selalu bersedia.

Pada mulanya aku hanya berani bernafas di satu tempat, namun setelah beberapa bulan, aku mulai berani memindahkan hidungku ke samping. Hanya sesekali. Session kami biasanya berlangsung sejam. Dalam sejam itu aku mungkin hanya pindah lima kali. Setelah enam bulan lebih aku berani pindah ke pundaknya yang kiri. Lucunya, akhirnya Mbak Vidya sudah tidak lagi mengajariku computer, karena setelah beberapa bulan, dia hanya berdiam saja di depan computer. Komputernyapun tidak dinyalakan.

Satu bulan setelah itu, aku mulai berani memindahkan hidung dan mulutku beberapa kali secara perlahan dalam waktu yang agak lama. Pada bulan ke delapan aku mulai tidak sabar dan akhirnya memutuskan untuk mulai memindahkan mulut dan hidungku lebih banyak lagi sehingga akhirnya mulai terlihat seperti orang yang menciumi pundak.

Masuk bulan berikutnya, ketika kami masuk kamar, Mbak Vidya duduk di pinggir tempat tidur, membuatku merasa lebih berani dan tentunya lebih horny lagi. Lalu aku mulai mengendusi dan mengecupi pundak Mbak Vidya. Aku hanya berani mengecup perlahan. Namun kecupan pertamaku membuat Mbak Vidya menarik nafas karena terkejut, namun ia tidak marah.

Lucunya, kami tidak bertindak lebih jauh. Aku tidak berani lebih jauh karena sebenarnya aku takut Mbak Vidya akan marah lalu menghentikan kegiatan kami. Namun kami berduapun tahu menyadari bahwa hubungan kami ini sudah lebih dari hubungan saudara sepupu. Hubungan kami kini dihiasi oleh sensualitas terlarang.

Terakhir kami melakukan itu adalah ketika sekolah telah berakhir dan liburan sekolah sudah dimulai.

Kala itu kami sudah masuk ke kamar Mbak Vidya. Ia memakai baju you can see yang mini sehingga tak hanya pundak dan bagian atas tubuhnya yang terbuka, namun baju itu sangat pendek sehingga memperlihatkan pusarnya. Aku langsung mengambil tempat di belakang Mbak Vidya di atas bantal sehingga kini daguku sejajar dengan pundaknya dan memeluknya lagi seperti tempo hari. Saat itu kepalaku tepat di belakang kepala Mbak Vidya.
Baru aku sedikit memposisikan kepalaku miring kearah pundak, Mbak Vidya bersender ke belakang sehingga tahu-tahu hidungku dan leher Mbak Vidya bergesekkan. Ada suara lirih dari mulutnya. Kedua tangan Mbak Vidya mendekapku perlahan. Baru kali ini ia mendekapku dan bersandar. Aku saat itu horny berat, apalagi Mbak Vidya terlihat sudah pasrah.

Tanpa menyadari, aku mengenyoti leher jenjangnya. Mbak Vidya mendesah-desah. Aku asyik mencupang dan menjilati lehernya yang halus itu. Beberapa saat kemudian Mbak Vidya mulai menoleh ke arahku dan kemudian menciumi jidatku yang kini sejajar bibirnya. Tangan kanannya tiba-tiba mendekap kepalaku dari belakang. Sentuhan dan ciumannya membuatku gelap mata.

Tangan kananku yang tadi didekapnya kini terbebas, sementara tangan kiriku masih didekap tangan kirinya. Aku meremas toket Mbak Vidya dari luar bajunya dengan tangan kananku. Tahu-tahu Mbak Vidya memutar badannya lalu menindih aku secara cepat.

Aku untuk sementara terkejut dan terdiam, namun Mbak Vidya tak menunggu lama untuk mencium bibirku. Ia mengecupi bibirku beberapa waktu sebelum kurasakan lidahnya menyapu bibirku berkali-kali.

“Dek…” katanya,” kamu belum pernah ciuman?”

Aku hanya menggeleng. Lalu Mbak Vidya mengajariku berciuman. Setelah kursus singkat yang hanya sekitar dua menit, ia menyerang bibirku lagi. Kali ini aku membuka mulut seperti yang dia ajari dan menjulurkan lidahku.

Kami melakukan French kiss dengan penuh nafsu. Kami saling berpelukan erat sementara bibir dan lidah kami bertarung bagaikan dua ular yang berusaha saling melibat satu sama lain. Ludah kami saling bertukaran dalam badai asmara kami berdua. Aku menyusupkan kedua tangannya ke balik baju Mbak Vidya dan mencari pengikat BHnya. Saat aku temukan aku tidak dapat membukanya karena aku belum pernah melakukan ini.

Pada saat Mbak Vidya melepaskan ciumannya dan mengangkat tubuhnya untuk duduk di kedua pahaku, ia meraih ke belakang tubuhnya untuk membuka bra yang ia miliki. Saat itu tiba-tiba terdengar suara Tante Hani memanggil Mbak Vidya dan dari suaranya Tante Hani, Tante Hani sudah di depan pintu.

Secara cepat Mbak Vidya meninggalkan tubuhku yang ia duduki untuk kemudian duduk di pinggir ranjang. Dan benar saja, pintu terbuka dan Tante Hani masuk.

“Vid, pacarmu Indra telpon tuh.”

Aku kaget sekali mengetahui bahwa Mbak Vidya sudah punya pacar. Aku selama ini mengira Mbak Vidya dan aku sudah pacaran karena kami begitu dekat. Ternyata aku salah. Perasaanku langsung galau dan kecewa.

Setelah Tante Hani keluar kamar, aku segera meninggalkan kamar itu juga tanpa bicara apapun pada Mbak Vidya.

“Ari…….” Panggil Mbak Vidya lirih, namun aku tidak menjawab dan keluar kamarnya tergesa-gesa.

Hari itu aku tidak mau bicara dengan Mbak Vidya. Lalu aku memohon untuk pulang. Ibu menurut saja. Sorenya kami pulang. Ibu berusaha mengorek keterangan dariku mengenai sebab aku murung seperti itu, aku hanya terdiam saja. Akhirnya ibu tidak memaksaku bicara.

Semenjak saat itu aku selalu tidak setuju bila ibuku mengajak ke rumah Tante Hani. Dan obsesiku beralih kepada ibuku. Berkali-kali Mbak Vidya telpon namun aku tidak mau bicara dengannya. Aku sudah punya inceran baru yaitu ibuku sendiri.

Kembali kepada saat aku untuk pertama kalinya datang ke tempat Tante Hani semenjak insiden dulu, seperti yang diceritakan di awal, Mbak Vidya mengajakku ke kamar. Aku menurut saja, lagian aku juga sudah mulai horny.

“Dek, kamu kok jahat? Ga mau ke sini lagi. Juga ga mau terima telpon dari Kakak?”

Aku hanya terdiam tak tahu harus buat apa.

“Kakak tahu kamu cemburu. Dulu Indra memang pacar Kakak. Tapi sudah kakak putusin kok.”

Melihatku yang masih terdiam Mbak Vidya berkata,

“Kakak sama Indra hanya ciuman saja. Paling dipegang-pegang. Ga lebih kok. Kakak kan lebih sayang sama kamu.”

Mbak Vidya saat itu memakai tank top putih. Tali dasternya tidak menunjukkan tali BH di baliknya, tapi pentilnya tidak terlihat. Jadi mungkin ia memakai BH tanpa tali. Namun melihat belahan dadanya yang terlihat di antara kedua payudaranya yang terlihat lebih besar dari tahun lalu, mau ga mau kontolku menjadi maksimal kekerasannya.

Aku tak tahu harus bicara apa, namun melihat cara Mbak Vidya berbicara, aku tahu bahwa ia juga memiliki perasaan yang sama denganku.
Aku segera memeluk Mbak Vidya dan melumat bibirnya. Mbak Vidya awalnya terkejut, namun tak menunggu lama, ia balas memeluk dan menciumku. Lama juga kami saling ber‘silat’ lidah. Setelah beberapa menit bertukaran ludah, aku menyelusupkan tanganku ke balik tank topnya dan mengusap-usap punggungnya. Sedikit terkejut aku mendapati tidak ada BH di punggungnya. Kulitnya begitu halus di tanganku.

Aku mendorong tubuh Mbak Vidya sehingga ia duduk di perutku lalu aku menarik tank topnya ke atas di bantu Mbak Vidya. Mataku membelalak menatap dua buah gunung kembar yang walaupun lebih kecil dari ibuku, tetapi begitu tegak dengan areola yang kecil juga. Yang hebatnya lagi, puting Mbak Vidya begitu kecil sehingga tampak agak rata dengan areolanya karena pentilnya hanya menyembul sedikit sekali. Inilah tetek perawan, pikirku.
Dengan buas aku mengenyot payudara kiri Mbak Vidya. Wangi kulitnya yang sudah kukenal menambah birahiku yang sudah di puncak. Payudara itu begitu kenyal namun lembut. Tak lama payudara itu sudah berlumuran ludahku dan berhiaskan cupangan di sana-sini.

Segera aku beralih ke payudara satunya lagi dan kembali menggarapnya dengan mulutku. Sementara, tangan kananku meremas-remas payudara kirinya yang sudah aku selomoti sebelumnya. Mbak Vidya mendesah-desah nikmat.

Aku sudah tak tahan, maka segera aku mendorongnya lagi hingga kini ia telentang di tempat tidur. Aku segera menarik celana pendeknya sedikit bernafsu sehingga agak kasar. Aku terkejut lagi melihat ia juga tidak memakai celana dalam. Memeknya tidak ditutupi sehelai benangpun! Tampaknya Mbak Vidya rajin mencukur jembutnya.

Memek Mbak Vidya tampak bagai garis dengan sedikit labium mayora menyembul. Tampak rapat sekali. Aku berharap ia masih perawan. Secara cepat aku lempar celananya ke lantai, lalu aku segera melebarkan kedua kakinya sehingga mengangkang dan kemudian menjilati memeknya itu.

Kini Mbak Vidya sedikit mengerang-erang. Bibir vaginanya begitu rapat sehingga aku menggunakan jemariku untuk membukanya. Kulihat lobang memeknya yang berwarna pink Nampak begitu kecil bila dibandingkan dengan memek ibuku. Dengan Bahagia lidahku menjelajahi seluruh dinding kemaluan Mbak Vidya dan untuk akhirnya setelah beberapa menit kujulurkan masuk ke dalam lobang kecil itu.

Memek kakak sepupuku itu kini sudah basah oleh cairan birahi miliknya dan ditambah dengan ludahku. Bau memek Mbak Vidya cukup menyengat namun dalam artian yang menyenangkan. Bau yang sedikit berbeda dengan ibuku, namun tak kalah wanginya bagi hidungku.

Setelah daerah mahkotanya sudah benar-benar licin, aku membuka jeans dan celana dalamku sambil terus menjilati dan merogoh-rogoh lubang kenikmatan Mbak Vidya.

Setelah kontolku bebas, aku berlutut dengan lutut masuk di antara paha dan betisnya yang membentuk segitiga dan menaruh ujung kontolku di lubang memeknya. Kulihat dada Mbak Vidya naik turun sementara matanya menatap kontolku.

Dengan tangan kanan memegang batang penis, sementara tangan kiri menekan pelan paha kanannya, aku mendorong pantatku maju perlahan. Lingkar vaginanya begitu sempit sehingga beberapa detik ujung kontolku bagaikan ditolak sehingga tak dapat masuk, namun akhirnya lobang itu menyerah karena aku terus mendorong secara pelan tapi pasti. Dengan bunyi plop! Kepala pelerku masuk ke dalam memek kakak sepupuku yang cantik itu.

Mbak Vidya mendesis dengan kening mengerut. Aku kemudian beringsut sehingga aku maju ke arah kepalanya. Mbak Vidya saat itu mengangkang dengan kedua siku tangan membentuk segitiga sehingga tubuh atasnya membentuk sudut tumpul agar dapat melihat kelamin kami.

Mbak Vidya lebih tinggi dariku, namun posisi ini membuat aku dapat meraih bibirnya dengan bibirku. Kami berciuman penuh nafsu. Perlahan tanganku kulingkarkan di pinggangnya, lalu aku mendorong lagi pantatku. Liang surgawi Mbak Vidya begitu sempitnya sehingga membuat kontolku ngilu. Mbak Vidya sendiri merintih dengan muka menahan sakit.

“Pelan dek….”

Kontolku baru setengah masuk ketika membentur pelan sesuatu di liang vaginanya. Tampaknya ini adalah selaput dara Mbak Vidya. Aku perlahan memaju mundurkan batangku. Lama kelamaan Mbak Vidya terlihat mulai dapat menahan sakitnya dan kerutan di keningnya tidak separah tadi. Ia kini merintih terus-menerus. Aku kemudian melepaskan bibirku lalu konsentrasi sebelum akhirnya dengan suatu gerakan cepat dan keras, menghentak pantatku sehingga dalam hitungan sepersekian detik kontolku mendobrak keperawanan Mbak Vidya dan seluruh batang kontolku amblas masuk ke dalam vaginanya.

“Aaaauuuuuuuu!” teriak Mbak Vidya keras. Badannya menengang dan memelukku erat-erat, lalu perlahan ia jatuh ke belakang sembari menarikku. Kedua tanganku kini memeluk punggungnya. Bibirku hanya mencapai lehernya. Kedua kakinya kini menjepit kedua pahaku erat-erat, sementara dinding memeknya yang sempit mencengkram dengan kuat batangku. Perlahan-lahan memeknya kurasakan melepas cengkraman setelah sekitar semenit. Walaupun ototnya tidak berkontraksi sehingga mencengkram, tetap saja lubang yang basah dan hangat itu kurasakan menyesakki sekujur kontolku.

Perlahan kugoyang pantatku maju mundur sedikit, sehingga penisku mengocok memeknya namun selangkangan kami tetap menempel. Mbak Vidya merintih lagi, kini lebih keras suaranya dibanding sebelumnya namun tetap tidak terlalu keras. Ia menahan suaranya karena takut kedengaran dari luar.
Lama kelamaan pantat Mbak Vidya bergoyang pula. Ia sudah siap bersetubuh dengan benar karena memeknya yang sudah tidak lagi perawan sudah beradaptasi sedikit dengan kontolku. Maka aku kini mulai mengentoti Mbak Vidya dengan lebih cepat dan kuat. Kontolku kini bergerak maju mundur lebih jauh lagi. Setiap tarikan pantatku, kontolku akan keluar dari vagina Mbak Vidya sebatas kepala kontol lalu aku dorong pantatku sehingga terbenam seluruhnya ke dalam mahkota kehormatannya.

Mbak Vidya perlahan dapat mengikuti irama kocokanku sehingga akhirnya suara selangkangan kami beradu terdengar dari perlahan menjadi cukup keras.
Peluh kami sudah keluar deras. Mbak Vidya kini menyandarkan kepala di tempat tidur semenjak aku membobol keperawanannya. Satu tangannya yang kiri memegang pundakku sementara yang kanan di taruh ke samping atas sehingga ketiaknya yang bersih terlihat. Ketiak itu begitu putih tanpa rambut, namun kulihat ada sedikit daki di tengah-tengah, hasil dari keringatnya yang membanjir selama aktivitas terlarang kami.

Aku segera menjilati ketiak itu sambil terus mengocok memeknya yang sempit. Keteknya begitu asin dan gurih membuatku akhirnya mengenyoti daerah itu penuh nafsu. Bau tubuhnya begitu indah membuatku kecanduan.

Tak lama sambil menggigit bibir, Mbak Vidya memelukku begitu eratnya, sehingga kurasakan badanku sakit. Sambil sedikit menekuk tubuh, ia membenamkan wajahnya ke leherku dan suara erangannya yang tertutup leherku kudengar begitu panjang durasinya mengiringi memeknya yang mencengkram kontolku lagi.
Beberapa saat kemudian ia terjatuh ke belakang dan terdiam. Dengan kedua tangan membuka kulihat dadanya naik turun bagai baru saja berlari 10 KM.
Kubiarkan beberapa saat, lalu aku melepas kontolku. Ia pasrah ketika kakinya kutarik sehingga jatuh kelantai sementara tubuh atasnya masih di tempat tidur. Kubalikkan badannya sehingga ia tengkurap di tempat tidur sementara kedua kakinya menjejak lantai. Posisi doggy yang pasrah.

Aku menghujamkan lagi kontolku di memeknya yang masih basah. Kedua tanganku menyelusup sehingga kedua teteknya yang seksi itu kugenggam, lalu kuentot Mbak Vidya lagi kini dengan keras sehingga bunyi selangkanganku menumbuk pantatnya membahana seisi kamar.

Punggung putihnya yang mengkilap karena keringat yang disinari lampu kamar segera aku jelajahi dengan lidahku. Kujilat-jilat punggungnya bagaikan anjing minum air. Rasa kulit Mbak Vidya begitu gurih di lidahku, apalagi digarami dengan air keringatnya. Tubuh Mbak Vidya adalah es krim bagi birahiku.
Setelah puas menjilat aku mulai mengenyoti punggung seksi kakak sepupuku itu dengan keras. Pelan-pelan punggungnya dihiasi oleh cupangan merah keunguan akibat sedotan mulutku. Tentu saja, selama itu pula pantatku asyik bergoyang sehingga kontolku berkali-kali merojok-rojok memek Mbak Vidya yang baru saja berhasil dibobol.

Lama-kelamaan Mbak Vidya menjadi nafsu lagi. Ia mulai mengangkat tubuh atasnya dengan kedua tangan di sisi badan, dan kepalanya menoleh ke belakang. Matanya menatap mataku dalam-dalam.

Aku berkata padanya setelah menyadari tatapan matanya,
“Memek Mbak emang ga ada duanya. Memek perawan yang sempit. Nikmat banget ngejepit kontol Ari. Badan kakak juga seksi banget. Putih. Harum. Sekarang udah Ari nikmatin. Udah Ari jilatin. Udah Ari cupangin. Memek Mbak udah Ari gagahin. Sekarang Mbak jadi milik Ari.”

Mata Mbak Vidya mengeluarkan kilatan birahi. Ia berkata,
“kontol kamu juga enak, dek. Memek Mbak jadi penuh. Mbak sayang Ari. Cinta sama Ari. Ari jangan nyakitin Mbak ya.”

“Ari ga bakal nyakitin Mbak selama memek Mbak Cuma buat Ari aja.”

“Mbak udah kasih kamu segalanya, Ri. Mbak udah milik kamu. Terus gagahi Mbak. Terus setubuhi Mbak. Terus entotin Mbak.”

Aku hampir tak tahan lagi. Aku segera menindih tubuh atasnya lalu mengenyot punggungnya keras-keras lalu menghujami memek Mbak Vidya keras-keras dengan kontolku. Suara tubuh kami beradu aku yakin kedengaran sampai ke luar kamar. Untung saja kamar ini letaknya di lantai 2. Suara selangkanganku menumbuk-numbuk pantat Mbak Vidya tak akan sampai ke ruang tamu di bawah.

“terus sedot punggung Mbak, Ri. Minum keringat Mbak. Hujami memek Mbak dengan kontolmu yang gede itu, Ri. Mbak udah ga tahan lagi. Sebentar lagi Mbak mau orgasme kayak sebelumnya. Terus ngentotin Mbak, de…. Ngentoooot…… enakkkk…… teruuussss entooooottt…..”

Tak tahan ucapan jorok kakak sepupuku, aku berkata,
“ngentot lu Mbak…… gue akhirnya bisa ngentotin elo…….. elo milik gue sekarang Mbaaaaakkkkk….. memek lo miliki gueeee…………. Aaaaaaaaahhhhhhhhh……”

Pada saat bersamaan kami melenguh dan berteriak……. Spermaku di lepas di dalam tubuhnya…. Dan untuk beberapa saat kami tertidur lemas dengan aku yang menindihnya dari belakang.

Bersambung ke episode berikutnya..

Petualangan Ari VI: Akhir dari Permulaan

Selama hampir dua minggu, aku menjalani kehidupan bagaikan di kahyangan dengan dua orang bidadari yang melayani nafsu binatangku dengan tak kalah hebatnya. Tante Hani mengatur jadwal para pembantunya agar tiap pagi membersihkan kamar tidur di lantai atas terlebih dahulu, kemudian ia melarang para pembantunya untuk naik setelah pekerjaan mereka selesai sekitar pukul sepuluh. mereka hanya diperbolehkan di lantai bawah untuk melanjutkan membersihkan rumah, memasak dan mencuci.

Ini membuat lantai atas, tempat kamar tidur kami semua, menjadi bebas dari orang lain setelah jam sepuluh. ketika kedua orang pembantu tante Hani membersihkan kamar atas, biasanya kami sarapan sebentar, lalu aku akan menarik daster mereka (mereka selalu memakai daster longgar saat sarapan di lantai bawah) dan aku akan menyetubuhi mereka bergantian. tidak ada urutan. kadang Tante Hani duluan, kadang Mbak Vidya. mereka tidak memakai BH atau celana dalam bila memakai daster di dalam rumah membuat aksesku ke payudara dan memek mereka menjadi gampang. setelah jam sepuluh dan kami kembali ke atas, kami semua akan telanjang bulat tanpa berpakaian sampai malam dan kami akan tidur bersama di kamar Tante Hani.

Tiga hari sebelum ibuku datang, aku bahkan menjadi lebih liar karena kami tidak tahu apakah nanti hubungan threesome ini dapat terus berlangsung bila ibu sudah datang. sorenya, biasanya kami mandi bersama, namun aku begitu bernafsu sehingga aku mengajak mereka bersetubuh dan setelah selesai aku minta mereka tetap di kamar tidur Tante Hani dan terus berpelukan. Tante Hani di kanan, Mbak Vidya di kiri. mereka berdua tiduran miring menghadapku, sementara badanku telentang. Aku menciumi bibir mereka satu persatu. selama dua tiga menit aku akan mencium bibir Tante Hani dan dua tiga menit kemudian Mbak Vidya dan aku yang berciuman.

Kami menyukai kedekatan kami ini. di hari-hari seperti ini, kami bertiga bagaikan kembar tiga yang jarang berpisah. kami terkadang berbicara mengenai hubungan cinta kami, kadang mengenai masa depan, kadang mengenai harapan-harapan kami, kadang saling melontarkan gurauan sambil saling meraba dan mencium satu sama lain. Dan bila kontolku sudah mengeras, kami akan bersenggama lagi sampai aku kembali lemas. Kemudian kami akan memulai siklus yang sama, kami akan saling berpelukan dan meraba dan ciuman lagi saling berbicara dan berkasihan sampai waktunya bersetubuh lagi. sungguh indah sekali perhubungan kami.

Terkadang aku akan minta Tante Hani dan Mbak Vidya membuka mulut mereka, lalu aku akan meludahi mulut dan lidah mereka secara perlahan, Tante Hani dan Mbak Vidya akan melumat ludahku dan setelah dimainkan di rongga mulut, ludahku akan ditelan keduanya. Terkadang aku meminta Mbak Vidya meludahi tubuh ibunya untuk kemudian aku jilati tubuh telanjang Tante Hani di mana ludah Mbak Vidya yang hangat itu berada. biasanya tanganku akan mengubek-ubek kemaluan mereka saat kami asyik berinteraksi satu sama lain.

Saat memek Tante Hani basah sekali dan ia mulai horny padahal kontolku masih loyo, maka aku menyuruh tante Hani menduduki dada anaknya, dan kusuruh Tante Hani menggeseki kelaminnya ke dada dan perut anaknya, sementara jariku asyik mengobok-obok memek Mbak Vidya sambil berciuman secara french kiss dengan Mbak Vidya, sementara tangan yang satu meremasi tetek Tante Hani. Aku menyuruh Tante Hani menggesekkan kelaminnya ke sekujur tubuh anaknya sampai ia orgasme. ketika sudah orgasme, aku akan suruh mereka melakukannya lagi dengan posisi yang dibalik, dengan Mbak Vidya yang menggeseki memeknya ke tubuh ibunya.

Alhasil mereka berdua akan memiliki dua buah bau tubuh, bau tubuh mereka sendiri dan bau tubuh satu sama lain. lalu aku akan menjilati memek salah satu dari mereka sementara yang lain akan tiduran di paha perempuan yang sedang kujilati disampingku, menghadap ke arah aku. setelah lima enam kali jilatan pada memek aku akan menjilat lidah perempuan yang tiduran di sampingku itu untuk mentransfer cairan memek dari yang satu ke mulut dan lidah yang lain. terkadang aku dan yang satu akan mengeroyok menjilati memek yang lain hingga dia orgasme.

Bahkan, setiap aku ingin kencing, aku jejalkan kontolku ke mulut Tante Hani dan Mbak Vidya, untuk perlahan aku kencing ke dalam mulut mereka bergantian hingga pipisku habis. sementara bila mereka yang ingin kencing, kami harus ke toilet karena biasanya air kencing itu akan ada yang tumpah ke seprai bila kami minum di tempat tidur. Bila aku ingin kencing sementara kontolku tegang, aku biasanya menghujamkan kontolku ke dalam memek salah satu dari mereka di dalam toilet dan sambil aku memeluk, aku akan mengencingi rahim mereka. sementara yang satunya lagi akan menunggu di bawah tubuh kami untuk menjilati air yang keluar dari celah memek yang sedang dimasuki kontolku itu. terkadang aku kencing di anus mereka.

entah berapa kali kami bersetubuh dan menukar cairan tubuh kami, yang jelas kami semua kecapekan dan akhirnya tertidur juga.

Esoknya saat kami baru mulai sarapan. Aku duduk diapit kedua perempuan sekeluargaku itu. hidungku mencium bau tubuh mereka yang perlahan menjelajahi rongga hidungku. dapat kucium bau tubuh Mbak Vidya yang bercampur dengan bau memek ibunya, juga bau Tante Hani dengan wangi memek anaknya. Maka kataku,

“Mulai hari ini sampai hari ketika kita jemput Mama, kalian berdua tidak boleh mandi.”

Mereka berdua terkejut dan Mbak Vidya yang duluan berkata,

“tapi kami berdua bau, de…”

“Ya. bau tubuh kalian itu Ari suka banget. kalau kalian mau dientot Ari, jangan mandi.”

Aku menarik tubuh Mbak Vidya yang sedang makan roti sehingga berdiri, menarik dasternya ke atas hingga terkumpul di bawah ketiaknya, memutar tubuhnya sehingga menghadapku, lalu mendorongnya hingga ia menduduki meja makan dan mulai menjilati memeknya yang tidak lama kemudian basah. bangku Mbak Vidya kudorong menjauhi kami. tak lama memeknya basah dan aku mendorong tubuh Mbak Vidya hingga ia rebah di meja makan, mendorong jatuh piring makan dan selai dan box sereal, lalau aku menjebol memek kakak sepupuku itu entah ke berapa kalinya dalam minggu ini.

Makanan yang berserakan membuatku mendapatkan ide brilian. aku yang saat itu makan sereal dengan susu kental, mengambil sesendok sereal dari mangkokku lalu menaburkannya di payudara kiri Mbak Vidya untuk kemudian aku mulai lumat dada montok itu. beberapa kali aku menuang dan menjilat, aku pikir agak ribet. maka aku berkata pada tante Hani,

“Tante yang suap sereal ke mulut Tante lalu balurin ke badan Mbak Vidya.”

Maka Tante Hani memasukkan sereal ke mulutnya lalu dengan berjingkat dari samping meludahi dada anaknya dengan sereal dan susu yang langsung aku lahap dengan penuh nafsu dibarengi pantatku yang maju mundur dengan cepat dan keras. memek Mbak Vidya begitu basah tanda bahwa ia menyukai dijadikan piring oleh kami berdua.
Tante Hani terus saja melolohi sekujur dada Mbak Vidya dengan sereal sementara aku dengan bersemangat selalu menyapu bersih seluruh area tetek kakak sepupuku itu. Hanya saja dengan cepat sereal itu habis.

“Mau dibuatin lagi?” tanya Tante Hani.

Aku menggeleng karena aku lihat tangan Mbak Vidya masih memegang roti yang baru digigit dua kali.

“Mbak Vidya makan rotinya, nanti bagi aku setengah.”

Mbak Vidya tersenyum nakal dan mulai mengunyah rotinya hingga terpotong kecil-kecil dan diselimuti ludah dari mulutnya. tak berapa lama ia membuka mulut dan mendorong roti di mulutnya dengan lidahnya. Aku segera menindihnya di meja makan, lalu menyendok sebagian roti itu dengan lidahku lalu kami asyik mengunyah. dengan cepat Mbak Vidya mengunyah roti itu sebagian demi sebagian untuk kemudian di baginya sebagian kepadaku. sambil sarapan kami terus ngentot. ketika kunyahan terakhir kami berlangsung, kami tidak langsung mengunyah sendiri-sendiri seperti biasanya, tetapi kami berciuman dengan lidah sambil mengaduk-aduk roti yang sudah lumat itu dalam mulut kami yang terbuka namun menempel. kami saling menghisap dan meludah sementara sedikit banyak liur dan bongkah kecil roti keluar dari mulut kami. saat itu Mbak Vidya memelukku erat-erat dengan tangan dan kedua kakinya yang melingkari kedua kakiku dan kurasakan memeknya mengeluarkan cairan yang merembes keluar cepat. rupanya ia orgasme.

setelah satu dua menit badan Mbak Vidya melemas sementara kami masih berpelukan di atas meja dan mulut kami masih penuh roti. maka aku mengambil sebagian besar roti itu sementara Mbak Vidya membuka mulutnya lebar-lebar. setelah bagianku habis, kusuruh Mbak Vidya membuka mulutnya terus lalu aku mulai menjilati rongga mulutnya sampai sisa-sisa roti habis kujilati dan kuhisap.

Aku belum sampai. kulihat Tante Hani sedang mengangkang dan memainkan jarinya di klitorisnya. dasternya sudah ditarik ke perut. kusuruh Tante Hani nungging. dasternya kusingkap sampai pundak. Tubuhnya yang semok memiliki lekak lekuk yang yang tidak dimiliki oleh baik ibuku maupun Mbak Vidya yang ramping. dengan penuh rasa geram karena birahi, aku taruh kontolku di depan lubang memeknya yang sudah banjir lalu aku hujamkan kontolku dalam-dalam. kontolku masuk dengan mudah karena bantuan cairan walaupun memek Tanteku itu masih terasa cengkeramannya. itu yang aku sukai dari keluargaku. tampaknya ibu dan tanteku menikahi lelaki dengan kontol kecil sehingga bila aku mengentot mereka, jepitan memek keduanya masih menggigit.

Mbak Vidya sedang minum jus apelnya secara perlahan. aku jadi punya ide lagi.

“Kumur-kumur, Mbak. terus semprot perlahan di tubuh ibumu.”

Mbak Vidya mendekat lalu mulai kumur-kumur lalu meludahi bagian tengah punggung putih Tante Hani di antara belikat sampai jus apelnya habis. karena tubuh itu miring, maka airnya turun cepat, sehingga aku harus cepat juga menempelkan lidahku di tengah punggung tanteku yang seksi itu. ketika airnya habis, masih ada bulir-bulir roti yang belum terlumat habis dan tertelan oleh Mbak Vidya sehingga menempel di bekas genangan jus apel di antara belikat tante Hani tampak butir-butir roti. sambil mengocok-ngocok memek sempit Tanteku, aku perlahan menjilati punggung basah tanteku itu yang kini berasa apel. ketika lidahku menyentuh butir roti, aku mengenyotnya sekalian dengan punggung si Tante meninggalkan berkas merah.

Mbak Vidya senang sekali melihat aku menikmati bekas mulutnya, ia kemudian mengambil roti tawar mengunyahnya, lalu mengusapinya di memeknya yang memang basah, lalu menyuapi aku. kini aku menghajar pantat tante Hani dengan sangat keras karena nafsuku sudah di ubun-ubun. Tante Hani juga mengeluarkan suara erangan ketika kontolku bertubi-tubi merojok-rojok mahkota kehormatannya, seakan ingin menjebol liang senggamanya itu.

Mbak Vidya terus saja mengunyah dan mengusap roti di memeknya sebongkah demi sebongkah untuk disuapkannya kepadaku. roti itu kini berasa memek kakak sepupuku dan aku menyukainya. aku hampir tak tahan lagi, melihat itu, Mbak Vidya memegang sepertiga roti yang tertinggal, mengusapnya di memeknya dengan keras sehingga ada bagian yang masuk lubangnya, lalu menempelkan roti itu di hidungku sehingga bau memeknya kucium dengan jelas membuatku membabi buta menggagahi kemaluan tante kandungku yang sedang nungging. Tante Hani melenguh keras dan kurasakan memeknya mengejang dan mengeluarkan cairan, menyebabkan aku ejakulasi di dalam memek Tante Hani. Kudorong Mbak Vidya sehingga nungging di samping ibunya, lalu setelah ejakulasi ketiga, aku cabut kontolku dan kubenamkan di memek kakak sepupuku itu sehingga rahimnya juga kebagian semprotan pejuku. sementara roti yang tadi di hidungku jatuh di pantat tanteku, kuambil roti itu lalu aku masukkan ke memek basah tanteku itu beberapa saat, sebelum akhirnya aku makan roti yang kini terasa sebagai campuran memek Mbak Vidya dan Tante Hani.

Dua hari lagi ibuku akan datang, pikirku. maka aku harus memanfaatkan waktu baik-baik. sepanjang hari kami di kamar hanya di kamar Tante Hani tanpa busana dan saling mencintai dan bermesraan sepanjang hari. bibirku selalu menciumi, menjilati dan menyupang tante Hani dan Mbak Vidya. sehingga keesokan harinya, hampir seluruh anggota badan mereka berdua penuh dengan tanda cupanganku. bahkan saat makan, kami saling melolohkan makanan satu sama lain dan bercinta juga.

Petualangan Ari V: My First Threesome

Jam empat pagi kurasakan ada seseorang yang sedang menghisap-hisap burungku. Ah, pikirku, ini pasti Mbak Vidya. Biasanya aku selalu tidur di kamar Mbak Vidya malamnya, kemudian kami bangun jam empat pagi untuk bersetubuh satu ronde, baru setelah itu aku akan kembali tidur ke ruang tidur untuk tamu. Perlahan aku membuka mataku dan setelah aku lihat, aku terkejut mendapatkan Tante Hani mengenakan baju tidur putih transparan tanpa memakai dalaman, sedang asyik mengulum kejantananku sambil duduk di pinggir kanan ranjang.

“Tante?” suaraku masih berat karena baru bangun tidur.

Tante hanya melirik kepadaku dan mengedipkan matanya, namun mulutnya asyik menyedoti batangku yang sudah tegak. Tangan kirinya memegang bagian dasar batangku, sementara tangan kirinya perlahan meremasi kedua biji pelirku. Aku yang baru bangun tak mampu berkata-kata lagi, tadinya aku ingin memperingatkan Tante Hani agar menghentikan aksinya, karena aku takut Mbak Vidya akan bangun dan masuk ke kamarku. Namun hisapan mulut Tante Hani dan keterampilan kedua tangannya mengelus-elus kejantananku membuat aku lupa segalanya.

Aku bangkit untuk duduk. Aku tarik gaun tidur Tante Hani. Tanteku itu membantuku sebentar sehingga akhirnya ia telanjang bulat. Aku tarik pinggulnya, iapun mengerti maksudku. Aku kembali tiduran dengan telentang, sementara Tante Hani menggeser tubuhnya hingga kini kedua kakinya ditaruh mengapit kepalaku. Tak lama, ia menaruh memeknya yang sudah basah ke wajahku sementara mulutnya kembali mengatup di batang kontolku. Posisi kami kini sudah 69, dengan Tante Hani di atas badanku.

Ketika memek Tante Hani mencapai wajahku, dengan antusias aku menjilati kemaluannya itu. Bau memek Tanteku itu sangat jelas tercium hidungku. Cairan kemaluan Tante Hani yang sudah membasahi kemaluannya kujilat-jilat dengan penuh semangat. Rasa memek Tante Hani agak asam dan sedikit pahit, selain itu terasa hangat di lidahku. Kedua pantatnya aku dekap dengan kedua tanganku sambil kuremas-remas dengan gemas. Sungguh nikmat rasanya menjilati memek wanita dewasa cantik, sementara kontolku dihisap-hisap dan dijilati wanita itu.

Tak lama badan kami sudah penuh dengan keringat. Badan kami yang basah menempel satu sama lain. Aku mulai menggunakan jari telunjuk kanan untuk merogoh lubang memek Tante. Tante Hani mulai menggumam keras ketika merasakan jari-jemariku menerobos liang kenikmatannya. Lubang vagina Tanteku itu sudah sangat licin dan hangat sehingga jariku tidak kesulitan bergerak masuk keluar bagaikan piston mesin bermotor, sementara lidahku asyik menjilat-jilat area sekitar klitoris tanteku itu.

Tante Hani mulai menggoyang-goyang pantatnya, dan hisapannya pada batang kontolku makin cepat dan keras saja, menyebabkan kedua buah lututku merasakan ngilu yang nikmat yang merembet ke sekujur tubuhku. Kubalas dengan mulai mengenyot-ngenyot klitorisnya. Ini membuat Tante Hani tiba-tiba melepaskan kontolku dari mulutnya dan mengerang kenikmatan,

“Yessss………. Hisap kelentit Tantemu, Ari!”

Perlahan namun pasti aku memperkeras hisapanku pada klitoris Tante Hani. Tante Hani sudah lupa untuk menyepongku, ia kini bertumpu dengan kedua tangan di dadaku, sementara ia setengah menduduki wajahku dan pantatnya makin liar bergoyang dan menekan kepalaku sementara mulutku menempel ketat di kelentitnya tanpa mau terlepas lagi.

“sedot terus Ri!…. Terus……teruuuuss!!! TERUUUUUSSSSS!!! Tante sampaaaaiiiiiii!”

Memek Tanteku merembeskan banyak sekali cairan vagina yang membasahi tangan dan wajahku. Sementara aku kesulitan bernafas ketika selangkangannya menekan keras ke bawah selama ia orgasme.

Namun akhirnya otot selangkangannya mengendur dan Tante Hani menjatuhkan diri di sampingku, ia berbaring telentang dengan selangkangan masih sejajar dengan kepalaku sementara kepalanya sejajar dengan pahaku. Tubuh Tante Hani yang basah oleh keringat tampak begitu seksi dan menggairahkan. Matanya yang terpejam dan ketelanjangannya membuat Tante Hani saat ini membuatnya terlihat sebagai wanita yang sangat sensual dan obyek seksual yang menjadi sarana pelampian nafsu bejat lelaki. Nafsu bejatku.

Aku segera duduk, lalu melebarkan kedua paha Tante Hani. Kuposisikan diri agar duduk di depan selangkangannya. Aku mengarahkan kontolku di depan liangnya dan dalam satu gerakan cepat dan indah, aku benamkan dalam-dalam kontolku yang sudah basah oleh air ludah Tanteku itu ke dalam lubang kemaluannya yang sangat licin dikarenakan cairan pelumasnya sendiri.

Setelah kontolku sudah bersarang di memek Tanteku itu, aku segera menindihnya dan memeluk tubuhnya erat-erat. Setelah mulutku menjepit pentil payudara kanan Tante Hani, aku mulai mengentoti Tanteku itu dengan penuh tenaga.

“PLOK! PLOK! PLOK! PLOK!…..”

Suara selangkanganku membentur selangkangan Tante Hani terdengar bertalu-talu. Pentil Tante yang sudah mengacung tegak kusedoti dengan rakus. Tante Hani menjawab dengan merangkul kepalaku dan mengelus-elus rambutku dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya meremasi pantat kananku. Di bagian bawah, Tante Hani menggerakkan pantatnya memutar-mutar dan mendorong-dorong seirama dengan goyangan pantatku.

Nikmat sekali rasanya mengentot dengan kakak kandung ibuku itu. Tubuhnya yang bahenol dan semok sungguh empuk dan enak ditindih. Keringatnya yang membawa bau tubuh yang lembut namun jelas, kulitnya yang halus dengan otot yang kenyal, membuat Tante Hani pasangan ngentot yang ideal. Pentilnya yang besar juga membuat mulutku mudah sekali mengenyot, menjilat dan menghisapinya. Apalagi memek Tante Hani, selain sempit juga hangat dan licin, membuat kontolku mudah keluar masuk, namun masih merasakan jepitan lumayan keras.

Tante Hani lalu menjepit pantatku dengan kedua kakinya, kedua tangannya kini memeluk punggungku kuat-kuat. Seakan-akan Tante Hani berusaha menembus tubuhku dengan menggunakan tubuhnya sendiri. Selangkangannya kurasakan membenturi selangkanganku dengan lebih keras, yang membuatku mengimbangi dengan juga menambahkan daya tumbuk selangkanganku di selangkangannya. Gerakan kami menjadi lebih cepat dari sebelumnya.

“entoti Tante, Ri….. Entotin yang keras……. Sodok memek Tante kuat-kuat, sayanggg……. Gagahi Tante…… Buntingin Tantemu seperti kamu ngebuntingin Mama kamu sendiri……. Tubuh ini milk kamu, Ri…… Pakailah Tante sesukamuuuu….”

“Tante Hani cantiiiikkkk….. Ari cinta Tante…. Ari pengen ngentotin Tante terus-menerusss….. Ari pengen nikmatin memek Tante…….. Ari pengen selalu ngentotin Tante…… Ari pengen tinggal di dalam memek Tante selamanyaaaa…….”

Lalu aku mulai menyedot puting sebelah kiri tante Hani. Entah berapa lama kami ngentot. Kami tidak dapat mengetahui waktu, karena seluruh konsentrasi kami tercurah pada persetubuhan kami yang tabu ini. Entah berapa kali mulutku pindah dari satu pentil ke pentil yang lain. Entah berapa lama lidahku menjilati seluruh dada kakak kandung ibuku. Entah berapa kali kontolku menusuk sedalam-dalamnya di dalam vagina Tanteku itu. Entah berapa kali selangkangan kami beradu dan menimbulkan bunyi benturan keras yang memenuhi ruang tidur itu.

Yang jelas, saat Tante Hani menarik kepalaku ke arah kepalanya menggunakan dua belah tangannya, lalu Tante Hani menyerang bibirku dengan bibirnya, ketika lidahnya memasuki mulutku dan lidahku membalas dan kami berciuman selama beberapa menit, saat itulah tubuh Tante Hani menjadi kaku, pelukan tangan dan kakinya begitu ketat sehingga aku agak kesulitan bernafas, sementara perut dan dinding memek Tante Hani bergetar dan cairan vagina Tante Hani menyemprot. Tante Hani mencapai klimaksnya.

Daya tahanku juga jebol. Kenikmatan seksual yang sedari tadi kurasakan menguasai tubuh, sudah tidak mampu terbendung lagi. Spermaku yang terkumpul karena rangsangan birahi karena mengentot, akhirnya terlepaskan dengan hebatnya. Kontolku yang kubenamkan dalam-dalam dan kuat-kuat, menyemprotkan air maninya berkali-kali, menyiram rahim Tante Hani yang subur sehingga jutaan spermaku menerobos rahim Tanteku itu dan memenuhi peranakannya.

Sejenak kami terdiam lemas dengan aku menindih Tante Hani dan kontolku masih menancap di dalam memeknya. Setelah beberapa menit aku mulai asyik menjilati ketiak licin Tanteku yang sebelah kiri. Tanteku hanya tersenyum sambil mengusap rambutku dengan tangan kanannya. Lidahku dengan perlahan namun kuat menekan dan menggeleser di sekujur ketiak putihnya.

Saat itu tiba-tiba pintu terbuka dan terdengar suara Mbak Vidya,

“Mama! Ari! Kalian ngapain?!!!”

Tante Hani dan aku kaget dan melihat ke arah pintu. Mbak Vidya berdiri di sana dengan telanjang bulat, sementara baju tidurnya disampirkan di bahu kirinya. Tatapan mata Mbak Vidya menunjukkan rasa terkejut dan ketidak percayaan menyaksikan ibu kandungnya sedang telanjang bulat dan ditindih oleh sepupu yang ia cintai yang juga telanjang bulat, sementara sepupunya itu sedang asyik menjilati ketek ibunya itu!

Mbak Vidya menangis lalu lari meninggalkan kamar tidur itu.

“Vidya!” kata Tante Hani yang bergegas melepaskan diri dariku dan mengejar anaknya itu,”Ari. Lebih baik kamu di sini saja menunggu.”

Aku terdiam saja melihat tubuh sintal Tante Hani yang telanjang bulat meninggalkan kamarku untuk mengejar Mbak Vidya.

Dalam keheningan dan ketelanjangan aku duduk di ujung tempat tidur dan pikiranku menjadi kacau. Mbak Vidya jelas sekali mencintai aku, ia mengorbankan segalanya untukku, bahkan keperawanannya. Sementara, kini ia mendapati aku ‘berselingkuh’ dengan menyetubuhi ibu kandungnya. Tentu saja Mbak Vidya merasakan kekecewaan, sakit hati dan cemburu. Namun nasi sudah menjadi bubur, apalagi aku memang sebenarnya bejat, aku telah meniduri tiga orang perempuan dan ketiganya adalah perempuan yang memiliki hubungan darah denganku dan aku menyukainya.

Lama kelamaan dipikir, bila Mbak Vidya menyuruh aku untuk memilih siapa yang menjadi kekasihku, Mbak Vidya atau ibunya, aku tetap tidak bisa menjawab. Aku menyukai semuanya. Aku suka mengentoti ibu kandungku sendiri, aku suka mengentoti kakak ibuku dan aku juga suka mengentoti Mbak Vidya. Kalau bisa, aku ingin terus mengentoti mereka bertiga. Hanya memilih satu membuat aku tidak puas. Aku membutuhkan ketiganya. Aku menolak kalau harus memilih. Pemikiran ini membuat kepalaku pusing.

Sekitar satu jam aku duduk melongo dengan banyak pikiran di kepala, ketika aku dikejutkan dengan suara Tante Hani.

“Ari….”

Aku menatap pintu dan kulihat dua perempuan yang telanjang bulat memasuki kamarku. Aku terhenyak dan tidak menyangka-nyangka. Tante Hani dan Mbak Vidya tampak habis menangis karena matanya sembab. Namun kulihat mata Mbak Vidya tidak memancarkan kekecewaan dan kesedihan lagi. Mata itu memancarkan cinta. Sama halnya dengan sorotan Mata Tante Hani.

Kedua perempuan itu duduk mengapitku di ujung tempat tidur. Tante Hani di kanan dan Mbak Vidya di sebelah kiri.

“Tadi Tante sudah berbicara panjang lebar dengan Mbak Vidya,” kata Tante Hani,” Mbakmu sudah tahu semuanya. Ia tahu bahwa sebenarnya kamu sudah tidur dengan tiga orang wanita. Mamamu, Tante dan Mbak Vidya. Pada mulanya Mbak Vidya marah kepada kamu yang tidak jujur dan menurut anggapannya, kamu itu playboy. Tetapi Tante sudah menjelaskan bahwa terkadang cinta itu harus berbagi. Dan Tante pastikan bahwa cinta kamu kepada kami bertiga tidaklah berat sebelah atau palsu, kamu mencintai kami bertiga sama besarnya, benar tidak, Ri?”

“Betul.” aku menjawab dengan menatap Mbak Vidya,” Ari mencintai Ibuku, Tante Hani dan Mbak Vidya sama besarnya. Sempat Ari mencoba memilih di dalam hati, tetapi Ari tidak bisa hidup tanpa salah satu dari tiga perempuan yang Ari cintai. Ari tidak mau memilih. Ari tahu bahwa Ari egois, tetapi Ari benar-benar tulus mencintai semuanya. Ari tidak bisa memilih. Ari tidak tahu apakah Mbak Vidya bisa menerima Ari setelah tahu ini semua.”

Mbak Vidya menarik nafas, katanya,

“Ari. Pada awalnya Mbak merasa kamu hanya mempermainkan Mbak saja. Ari hanya ingin tubuh Mbak saja. Tetapi, setelah mengetahui bahwa kamu baru-baru ini saja menyetubuhi Mama kamu, maka Mbak menyimpulkan bahwa sebelum kamu mencintai Mama kamu seperti seorang kekasih, kamu lebih dahulu mencintai Mbak Vidya. Karena Mbak ingat bahwa kamu cemburu ketika mengetahui Mbak pacaran sama cowok lain dan memutuskan untuk tidak bertemu dengan Mbak lagi. Bukan begitu, Ari?”

“Oh, Mbakku. Mbak selalu menjadi cinta pertama Ari,” jawabku sambil memeluk tubuh telanjang Mbak Vidya dan berusaha mencium bibirnya. Tapi Mbak Viday mengelak. Aku menjadi bingung.

“Tapi Mbak tetap marah sama Ari,”kata Mbak Vidya lagi,”karena ternyata Ari telah menghamili Mamamu terlebih dahulu. Seharusnya Mbak yang kamu hamili, karena dari dahulu Mbak memutuskan untuk menjadi pacar Ari. Tapi Mbak dapat maklum bahwa Ari tidur dengan Mama Ari sendiri, karena saat itu kamu cemburu dengan Mbak, sehingga akhirnya terjadilah hubungan itu. Di lain pihak, Mbak juga dapat maklum bahwa kamu tidur dengan Mamanya Mbak Vidya. Mbak tahu bahwa mama selama ini tidak bahagia dengan papa, sehingga Mbak rela bila harus berbagi dengan Mama Mbak Vidya sendiri. Namun, mulai saat ini kamu harus dihukum setiap hari.”

Aku agak takut mendengar ini, namun Mbak Vidya meneruskan penjelasannya,

“Kamu harus menghamili Mbak juga. Juga Mama Mbak Vidya. Itu hukuman kamu selama kamu ada di sini. Mengerti?”

Dengan perasaan bahagia yang tak dapat aku jelaskan, aku segera mencium bibir Mbak Vidya. Dalam posisi menyamping kami tiduran di tempat tidur sambil terus menukar ludah dengan kedua lidah kami yang asyik bergelut. Saat itu kurasakan Tante Hani ikut memelukku.

“Tante ikutan dong…. Kan kamu harus menghamili kami berdua?”

Aku beringsut tidur telentang, sementara Tante Hani dan Mbak Vidya menyamping menghadap aku dengan satu payudara masing-masing menempel di dadaku. Kurentangkan kedua tanganku sehingga tangan sebelah kanan memeluk Tante Hani dan yang kiri memeluk Mbak Vidya. Kualihkan kepala ke Tante Hani dan ia langsung melumat bibirku. Kami asyik berciuman selama beberapa saat sebelum tangan kiri Mbak Vidya menarik wajahku ke arahnya dan bergantian Mbak Vidya berciumanku denganku selama beberapa saat.

Untuk beberapa menit kami bertiga bergantian berciuman. Beberapa saat kucium Tante Hani, beberapa saat aku cium Mbak Vidya. Lama kelamaan kami berpelukan sehingga tiga tubuh kami kini bagai menyatu. Tangan kiri Mbak Vidya merangkul sampai punggung ibunya sementara tangan kanan Tante Hani juga merangkul punggung anaknya.

“Dari tadi Ari mulu yang cium kalian. Kalian berdua ciuman juga, dong.” kataku.

“Ih, Ari… Masak Mbak cium Mama Mbak sendiri?”

“Ah, ludah Mbak sudah bercampur dengan ludah Ari, lalu dicampur ludah Tante Hani, jadi sebenarnya Tante Hani sama Mbak Vidya sudah merasakan ludah satu sama lain, kan. Ayo dong…. Pasti seru…..”

Kami bertiga berdebat beberapa saat, masih sambil berangkulan dengan mesra. Setelah beberapa saat merayu akhirnya Mbak Vidya mengecup bibir Tante Hani.

“Yaelaah… Itu mah kecup sebentar,” kataku,”Pake lidah juga dong…”

Mereka berdua tampak tersipu, wajah mereka bersemu karena malu. Namun akhirnya mereka perlahan berciuman. Pertama bibir dengan bibir bertemu, lalu kedua bibir merekah dan lidah mereka malu-malu bersinggungan sebelum bibir mereka merapat.

“Ayolah…. Jangan malu-malu…. Ari aja ketagihan main ludah sama kalian berdua….”

Akhirnya lidah mereka mulai menyapu sedikit demi sedikit. Lama kelamaan tampaknya mereka sudah tidak canggung lagi dan mulai berciuman dengan bernafsu. Lidah mereka menjilat-jilat dengan semangat. Bunyi bibir mereka berkecupan makin lama makin keras saja. Aku menjulurkan lidah dan memotong ditengah. Kini kami bertiga asyik berciuman serabutan. Saling menjilat dan mengecup.

Suasana begitu hot. Kami bertiga sudah mulai basah oleh keringat. Bau tubuh Mbak Vidya dan Tante Hani yang berlainan menambahkan semangat. Suatu ketika Mbak Vidya dan aku sedang asyik berciuman ketika Tante Hani bergerak untuk meludahi tempat di mana bibirku dan Mbak Vidya bertemu. Aku dan Mbak Vidya bagaikan orang kehausan menghabisi liur Tante Hani dan meminumnya.

“Kurang…..” kataku sambil mendorong Mbak Vidya sehingga dia tidur telentang, dengan aku tidur di sampingnya. Kutarik tangan kiri Mbak Vidya ke atas sehingga keteknya dengan rambut halus terlihat. “taruh disini yang banyak….”

Tante Hani mulai mengumpulkan ludah dan perlahan meludahi ketiak basah Mbak Vidya. Setelah air liur yang sedikit berbusa milik Tante Hani cukup banyak di situ, aku dengan semangat ’45 mulai menjilati ketiak Mbak Vidya perlahan. Bau mulut Tante Hani bercampur bau ketek Mbak Vidya membuat combo sensualitas ke level yang berbeda. Sementara, Tante Hani merangkak di atas tubuh Mbak Vidya dan mulai menjilati payudara kanan anaknya itu.

Kulihat payudara kanan Mbak Vidya sudah basah oleh ludah ibunya. Tak berhenti sampai di situ, Tante hani mulai meludahi payudara kanan anak kandungnya itu, sehingga air liur Tante Hani memenuhi payudara itu. Kemudian Tante Hani mulai menjilati sisa dada anaknya yang belum tersentuh lidahnya. Sehingga tak lama kembali tetek kiri Mbak Vidya basah oleh air liurnya.

Aku mulai menjilati payudara kiri Mbak Vidya yang kini memiliki bau campuran antara bau mulut ibunya dan bau tubuhnya sendiri. Kunikmati jengkal demi jengkal buah dada kanan Mbak Vidya dengan perlahan dan penuh perasaan, menikmati bau tubuh dua wanita yang kucinta. Ketika kukenyot pentil tetek kanan Mbak Vidya, Tante Hani mulai menjilati perut anaknya itu.

“Aaahhhhh…….. Ari…… Sedot pentilku……….”

Kusedoti pentil Mbak Vidya bergantian, sambil terkadang menjilati bagian lain payudaranya yang sudah dilapisi ludah Tante Hani selama beberapa lama sementara Tante Hani asyik menyelomoti perut ramping anak gadis satu-satunya itu. Perlahan kepala Tante Hani mulai turun membuat Mbak Viday mengerang semakin keras. Ketika Tante Hani sampai di selangkangan anaknya, dengan tiba-tiba Tante Hani menjilati cepat klitoris anaknya itu.

“Mamaaaaa…… Enaaaaaakkkkkk……”

Aku tak tahan lagi. Aku berdiri di belakang Tante Hani yang sedang menjilati memek anak kandungnya sendiri, lalu dengan satu tusukkan, aku hujamkan kontolku kedua kalinya hari itu ke dalam lobang kakak ibuku itu.

Tante Hani menggumam namun tidak melepaskan jilatannya. Aku pegang pinggul tanteku itu dan mulai mengentotinya dengan keras-keras. Sementara Mbak Vidya mengerang-erang karena memeknya terus dilahap ibunya, bahkan kini dengan jari tengah, lubang vagina Mbak Vidya mulai dicolok-colok oleh Tante Hani.

Peluhku sudah membanjir dan pantat Tante Hani sudah kuhajar berkali-kali dengan selangkanganku sementara kontolku merojok-rojok di dalam memek sempitnya. Tiba-tiba badan Tante Hani menjadi kaku dan kurasakan memeknya kembali bergetar sementara cairan memeknya menyembur sehinga luber keluar membasahi kontol dan selangkanganku selain selangkangannya sendiri. Saat itu, Mbak Vidya berteriak karena orgasme, sebab saat Tante Hani orgasme, ia mengenyot kelentit Mbak Vidya dengan keras, menyebabkan Mbak Vidya pun klimaks.

Tante Hani menjatuhkan diri di samping kanan Mbak Vidya, sementara aku belum puas. Kulebarkan kaki Mbak Vidya lalu aku hujamkan kontolku ke dalam memeknya. Mbak Vidya menjerit kecil. Kutindih badannya dan merengkuh payudaranya, sambil kuremas erat, aku mulai mengentoti Mbak Vidya dengan cepat dan kuat. Memek Mbak Vidya memang yang paling sempit yang pernah aku rasakan, sehingga sensasinya memang berbeda. Mbak Vidya yang lemas memegang pergelangan tanganku perlahan, untuk sementara ia tidak memberikan banyak perlawanan.

Namun tak lama Tante Hani kembali ke dalam kancah peperangan. Ia merangkak dari arah berlawanan di hadapanku, sehingga kepalanya dan kepala Mbak Vidya terbalik dan ia mulai menjilati wajah Mbak Vidya sehingga tak lama seluruh wajah anaknya telah habis dilumuri ludahnya, kemudian ia mulai turun menjilati leher sampai tak ada satu jengkalpun yang lewat, untuk dilanjutkan dengan menjilati bagian atas dada Mbak Vidya. Aku sangat suka melihat seorang ibu menjilati anak perempuannya, sehingga tanganku kulepas dari tetek Mbak Vidya dan aku memegang pinggul Mbak Vidya saja dan memperhatikan lidah Tante Hani asyik menjilati payudara anak kandungnya itu. Sementara, tangan kiri tante Hani tampak diselipkan di selangkangannya sendiri tanda bahwa ia sedang masturbasi juga.

Dari sudut pandangku, aku hanya melihat punggung bohay penuh keringat milik tanteku, kepala bagian belakang dan atas, dan sedikit wajah tanteku, diiringi lidahnya yang menjilati tubuh anaknya, sekarang ia sedang asyik menjilati pusar Mbak Vidya. Dalam usaha mendekati klimaks, begitu gemasnya aku melihat pemandangan di depan sehingga akhirnya aku raih kedua payudara besar Tante Hani yang menggantung di tubuhnya, lalu aku mulai menciumi punggung Tante Hani yang basah itu.

Cukup lama juga aku meremasi payudara besar tanteku sambil menciumi dan menjilati punggungnya, tak lupa aku cupangi sekujur punggung tanteku itu sebagai bukti cintaku dan bukti bahwa aku pernah menggauli perempuan itu. Bau tubuh Tante Hani dan bau tubuh Mbak Vidya kini sudah terekam dengan baik di otakku, sama seperti bau tubuh ibuku. Sehingga seluruh anggota tubuh mereka bagiku adalah kekuasaanku, dan seluruh anggota tubuh mereka adalah taman bermainku.

Saat aku sudah dekat klimaks, kurasakan tubuh Tante Hani maju lagi dan tahu-tahu lidahnya menjilati bagian selangkanganku dan selangkangan Mbak Vidya di mana saat itu sedang terjadi persenggamaan antara kontolku dan memek Mbak Vidya. Kulihat kedua tangan tante Hani juga sudah menumpu di tempat tidur, pantat Tante Hani kini sudah ditekan di bawah, rupanya ditekan di wajah anaknya, dan kuyakin bahwa Mbak Vidya kini sedang menjilati memek ibunya walaupun aku tak dapat melihatnya.

Pemandangan ini membuat aku tidak tahan lagi sehingga tiba-tiba kontolku menyemburkan sperma di dalam tubuh sepupu yang paling kucinta itu dengan selangkanganku yang kutekan diselangkangannya. Mbak Vidya juga mengejan dan dapat kurasakan memeknya menjadi lebih basah karena cairan vaginanya merembes cepat keluar tanda orgasme, sementara Tante Hani asyik mengenyoti bulu jembutku dengan keras dan tubuhnya pun mengejan, kulihat pantatnya menekan ke bawah.

Tetes terakhir spermaku kubuang dalam rahim sepupuku yang cantik itu, sementara Tante Hani dengan lemas menggulingkan diri ke samping anaknya, dengan kepala sejajar paha Mbak Vidya. Aku sendiri menindih Mbak Vidya walau kontolku masih bersarang di gua kenikmatan miliknya. Mbak Vidya tersenyum lemah, sementara aku kini mulai menjilati wajahnya yang penuh dengan cairan memek Tante Hani.

Kehidupanku sungguh ajaib dan hebat, pikirku. Sekarang, tinggal memikirkan cara untuk ibuku mau bersetubuh rame-rame seperti halnya Tante Hani dan Mbak Vidya. Well to the well well well, tunggu tanggal mainnya!

Petualangan Ari IV: Dengan Tante Hani

Tiga hari pertama aku tinggal di rumah Tante Hani, aku dan Mbak Vidya tiap malam berhubungan seks. Kami bangun selalu sebelum jam 4 pagi untuk melakukannya sekali lagi sebelum aku pindah ke kamar tamu.

Namun, setelah petualangan seksku dengan ibu di rumah kami, nafsu seksku terbiasa diumbar bebas, melakukan seks hanya malam dan pagi membuat aku merasa kekurangan. Akhirnya, pada hari ke empat, aku mencoba melakukannya di pagi hari setelah sarapan.

Saat itu kami sedang duduk di ruang keluarga. Tante Hani sedang berkebun di halaman belakang. Pembantu mereka sedang keluar untuk belanja bahan makanan. Aku dan Mbak Vidya baru selesai sarapan dan memutuskan untuk menonton TV.

Mbak Vidya duduk memanjang di sofa besar dengan kaki di atas sofa menghadap TV. Aku duduk di sofa kecil di sebelahnya. Mbak Vidya belum mandi dan masih mengenakan piyama model celana panjang dan baju you can see dengan kancing di depan. Saat itu udara tidak begitu panas, namun Mbak Vidya baru saja sarapan indomie rebus dan sedang bermandikan peluh.

Bau tubuh Mbak Vidya yang belum mandi sedikit tercium dari tempatku duduk. Rambutnya agak lepek dan ia sedikit terengah-engah mungkin karena beberapa cabe rawit yang dimasak di indomienya. Aku menjadi horny.

Aku segera menghampiri Mbak Vidya lalu melumat bibirnya yang merekah itu tiba-tiba. Untuk beberapa waktu Mbak Vidya membalas lidahku dengan lidahnya. Dari mulutnya aku dapat merasakan sedikit kuah indomie rasa kari ayam yang membuat aku bertambah buas melumat bibir dan mulutnya. Bunyi kecupan bibir kami mulai bertambah banyak dan cepat. Namun akhirnya Mbak Vidya mendorongku dan dengan suara tertahan berkata,

“Adek! Nanti kelihatan orang lain. Lagian Mbak kan belum mandi!”
“Ga ada orang, Mbak. Terus, biar Mbak belum mandi, tubuh Mbak harum baunya.”
“tapi kalo kelihatan Ibu gimana?”
“Ari kangen, Mbak….. ga tahan nih…….”
“Ah…. Ariii…… jangan dong…….. bahaya….”
“Mbak…. Sebentar aja ya……. quickie express aja gimana? Ga tahan nih….. abis Mbak cantik banget…… bikin Ari ga nahan…..”
Mbak Vidya mengerutkan keningnya, aku mengecup bibirnya lagi. Kami berciuman sebentar sebelum akhirnya Mbak Vidya melepaskan ciuman lagi.

“Jangan ahhhhh…..”
Dengan cepat aku merogoh celana piyamanya dan terkejut ketika mendapati tangan kiriku itu tidak terhalangi celana dalam melainkan telapakku meraba selangkangannya yang gundul itu.

“Adek!”

Mbak Vidya menghardikku pelan dan tangannya menahan tanganku namun tidak berusaha menepis tanganku. Hanya menahan pelan saja. Aku menggerakan jemariku hingga mengelusi bibir memeknya. Mbak Vidya mendesis sambil membisikan agar aku menghentikan aktivitasku itu.

Namun aku tetap mengelusi kemaluan botak Mbak Vidya sambil cengengesan. Mbak Vidya mengerutkan dahinya sambil memonyongkan mulut untuk memperlihatkan bahwa ia sebal. Namun di mataku, Mbak Vidya tambah cantik saja.

“Mbak Vidya tambah cantik loh…..”

Lalu aku mencium bibirnya dan kali ini kami berciuman agak lama. Lambat laun vagina Mbak Vidya menjadi basah juga dan keringatnya bertambah deras. Bau tubuh Mbak Vidya menjadi bertambah keras tercium di udara.

“ya udah…. Di kamar Mbak aja ya…. biar bisa dikunci,” kata Mbak Vidya setelah melepaskan ciuman kali ketiga dan sambil berdiri untuk berjalan cepat ke kamar. Aku tidak siap sehingga butuh sepersekian detik untuk mengejarnya.

Aku berhasil mengejarnya di kaki tangga dan memegang tangannya, tapi Mbak Vidya lebih cepat reaksinya dan berhasil melepaskan diri. Kami berkejaran sehingga pertengahan tangga di mana tangganya membelok 90 derajat dan kali ini aku berhasil memegang kedua pinggulnya. Mbak Vidya berusaha meloloskan diri namun tak berhasil. Ia memegang pagar tangga dan berusaha menarik tubuhnya agar lepas dari cengkramanku.

Berhubung tanganku mencengkram celana piyamanya maka kini tiba-tiba saja celana panjangnya itu tertarik sampai lutut.

“Aaaahhh…..” jerit Mbak Vidya.

Mbak Vidya berhenti walau berhasil naik satu tangga karena celananya melorot sehingga posisinya kini sedang berpegangan ke tangga dengan kaki kanan di anak tangga yang lebih tinggi satu tingkat dari anak tangga tempat kaki kirinya berada. Posisinya ngangkang. Berhubung ia tidak pakai celana dalam, maka kini Mbak Vidya sedikit nungging berpegangan tangga dengan pantat dan memek yang telanjang dengan kaki kanan menekuk berlutut karena tertahan oleh cengkramanku di kakinya.

Dengan sigap aku segera menghampiri Mbak Vidya sambil melorotkan celana pendekku lalu memposisikan kontolku yang sudah tegang didepan memeknya yang basah itu dan menusuk lubang kenikmatan Mbak Vidya.

Gerakanku begitu cepat sehingga hanya membutuhkan beberapa detik saja. Memek Mbak Vidya sudah basah namun belum kuyup, sehingga agak sedikit seret. Sensasinya bagaikan sedang memperkosa, dan aku menjadi buas.

“Adeeeekkk……” erang Mbak Vidya.

Dengan cepat aku merojok-rojok memek Mbak Vidya yang sempit dan hangat itu dengan kontolku, kemudian aku peluk Mbak Vidya dari belakang dengan kedua tanganku untuk kupegang baju piyamanya di bagian lubang leher piyama itu, lalu dengan sekuat tenaga aku bedol baju piyamanya sehingga berhamburanlah beberapa kancing-kancing piyamanya sehingga kini piyamanya terbuka paksa, namun masih ada dua kancing tersisa dan kembali aku buka paksa sehingga kedua kancing itu copot juga.

Aku remas teteknya yang ternyata masih terbalut bra. Dengan gemas aku melepaskan pelukanku dan hendak merobek bajunya, tetapi saat tangan kananku menarik kerah bajunya, Mbak Vidya melepaskan tangan kanannya dari pagar tangga dan menggerakan tangan itu ke belakang sehingga gerakanku membuat baju piyama Mbak Vidya terlepas dari tangan kanannya sehingga kini bajunya tergantung di tubuh bagian kiri karena tangan kiri Mbak Vidya masih memegang tangga.

Tak sabar aku geser baju itu ke samping sehingga berjumbel di tangan kiri Mbak Vidya. BH hitam Mbak Vidya kini yang menutupi tubuh bagian atasnya. Sungguh indah melihat punggung putih penuh keringat Mbak Vidya yang berbalut bra hitam sementara tubuh bagian bawahnya sudah telanjang bulat. Tubuh seksi itu terguncang-guncang karena gempuran tubuhku yang sedang mengawininya di tangga. Mbak Vidya kembali memegang tangga dengan kedua tangannya, tak peduli lagi baju piyamanya yang sudah rusak dan tergantung di tangan kiri.

Selama itu, memek Mbak Vidya kini sudah basah kuyup membuat dinding kemaluan Mbak Vidya yang sempit itu semakin licin. Selangkanganku menampari pantatnya semakin cepat. Aku menyusupkan kedua tanganku ke dalam BHnya dari arah bawah sehingga kedua tanganku dapat meremas kedua payudara Mbak Vidya tanpa halangan apapun lagi, namun aku tak mau melepas BHnya, karena dari belakang terlihat seksi sekali pemandangan seorang perempuan yang hanya memakai BH hitam sementara bagian tubuh yang lain sudah bugil.

Aku mulai menjilati punggung Mbak Vidya yang basah kuyup oleh keringat kakak sepupuku itu. Tak lupa aku memberikan cupangan di sana sini. Sementara kini Mbak Vidya hanya mampu mengerang saja kugagahi di tengah tangga seperti ini sambil tetap berpegangan pada jeruji tangga. Makin lama punggung putih indah Mbak Vidya sudah belang-belang dihiasi bercak cupanganku telah bermandikan keringatnya yang bercampur air ludahku. Sementara, Mbak Vidya sudah mengerang-ngerang dan badannya maju mundur dengan cepat.

Aku pun menambah cepat goyanganku. Suara selangkanganku dan pantat Mbak Vidya beradu terdengar membahana terpantul dinding rumah yang besar itu. Sementara tanganku terus menerus meremas-remas tetek Mbak Vidya dengan penuh nafsu, entah apakah Mbak Vidya merasakan sakit, aku sudah tidak lagi peduli.

Jepitan memek Mbak Vidya yang belum lama ini masih perawan memang sensasional. Kontolku bagaikan terhimpit dinding berbentuk silinder yang hangat dan licin. Setiap gerakan kontolku entah maju entah mundur menyebabkan sedikit rasa ngilu yang menjalar sepanjang batang kontolku menuju seluruh tubuhku.

Entah berapa lama kami ngentot di tangga, akhirnya Mbak Vidya duluan orgasme. Dinding memeknya seperti biasa bagaikan hidup, membuka menutup di sekeliling batangku seakan hendak menghisapi alat vitalku agar masuk lebih dalam lagi. Beberapa detik kemudian aku merasakan puncak kenikmatan persenggamaan ini, dengan menggenggam payudara Mbak Vidya keras-keras, aku mengenyot kuat-kuat punggungnya sambil aku tekan kontolku sejauh yang kudapat di dalam lubang persenggamaan kakak sepupuku itu dan memuntahkan spermaku dalam rahim mudanya.

Beberapa saat berlalu kami berdua melepaskan nafsu birahi, dunia bagaikan berhenti berputar, waktu bagaikan terdiam sejenak. Seluruh indera kami memusatkan perhatian pada kedua kelamin kami yang sedang bersatu dan berbagi klimaks.

Tak lama Mbak Vidya selesai orgasme dan tubuhnya melemah dan bagian depan tubuhnya merosot kebawah, sementara aku menegakkan badan tanpa melepaskan alat vitalku yang masih bersarang di dalam lembah kenikmatannya. Sungguh pemandangan indah.

Suara kaki Tante Hani membuat kami otomatis bergegas merapikan baju kami dan berlari ke kamar agar tidak ketahuan..

Setelah hari keempat, ada perubahan pada Tante Hani yang kurasakan, tiap kali aku sedang berdua dengan Mbak Vidya, Tante Hani menatap kami berdua dengan pandangan aneh, yang menurutku mirip-mirip dengan pandangan orang yang sedang bercuriga. Apakah Tante Hani mengendus sesuatu yang aneh dari hubunganku dan anaknya?

Kalau dipikir-pikir, antara Mbak Vidya dan aku sekarang mesra sekali. Kami selalu berdua kemana-mana. Mbak Vidya seringkali merangkul lenganku bila berbicara, dan kami tidak risih saling berbisik-bisik. Jadi, aku semakin yakin bahwa Tante Hani menjadi curiga karena hubungan aku dan anaknya sudah seperti dua remaja yang sedang jatuh cinta satu sama lain.

Hal ini aku sampaikan kepada Mbak Vidya ketika kami berduaan di kamar setelah hari yang kelima aku menginap di sana, namun Mbak Vidya hanya tertawa saja dan berkata padaku,

“Makanya, kamu otaknya ngeres melulu sih. Sedikit-sedikit kalau tidak ada orang kamu nyiumin Mbak. Terus kalau yakin ga bakal ada orang yang ganggu, kamu setubuhi Mbak di tempat, ga peduli lagi ada di tangga, kamar mandi, ruang makan dan di mana aja. Itulah sebabnya kamu jadi parno sendiri. Supaya ga parno, kamu coba deh jangan terlalu nafsu sama Mbak. Masa sama Mbaknya sendiri nafsu?”

“Salah Mbak Vidya sendiri…” kataku cepat.
“Loh, kok salah Mbak? Kan adek yang selalu duluan ngajakin Mbak untuk gituan gak pandang tempat dan waktu.”
“Habis Mbak Vidya itu cantik banget. Kalau dekat begini Ari selalu nafsu. Biar Mbak Vidya pakai baju yang longgar pun, tapi kalau Ari udah mencium aroma tubuh Mbak Vidya, selalu deh burung Ari bangun…”
Mbak Vidya tertawa kecil lalu mendorong kepalaku sambil berkata,

“Dasar lelaki! Biar masih kecil tapi otaknya ngeres melulu!”

Aku merengutkan mukaku pura-pura marah, namun kemudian kupeluk tubuhnya dari samping. Saat itu kami sedang tiduran menghadap langit-langit sambil berbicara. Pelukanku membuat tubuhku setengah menindih tubuh Mbak Vidya sementara bibirku menyerang bibirnya.

“Tuh, kan……” kata Mbak Vidya merajuk sesaat sebelum kedua bibir kami bertemu.
Tak lama aku sudah menindih Mbak Vidya sementara kami berdua asyik menukar ludah dengan kedua lidah kami yang bergelut dalam rongga-rongga mulut kami. Tiba-tiba saja terdengar panggilan Tante Hani yang mengajak kami makan siang dan suara itu sudah dekat kamar Mbak Vidya.
Serta-merta aku menggulingkan tubuh ke samping dan saat aku duduk di pinggir tempat tidur pintu kamar telah terbuka. Mbak Vidya tidak secepat aku beraksi. Dia masih berbaring telentang dan wajah yang terkejut. Untung saja kami belum membuka baju kaos kami. Benar-benar nyaris ketahuan!
“Lagi ngapain pada?” tanya Tante Hani. Aku mendengar nada menuduh di kalimat itu, namun Mbak Vidya tampaknya tidak merasakan yang sama. Mbak Vidya lalu menjawab,
“Biasa, Ma.. lagi ngobrol aja…”

Aku melihat Tante Hani melirik selangkanganku. Aku saat itu memakai kaos singlet dan celana boxer. Dan baru kusadari bahwa burungku sedang tegang. Celana boxer itu memperlihatkan batangku yang panjang dan keras menyembul seakan mau mengeluarkan diri dari kungkungan celana ketat itu. Parahnya lagi, aku ketahuan hanya memakai baju dalam saja yaitu Singlet dan celana boxer (bagi yang tidak tahu, celana boxer adalah celana dalam model celana pendek).

Mbak Vidya memakai kaos you can see dan celana pendek ketat pula. Bila diperhatikan, maka putingnya terlihat menembus baju kaosnya itu karena Mbak Vidya tidak pakai BH. Untung saja celana pendek Mbak Vidya tidak tipis, karena pada saat itu kakak sepupuku itu juga tidak memakai celana dalam. Bila celananya tipis, tentu akan terlihat bahwa ia tidak memakai celana dalam.

Tante Hani meninggalkan kamar dengan alis yang ditekuk. Aku pikir tanteku itu sudah mulai mengendus ketidak laziman hubungan anaknya dan aku. Sebelum aku dapat membahas ini, Mbak Vidya sudah mendorongku ke luar kamar dan menyuruhku makan siang duluan. Aku bergegas ke kamarku untuk memakai celana panjang dan kaos, dan ketika aku sampai di ruang makan, Mbak Vidya juga sudah memakai celana jins dan kaos longgar.

Setelah makan siang Tante Hani pergi, katanya ia akan kembali sebelum makan malam. Kesempatan ini segera aku manfaatkan sebaik-baiknya. Mbak Vidya dan aku main sampai tiga kali sore itu. Alhasil, ketika makan malam selesai, Mbak Vidya yang kelelahan sudah tidur duluan. Aku sempat ingin merasakan menyetubuhi perempuan yang sedang tidur, namun akhirnya aku putuskan untuk ke ruang keluarga untuk menonton TV.

Aku agak terkejut ketika mendapati Tante Hani sedang menonton TV dengan berbaring di sofa. Kekagetanku disebabkan pakaian Tante Hani yang seksi sekali. Beliau memakai gaun tidur tanpa lengan yang panjang roknya berhenti di atas lututnya. Gaun tidur itu berwarna hitam, namun di beberapa bagian transparan, yaitu pada bagian atas dadanya dan di bagian perutnya. Bagian atas gaun itu berbentuk setengah lingkaran, yaitu pada bagian tali lengannya dan bagian atas dadanya. Bagian atas dada yang terlihat hanya sampai permulaan kedua payudara tanteku itu mulai meninggi. Berhubung kedua teteknya besar, maka terlihatlah bagian lipatan dadanya membentuk garis sangat tipis karena himpitan kedua payudara yang besar itu.

Saat aku memasuki ruang keluarga, Tante Hani sedang tiduran dengan tangan kirinya diletakan di atas bantal menyangga kepalanya, sehingga terlihatlah ketiaknya yang putih dan berbeda dari ibuku, Tante Hani mencukur habis ketiaknya. Bahkan, tidak terlihat ada satu pun akar rambut di situ. Mungkin Tante Hani mencabuti bulu ketiaknya dengan teratur, karena tidak ada tanda bekas cukur yang menggelap di sana. Ketiak Tante Hani benar-benar mulus dan botak. Dengan melihat ini saja, sontak kejantananku mengeras sampai pol.

“Ari?” tanya tante Hani padaku sedikit terkejut. “Tumben kamu turun ke sini. Biasanya main sama Mbakmu terus…”

Aku merasakan sedikit ketakutan ketika Tante Hani mengatakan ‘main’, aku parno apakah ia mengetahui bahwa aku selama beberapa hari ini terus menggauli anak gadisnya itu?

“Eh…..” kataku sedikit tercekat,” Mbak Vidya udah tidur. Mungkin capek.”

“Ah… capek gimana?” jawab Tante Hani,”wong kerjanya makan tidur kalo libur begini. Memang doyan tidur aja dia..”

Aku duduk di sofa kecil di samping sofa besar yang ditiduri Tante Hani. Aku lupa pakai celana panjang tadi, sehingga kini aku hanya memakai celana boxer dan kaos singlet. Berhubung aku pikir Tante Hani sudah masuk kamarnya sendiri. Tiap kamar ada TV-nya, sehingga aku tidak menyangka ternyata Tante Hani nonton di ruang keluarga.

Sepanjang jalan dari saat aku memasuki ruangan hingga aku duduk, aku memperhatikan lekuk tubuh Tante Hani yang semok. Perutnya buncit, tapi bukan buncit gendut, hanya daerah sekitar pusar saja yang buncit tanda pernah melahirkan, juga aku memperhatikan ketiaknya yang putih bagai salju. Lebih putih dari kulit bagian lain. Tidak terlihat bekas cukur di situ. Bagaikan ia memang tidak memiliki bulu ketiak dari dulu.

Ketika aku sadar aku kurang ajar dengan menatapi tubuhnya seperti itu, aku segera menatap matanya, yang ternyata sedang menatap selangkanganku. Memang saat itu burungku sudah tegak, apalagi karena melihat tubuhnya yang walau memakai gaun tidur, tapi tampak seksi sekali.

Ketika aku sudah akan duduk, aku masih menatap matanya yang sedang asyik memperhatikan daerah terlarangku, barulah ketika aku duduk, mata Tante Hani menatap mataku. Sesaat kami bertatapan mata, aku melihat tatapannya yang berhiaskan harap, sehingga aku bukannya takut namun malah memberanikan terus menatap matanya. Aku pernah melihat tatapan yang sama pada ibuku dan Mbak Vidya, terutama ketika mulai birahi. Apakah Tante Hani sedang horny?

Setelah sejenak kami bertatapan, Tante Hani memalingkan mukanya dariku dan menatap TV lagi. Semburat merah terlihat di wajahnya yang putih. Menurutku, wajah wanita dewasa yang sedang tersipu seperti tanteku itu menjadikan kecantikannya bertambah seksi.

Kami terdiam selama beberapa waktu. Entah dua, tiga atau lima menit. Kami asyik dengan pikiran kami sendiri. Namun kemudian, setelah berdehem, tanteku berkata,

“Ari… tante mau ngomong sama kamu…. Kamu jangan marah ya….”

Seketika aku lemas. Aku saat itu berpikiran bahwa mungkin ini adalah saatnya Tante Hani akan memarahi aku karena hubunganku dengan anaknya. Tante Hani kemungkinan besar sudah tahu jalinan terlarang antara Mbak Vidya dan aku.

“Begini, Ri. Kamu tau kan Mbakmu Vidya. Dia itu baru lulus SMA. Rencananya tahun ini dia akan meneruskan kuliah. Mbakmu itu, remaja anak Jakarta. Pergaulan di Jakarta itu sekarang sudah modern. Nilai-nilai lama sudah ditinggalkan. Batas kesopanan sudah berbeda dibanding pada masa Tantemu dan ibumu dulu masih muda.

“Tadi siang Tante lihat kalian berdua di kamar tidur, memang sih hanya berbicara, namun pakaian kalian itu tuh. Masak hanya pakai baju dalam saja? Bukannya Tante marah, tapi rasanya ga pantas dua anak remaja berduaan pakai baju yang minim. Jangan bilang bahwa kamu sih biasa saja menghadapinya. Wong tante merhatikan burung kamu itu tegang, kok, waktu di dalam kamar Mbakmu. Sama kayak sekarang, burung kamu tegang lagi.

“Maksud tante, kamu ini sudah besar. Hal-hal seperti ini kamu sudah mengerti. Buktinya kamu kalau melihat perempuan pakai baju minim, kamu sudah mempunyai hasrat seksual. Jadi sebenarnya kamu sudah tahu mengenai hal-hal yang saru. Itu bukan hal yang salah, dan tante tidak menyalahkan kamu, kok. Jadi kamu jangan sedih dulu (wajahku sedang memelas saat itu).

“Nah, Mbakmu Vidya itu, mungkin karena pergaulannya yang modern dengan teman-temannya, maka dia tidak merasa bahwa apa yang dilakukannya salah. Kamu juga ga salah, karena kamu pun kayaknya ga tahu bahwa sebenarnya kalian itu ga pantes berduaan dengan hanya baju yang minim.

“Maksud tante. Mbakmu itu bukan anak yang polos lagi. Walaupun dia sudah sumpah di depan tante bahwa dia masih perawan, tapi mengenai hal-hal yang dewasa dia itu juga sudah tahu. Mungkin Karena pergaulannya, atau mungkin pendidikan, atau dari media informasi. Seharusnya dia juga tahu bahwa dengan berbaju minim itu, dia mengundang kelelakian kamu.

“Nah. Kemarin siang Tante lihat kalian sedang ciuman di ruang makan. Ciumannya hot banget. Pakai lidah segala. Apakah kamu menyangkal?”

Jantungku berhenti berdetak untuk beberapa saat. Ternyata kecurigaanku terbukti. Tante telah menyaksikan kami ciuman! Apakah Tanteku tahu sejauh mana hubunganku dengan Mbak Vidya?

Karena aku belum menjawab, dengan perlahan Tante Hani bertanya lagi,

“Benar ga kata-kata Tante, Ari? Kamu dan Mbak Vidyamu itu ciuman, kan?”

Aku hanya mengangguk dan menunggu semprotan susulan dari tanteku itu.

“Tante minta maaf. Tentu saja bukan salah kamu. Kamu kan masih kecil. Baru kelas 2 SMP Juli nanti. Tante minta maaf karena tidak bisa mengontrol anak tante. Dia itu lebih tua, harusnya lebih tahu. Nah, setelah tante melihat kemesraan kalian itu, Tante menjadi bertanya-tanya dan berpikir. Kenapa sih Mbak Vidya itu yang katanya masih perawan malah menggoda adik sepupunya sendiri?

“Tante terus mengingat-ingat masa lalu. Kalian berdua semenjak kecil memang dekat sekali. Dan memang itu sah-sah saja. Karena seharusnya kalian menjadi kakak dan adik sebagaimana mestinya. Tetapi, tante ingat ketika tahun lalu, kamu ini baru mau lulus SD, terakhir kali kamu dan mamamu menginap di rumah Tante.

“Entah kenapa kalian menjadi jarang ke sini lagi. Dan ini merubah Mbak Vidyamu. Dia jadi menutup diri di kamar. Waktu itu tante kira karena dia baru saja putus dari pacarnya. Jadi tante ga banyak pusing. Tetapi sekarang, ternyata Tante tahu permasalahannya.”

Aku semakin keringat dingin. Bentar lagi pasti akan pecah nih kemarahan Tanteku.

“Setelah tante pikir-pikir dengan seksama. Maka, tante menduga bahwa Mbakmu itu sebenarnya jatuh cinta sama kamu. Itulah kenapa tahun lalu dia tampaknya sedih. Dan itulah kenapa sekarang ketika kamu nginep di sini lagi, Mbakmu itu merayu kamu. Sampai kalian ciuman. Nah, yang tante mau tekankan adalah, jangan sampai hubunganmu terlalu jauh dengan Mbakmu. Kalian berdua ini masih muda. Masih sekolah. Jangan sampai ada sesuatu yang menghambat perkembangan kalian…”

Pertama-tama aku mendengarkan dengan penuh perhatian apa yang Tante Hani katakan. Mau ga mau. Karena aku ketakutan dimarahi, aku menjadi siaga dan mendengarkan penuh apa yang ia katakan padaku. Tetapi setelah akhirnya aku mendapati bahwa Tanteku itu tidak marah padaku, pikiranku mulai ngelantur lagi. Mataku bagaikan ditarik oleh magnet yang tak terlihat dari tubuhnya sehingga mataku bolak-balik memperhatikan pangkal lengannya yang mulus dan dua buah payudaranya yang besar. Ketiak yang bersih dan botak bagaikan ketiak anak kecil dan gundukan buah dadanya mengirimkan sinyal yang tabu kepada naluri kelelakianku.

Tidak kusadari Tante Hani sudah tidak berbicara lagi. Suasana rumah menjadi hening. Dengan gugup aku memandang matanya yang saat itu sedang menatap mataku dalam-dalam. Wajah Tante Hani terlihat aneh. Tidak seperti biasanya. Seperti ada raut kegusaran yang diselingi oleh suatu ekpresi wajah yang aku tak pernah melihat sebelumnya.

“Tante perhatikan mata kamu menjelajahi dada dan ketiak Tante,” kata Tanteku dengan suara yang perlahan namun seakan menusuk jantungku,”memang ada apa dengan dada dan ketiak Tante?”

Dadaku berdebar tidak karuan. Mataku yang jelalatan sudah tertangkap basah. Aku bingung harus bilang apa kepada Tanteku itu. Aku menelan ludah dan berkata,

“eeee…… Tan…. Tan…. Tante cantiiiik….”

Tante Hani terdiam sebentar lalu berkata agak lirih,

“Tante cantik? Tante yang sudah tua dan gendut ini? Mbak Vidya kamu itu yang cantik. Muda. Badannya masih seksi, kan?”

Membahas ini bagaikan sesuatu yang normal menambahkan keberanianku untuk berbicara. Mungkin aku bisa merubah semua ini menjadi keuntungan bagi diriku sendiri.

“Mbak Vidya memang cantik. Tapi Tante ju… juga cantik. Tante memiliki kematangan. Apalagi da… dada Tante itu jauh lebih eee….. berisi daripada Mbak Vidya…” kataku sedikit terbata.

“tapi kenapa kamu juga memperhatikan ketiak Tante?”

“Ga tahu tante. Ari su… suka aja melihat ketiak Tante yang bersih tanpa bu.. bulu.”

“Masa sih? Mana ada lelaki yang suka sama ketiak? Oom kamu aja ga pernah melihat ketiak Tante seperti ini. Kamu sebenarnya jijik ya ngelihat tante buka ketiak seperti ini? Biar tante tutup tangan Tante.”

Tante Hani beringsut mengangkat kepalanya yang tadi menindih tangannya. Aku melihat kesempatan untuk menyentuh wanita setengah baya yang bohai ini, maka aku buru-buru memegang lengan bawahnya tepat di bawah siku sambil belagak panik sambil berkata,

“Jangan Tante! Biarin aja.”

Tante Hani tampak kaget dan tidak tahu harus berbuat apa. Ia terdiam saja melihatku yang tadi duduk di sofa kecil di samping sofa besarnya itu kini sudah bergerak cepat menahan tangannya sehingga posisiku kini berlutut dihadapannya sambil memegang lengan kirinya itu.

Mataku terpaku kepada ketiaknya yang putih bersih itu. Pengalamanku dengan dua perempuan sebelumnya yang memiliki rambut ketiak menjadikan aku penasaran juga dengan perempuan yang mencukur bulu ketiaknya sehingga bersih. Apalagi aroma tubuh Tante Hani menambahkan daya erotisnya.

“Kalo… kalo boleh Ari mau lihat ketiak Tante lebih lama…” kataku perlahan.

Tante Hani tampak seperti berpikir ketika aku melirik wajahnya sebentar sebelum aku menatap lagi ketiaknya. Kusadari nafasnya kini mulai agak berat. Lalu Tante Hani berkata,

“Apa betul, Ri? Ga bohong? Memang sih kamu melihati terus ketek Tante kayaknya kamu suka. Tapi kamu masih melihat dari jauh. Tante masih ga percaya kamu suka sama ketiak Tante yang bau ini. Pasti kamu muak mencium bau ketiak Tante. Apalagi sore tadi Tante lupa mandi. Habis, mikirin kalian berdua sih.”

Ini kesempatan kedua, pikirku. Aku sekilas ingat bahwa Tanteku sedang ada permasalahan dengan Oomku. Ada kemungkinan sudah lama dia tidak disentuh laki-laki. Dalam sepersekian detik aku telah memutuskan tindakanku selanjutnya.

Dengan gerakan kilat, aku membenamkan hidungku di ketiak kirinya itu. Aroma Tanteku mirip dengan aroma tubuh Ibuku. Tetapi masih ada perbedaannya. Aroma tubuh tanteku tidak setajam Ibu melainkan sedikit halus dihidungku. Lebih mirip dengan aroma Mbak Vidya.

Tante Hani mengeluarkan pekik kecil dan mendorong kepalaku dengan tangan kanannya. Katanya tegas,

“Ari! Apa yang kamu lakukan?”
“Tante kan tidak percaya sama Ari,” kataku sambil menggunakan tangan kiriku menolak tangan kanan Tante Hani,” makanya mau Ari buktikan. Bau tubuh Tante Hani sangat wangi bagi Ari. Wangi banget, Tan.”

Lalu kembali aku membenamkan hidungku di ketiaknya. Kurasakan perlawanan di tangan kanan Tante Hani, namun aku terus menahan tangan itu dengan tangan kiriku. Beberapa saat aku menghirup aroma ketiak kiri Tante Hani sebelum akhirnya aku menjilati ketiak yang bersih itu.”

“Ahhhhhhh” desah Tanteku. Kini tangan kanannya berhasil mengalahkan tangan kananku. Berhubung aku masih anak bau kencur dan ia sudah dewasa. Tangan kanan itu tiba-tiba saja menjambak rambutku. Aku bersiap menahan sakit saat ia menjambak rambutku menjauh dari ketiaknya, tetapi ia hanya meremas saja tanpa menarik kepalaku. Sepertinya ini lampu hijau.

Sambil menjilati ketiaknya, aku menatap wajah Tante Hani. Ia sedang menatapku. Wajahnya penuh kekagetan dengan mulut menganga. Kami bertatapan lama juga. Ia memperhatikanku menjilati ketiaknya yang asin dan hangat. Tidak ada satu patah katapun keluar dari mulutnya. Aku mulai mengenyot keteknya, dari ujung bawah sampai ujung atas. Terkadang bahkan bagian bawah lengannya ikut tersapu juga oleh mulutku.

Mungkin ada sekitar lima menit aku menyelomoti ketiaknya. Aku tak yakin. Aku tidak memperhatikan jam dinding. Kemudian aku mulai meneruskan menjilat dan mengenyoti ke atas yaitu bagian bahu kirinya. Ketika pipiku menyentuh dagunya, aku segera mematuk mulutnya yang terbuka dengan mulutku.

Ketika bibirku menyentuh bibirnya, secara otomatis Tante Hani mengatupkan bibirnya, saat itu bibir bawahku tepat diantara kedua bibirnya, sehingga saat bibirnya menutup, bibir atas Tante Hani langsung aku kenyot dengan kedua bibirku.

Tante Hani memalingkan wajahnya ke arah punggung sofa sehingga bibir kami berpisah. Ia berkata lirih,

“Ari…. Kamu mau ngapain sih? Jangan…..”

Tangan kiriku yang memegang tangan kanannya dan juga tangan kananku yang menahan lengan kirinya tidak mendapatkan perlawan sama sekali. Aku menatap wajahnya. Wajah Tante Hani kini berpaling kembali ke arah wajahku dan menatapku dengan mata membelalak.

Aku sempat bingung. Tante Hani bilang tidak mau, tapi badannya tidak melawanku. Ia tidak mendorong tubuhku. Kalau dia mau, dia mampu melawanku seperti yang tadi ia perlihatkan. Tapi kini tidak ada perlawanan darinya.

Aku mencium bibirnya lagi. Kembali Tante Hani memalingkan wajahnya dan berkata,

“Ari! Aku ini tantemu!”

Kucium lagi. Dan kembali ia menolak sambil berkata,

“Ari! Jangan kurang ajar ya! ini Tantemu!”

Aku terus mencoba mencium bibir Tante Hani tapi berulang kali ia memalingkan wajah dan memohon agar aku menghentikan aksiku ini. Setelah sekitar dua menit, ketika ia memalingkan wajah ke sekian kalinya, aku meneruskan ciumanku ke pipinya.

“Ari….. jangan dong…. Ini kan incest….. hentikan Ari!”

Lucunya Tante Hani berkata tanpa berteriak dan tanpa melawan. Aku pikir Tanteku ini orangnya sangat menjaga image. Ia tidak mau terlihat seperti wanita murahan, namun sebenarnya ia menyukainya. Namun melakukannya di sofa membuatku tidak leluasa. Maka aku berkata,

“Tante…. Tidur yuk, Ari sudah ngantuk nih…..” lalu aku berdiri. Tante Hani terdiam beberapa saat sambil beberapa kali menghela nafas. Lalu ia beranjak dari sofa lalu berjalan ke kamarnya. Aku mengikutinya.

Ketika Tante Hani masuk, ia menutup pintu sebelum aku masuk, namun ia menutupnya dengan lambat sekali sehingga aku berhasil menyelusup masuk.

Tante Hani menunjukkan wajah kaget, katanya,

“Ari! Kamu ngapain di kamar Tante? Tante mau tidur.”

Aku menutup pintu sambil berkata,

“Tidur aja Tante. Ari juga ngantuk mau tidur.”

“Ya udah kamu tidur di kamar kamu. Kamu ga boleh di sini.”

Ketika aku membalikkan badan kulihat Tante Hani sudah berjalan ke tempat tidur lalu merebahkan dirinya di tempat tidurnya yang besar setelah mendorong bed cover dengan kakinya sehingga kini ia tidur tanpa berselimut.

Aku cepat-cepat membuka bajuku hingga telanjang. Tante Hani kulihat memalingkan wajah ke arah berlawanan. Tak lama aku duduk di samping tempat tidur tepat di sebelah Tante Hani. Tante Hani menoleh kepadaku,

“Ari! Keluar! Tante mau tidur.” Suara tanteku itu bernada teguran, namun tidak berteriak. Aku perlahan menindihnya. Tante berkata lagi,” Ari! Jangan kurang ajar sama Tante!”

Kedua tangannya menolak pelan bahuku, kupegang tangannya lalu aku menahan tangannya di samping kedua kepalanya. Barulah kemudian dadaku menindih dadanya yang besar dan kenyal.

“Tante mau diapain Ari? Hentikan, Ari! Jangan kurang ajar!” kini suaranya lebih pelan, walau ada penekanan di kata-katanya bagaikan orang yang benar-benar marah. Baru kali ini aku dengar ada orang yang marah dengan suara pelan.

Aku cium bibirnya. Tante Hani tidak memalingkan wajahnya melainkan menutup mulutnya rapat-rapat sambil menggeleng-geleng kecil sambil menggumam seakan menolak. Kedua tanganku melepaskan pegangan pada tangannya lalu menahan kepalanya agar aku leluasa mencium bibirnya. Kedua tangannya gantian memegang pergelangan tanganku, mendorong tanganku pelan sambil sesekali menampar tanganku, ingin menunjukkan perlawanan. Tapi sebenarnya perlawanan pura-pura saja.

Kini kepalanya tak dapat bergerak. Barulah Tante Hani mulai berbicara lagi, namun kini membuat mulutnya terbuka sehingga lidahku dapat masuk ke mulutnya.

“Ari..mmmphhhh…. hentikan….mmmphhhh…… Ari…..mmpmmp sudahhhh…..mmmmphhhh”

Tiap kali ia berbicara, lidah kami bergesekkan dan tiap kali dia menggumam mmmppphhh sebenarnya Tante Hani mengenyot balik. Apalagi kini tangannya ikut aktif mendorong tanganku dan menampar tanganku. Walaupun hanya perlahan, tetapi anehnya membuat libidoku bangkit secara cepat sekali.

Aku yang selama kami bergulat merasakan kekenyalan tubuhnya, segera duduk di samping tubuhnya, lalu menarik dasternya ke atas badannya. Posisi Tante Hani tiduran telentang, sehingga susah membukanya. Namun, Tante Hani bergeliat-geliat di saat yang tepat sehingga sebenarnya membantuku dalam usaha membuka dasternya itu. Ketika dasternya berada di bawah pantatnya ia bergeliat dengan mengangkat pantat itu sambil terus mengoceh.

“Kamu mau apa Ari? Mau perkosa Tante? Jangan Ri! Tolong Ri! Hentikan!”

Selang semenitan lebih daster itu sudah kubuang ke lantai. Kedua teteknya bagaikan buah kelapa besarnya. Kalau ibu bagai kelapa yang diparut, kalo Tanteku ini bagaikan kelapa yang belum diparut. Namun bentuknya bulat dan kokoh. Hanya saja karena usia dan pernah melahirkan, payudaranya sedikit turun dan puting yang sedikit tertunduk ke bawah. Namun melihat ukurannya yang besar, sungguh bisa disebut tobrut!

Tante Hani tidak menutup kedua dadanya yang besar sama sekali melainkan ia malah menutup celana dalamnya sambil berkata,

“Jangan dibuka celana dalam ini, Ri! Tante ga mau!”

Melihat perilaku seperti ini, malah aku mengerti maksud Tanteku agar melorotkan CDnya. Maka aku segera menarik CDnya yang putih itu. Tante menggeliat lagi saat CD itu melewati pantatnya. Dan tak lama CD itu menemani daster Tante Hani di lantai. Aku tidak mau daster itu kesepian. Hehehehe.

Tante Hani mengangkang, namun dengan kedua tangan menutupi selangkangannya. Aku duduk di bawah selangkangan itu. Lalu aku tarik kedua tangan Tante Hani yang hanya memberikan perlawanan setengah hati sehingga membebaskan mataku melihat Vagina Tante Hani yang juga tidak memiliki rambut sama sekali! Licin bagaikan pualam. Sementara, kulihat memek Tante sudah basah oleh cairan kewanitaanya sendiri. Bau tubuh Tante Hani kini menguasai udara kamar.

Tak lama aku mulai menjilati memeknya yang indah itu. Memek itu berbeda dengan memek ibuku. Memek Tante Hani memiliki bibir luar yang lebih tipis dan bibir dalam yang tebal sehingga terlihat. Cairan kewanitaannya pun tampak lebih banyak dari ibu maupun Mbak Vidya. Baru sebentar saja, mulutku sudah kebanjiran cairan. Tubuh bohai Tante Hani menggelinjang terus bahkan ia mendorong selangkangannya agar menekan mulutku sementara kini kedua tangannya sudah menjambak rambutku sambil menarik kepalaku agar lebih menekan selangkangannya. Anehnya, sepanjang kami bergumul ia tetap mengutarakan penolakannya padaku,

“Jangan jilati memek Tante, Ri! Tante bukan Mbak Vidyamu! Tante bukan budak seks kamu! Tante bukan Mama kamu, perempuan jalang yang tidur sama anaknya sendiri!”

Untuk sejenak aku kaget. Ternyata Tante Hani ini pintar. Ia tahu segalanya. Ibuku tak mungkin menceritakan aib kami, pasti Tante Hani curiga dari telpon nikmat yang dulu ibuku dan aku lakukan ketika kami bersetubuh saat ibu telponan dengan Tante Hani! Dan mengenai aku dan Mbak Vidya, dia pasti pernah melihat kami ngentot di rumah ini.

Ketika Tante Hani orgasme, cairan kewanitaanya bagai menyemprot keluar. Pengalaman baru bagiku. Ibu dan Mbak Vidya tidak sampai sebegininya. Orgasme Tante Hani terjadi beberapa saat, sekitar satu menit sampai akhirnya ia dengan lemas memejamkan matanya. Tubuhnya tak bergerak selama beberapa saat.

Aku dengan sigap segera memposisikan kontolku di lubang vagina Tante Hani, dan dengan sentakan keras aku mendorong masuk kontolku hingga dalam satu tusukkan seluruh penisku terbenam dalam rongga memek Tanteku itu. Walaupun lorong kencing Tante Hani tidak sesempit Mbak Vidya, namun ternyata masih sedikit lebih kencang dari memek Ibuku. Sungguh nikmat rasanya kemaluanku dijepit dinding kemaluan Tanteku itu.

Tante Hani membuka mata dan menatapku sambil berkata lirih,

“Ari! Kenapa kamu masukkin? Kamu sudah memperkosa Tante! Hentikan, Ri!”

Aku menindihnya lagi, Tante Hani memeluk kedua pantatku. Aku menekuk sedikit kepalaku dan dengan bantuan tanganku aku memegang payudara besar Tante Hani lalu menyedotinya dengan rakus sementara tangan yang satu asyik meremasi yang sebelah. Sungguh berbeda rasanya menetek pada perempuan berpayudara jumbo. Empuk, kenyal dan luas sekali. Apalagi saat meremasnya, payudaranya seakan tak ada habis-habisnya!

Kedua kaki Tante Hani menjepit pantatku dan kedua tangannya seirama dengan tusukan-tusukanku terhadap organ intim kewanitaannya. Tubuh Tante Hani yang semok dan bohai sungguh enak di tindih. Empuk sekali. Aku bagaikan orang gila menyedot menghisap kedua buah payudara jumbo milik Tante Hani sehingga tak lama hampir keseluruhan dada Tante Hani sudah basah oleh ludahku dan terhias cupangan penuh nafsu di sana-sini. Sementara mulut Tante Hani terus meracau,

“Bajingan kamu Ri! Kamu sudah menggagahi Tantemu sendiri! Dasar bocah cabul! Bocah mesum! Kamu suka mengentoti keluarga sendiri! Tante tahu waktu kamu pertama sampai di sini, pasti kamu juga menggagahi ibu kamu waktu di jalan, kan? Bau memek ibu kamu Tante sudah hafal. Waktu itu bau memek ibu kamu keras sekali tercium, apalagi ada bau peju laki-laki. Pasti kamu ngecrot di dalam rahim ibu kamu, kan?

“Tante duga pasti bayi yang ada di perut ibu kamu adalah anak kamu. Dasar kamu bocah ngeres otaknya! Kamu menghamili ibu kamu sendiri! Kemarin saja Mbak Vidya kamu paksa ngentot di tangga. Tante lihat kamu menikmati menyemprot pejumu di dalam tubuh Mbakmu. Pasti kamu mau menghamili dia juga, kan? Dasar bocah gendeng! Bocah edan!

“Sekarang kamu ngentotin Tantemu ini tanpa perlindungan apapun. Tanpa kondom. Tante juga ga pake kontrasepsi. Kontol kamu yang telanjang itu masuk dan menerobos memek Tante yang tidak terlindungi. Kalau kamu ejakulasi di dalam memek Tante, pejumu akan menyirami rahim Tante yang subur. Kamu pasti akan bikin Tante hamil. Tante mohon, jangan hamili Tante, Ri. Tante ga mau kamu hamili. Please Ri.”

Aku mendengar ocehan Tanteku semakin bersemangat. Entotanku semakin cepat dan kuat. Tante Hani pun tampaknya juga semakin hot. Goyangannya makin hebat saja. Bahkan ia mengatur bantalnya agak tinggi sehingga tubuh atasnya agak menekuk. Lalu tanpa malu ia menarik kepalaku lalu merunduk lalu mencium bibirku dengan buas.

Kami berciuman secara liar. Dapat kurasakan air liur Tante Hani kadang memerciki dagu dan hidungku. Hebatnya ia menciumiku sambil terus mengoceh di sela-sela ciuman,

“hmmmppp….. kamu…..hmmmmphh…. bajingan…………….hmmmpppphh… kamu suka……hmmmmphhh…..hmmmphhhh…. ngentotin hmmmphhhh…. hmmmppphh Tante?…. hmmmphhh……hmpphhh…….hmpmmmphhh….. puas? Hmmmphhhhh……”

Lama kelamaan orgasme kami mendekat, dan kini ocehan Tante sudah tidak terdengar lagi. Karena kini kami asyik melumat bibir kami masing-masing. Malah terkadang kami asyik menjilati wajah satu sama lain. Semakin dekat orgasme kami, kami sudah tidak lagi berciuman, tapi saling menjilati. Kami bagai dua ekor anjing yang sedang birahi saja.

Berhubung aku lelaki. Saat-saat terakhir aku menekap kepala Tante Hani dan menjilati seluruh wajahnya. Jidat, mata, pelipis, pipi, dagu, hidung, kuping Tante Hani tidak ada satu sentipun yang tidak kujilat. Bahkan lubang kuping dan lubang hidungnya juga aku jilati sejauh yang lidahku dapat capai.

Ketika orgasme kami sudah di depan pintu, kami memalingkan muka kami ke kiri dan kanan sehingga lidah kami kini menempel bagian atas dengan bagian atas, dan sekuat tenaga kami saling menekan lidah kami untuk mengecap lidah satu sama lain dengan sangat kuat sementara bibir kami saling menghisap. Di saat itulah aku membenamkan kontolku sedalam-dalamnya dan memuntahkan pejuku sejauh mungkin ke dalam perut Tanteku. Dan sedetik kemudian kurasakan cairan memek Tanteku menyembur pula diiringi dinding kemaluan Tanteku membuka menutup, memijat sekujur batang penisku yang sedang ejakulasi.

Aku ambruk di atas tubuh Tante setelah mengalami orgasme hebat. Tanteku memelukku dan membelai kepalaku dengan tangan kirinya. Kedua tubuh kami penuh berkeringat, sementara dari memeknya, pejuku memenuhi memeknya sehingga ada sebagian kecil yang luber keluar. Lidah Tante Hani masih menjilat-jilat pelan lidahku.

Setelah beberapa saat, aku mulai tersadar lagi. Kontolku sudah lepas dari memeknya dan aku beringsut ke samping kiri badannya. Kami berhadapan menyamping, sementara lidah kami saling menjilat perlahan. Tidak ada lagi kata-kata yang keluar dari mulutnya. Kami saling berpelukan erat mencampurkan keringat dan ludah.

Ku angkat tangan kanannya dan kujilati lagi. Bau ketek ini sudah sangat santer tercium karena Tante Hani keringatan bagaikan mandi saja. Tak lama kontolku keras lagi. Tante Hani kini mendorong badanku lalu menduduki selangkanganku. Ia mengangkat pantatnya sambil tangan kanannya memegang kontolku, ia mengarahkan kontolku di lubang memeknya yang basah itu, lalu mendudukiku lagi. Kontolku amblas lagi di dalam kemaluannya.

Gantian Tante Hani menindihku. Namun ia menggunakan kedua tangannya untuk menjadi tumpuan sehingga tidak seluruh berat tubuhnya menindihku. Kemudian ia mulai bergoyang perlahan. Ronde kedua kami tidak seliar ronde pertama. Kami berciuman perlahan, sama perlahan dengan gerakan pantat Tante Hani. Ini baru bercinta. Bukan ngentot.

Sepanjang persetubuhan kami, kami berciuman. Tante Hani mulai bicara lagi kini dengan suara yang berbisik.

“Kontolmu enak banget, Ri. Lebih gede dari punya Om-mu.”

“Memek Tante legit dan sempit. Lebih sempit dari Memek Ibu,”jawabku.

Kurasakan tubuhnya yang basah dan semok menempel di tubuhku. Keringat Tante Hani yang mengucur membuat tubuhnya makin licin saja. Kedua tanganku mengusap punggungnya yang agak lebar dan halus itu. Kami terus berciuman sambil berbicara.

“Tante ketagihan kontol kamu, keponakanku.”

“Ari ketagihan Tante. Ga hanya memek Tante yang sempit. Semua dari Tante Ari suka. Keringat Tante, ludah Tante, Tetek Tante, Ketek Tante, wajah Tante yang cantik, tubuh Tante yang bohai. Semuanya. Semuanya.”

“Tante jatuh cinta sama kamu. Sama kayak Mbak Vidyamu.”

“Ari juga. Tante jadi isteri Ari saja….”

“Sekarang kan Tante lagi jadi isteri Ari. Hanya suami yang boleh masukkin kontolnya ke dalam memek seorang perempuan. Saat ini Tante adalah isteri kamu, sayangku…”

Sebenarnya maksudku adalah menikah secara sah. Namun tampaknya Tanteku ini salah duga. Biarlah, toh aku anak kecil yang tidak terlalu ditanggapi secara serius oleh orang dewasa. Tapi, aku sudah punya rencana ke depannya. Biarlah nanti waktu yang memutuskan. Untuk saat itu, aku hanya menjawab dengan bercinta dengan Tanteku sampai pagi. Hari itu aku empat kali ejakulasi ke dalam rahim Tanteku.

Paginya aku tidur di kamar tamu. Masih banyak keraguan dariku sebelum aku tidur pulas pagi itu. Bagaimana dengan ibu dan Mbak Vidya? Apa yang akan terjadi? Biarlah waktu yang berbicara…

Petualangan Ari II: Perkembangan dengan Ibu

Ini adalah kisah petualangan Ari yang kedua. Yang pertama berjudul “Telpon Nikmat”. Disarankan untuk membaca kisah pertama dahulu, agar lebih mengerti jalan cerita kisah ini.

Malam setelah pertama kali aku dan ibuku bersetubuh dan setelah ibu menaruh telpon, kami berpelukan dengan telanjang dan saling berciuman perlahan, romantis sekali. Kami saling meraba sambil mulut dan lidah kami beradu berkali-kali.

Saat itu kami berdua hanyut dalam cinta terlarang antara ibu dan anaknya, namun berhubung sudah malam dan kami berdua baru saja orgasme yang amat hebat, kami berdua tidak merasakan birahi, hanya rasa cinta terhadap satu sama lain yang begitu besar. Akhirnya, dalam pelukan dan ciuman ibu, aku tertidur di kamar ibu dengan perasaan puas dan letih.

Aku terbangun ketika matahari menyinari kamar dikarenakan tirai yang telah dibuka oleh ibu sebelumnya. Aku sempat merasa kejadian semalam hanya mimpi, tapi demi melihat aku tidur telanjang di kamar ibu, hatiku menjadi Bahagia sekali. Aku segera turun dari tempat tidur dan mencari ibu, dengan masih tanpa berpakaian.

Ibu sedang mencuci piring di dapur yang terletak di luar bangunan di bagian belakang. Di belakang dapur ada taman kecil dan tempat untuk menjemur pakaian. Untung rumah kami sudah bertembok tinggi sehingga tak akan ada tetangga yang dapat melihat dapur kami.

Saat itu Ibu hanya memakai gaun tidur merah tipis yang transparan. Gaun itu tak pernah kulihat dipakai ibu. Kurasa demi melihat potongan gaun itu, aku mengerti bahwa gaun tidur itu hanya dipakai di depan ayahku sebelumnya. Ibu tidak memakai BH ataupun CD. Gaun tidur itu hanya menutupi sampai bawah pantatnya, dan karena transparan, pantat ibu yang bulat terlihat menantang.

Bagian dapur berada persis di samping tembok rumah. Namun lebih rendah dari lantai yang memanjang dari pintu sampai hampir ke dapur. Memang bagian belakang selain dapur juga sebagai tempat makan kami sekeluarga, dan tempat makan itu dibuat lebih tinggi dari dapur dan taman. Sehingga bila aku berdiri di ujung lantai yang tinggi itu tepat dibelakang ibu, maka walaupun aku lebih pendek dari ibu, namun kontolku akan pas mengenai pantatnya. Ini membuatku mendapatkan ilham.

Aku memeluk ibu dari belakang. Ibu kaget namun memalingkan wajahnya sambil tertawa.

“Sudah bangun nih?” kata ibu, “adiknya bangun juga tuh….”

Ibu merasakan kontolku yang keras di belahan pantatnya.

“Bu, kita kalau Cuma berduaan di rumah, lebih baik telanjang aja… biar gampang….”

Ibu tertawa renyah menggemaskan dan berkata,

“Dasar kamu! Kecil-kecil otakmu sudah ngeres…..”

Aku menarik tali gaun tidur yang diikat dipinggang gaun ibu itu, lalu cepat-cepat membukanya. Ibu hanya tertawa dan membiarkan aku menelanjanginya. Gaun itu kugantung di dinding tempat menggantung panci.

Ibu meneruskan pekerjaannya mencuci baju. Dilihat dari belakang, bentuk tubuh ibu yang proporsional bagaikan gitar spanyol dengan lekukan besar dimulai dari pinggul dan berakhir di ujung bawah pantatnya. Tulang belikat ibu yang sedikit menonjol menghiasi punggung putihnya yang mengkilat terkena matahari pagi yang malu-malu bersinar dari arah kanan kami karena belum sepenuhnya keluar dari awan, dari arah timur. Sengaja ayah tidak mengatapi bagian taman, agar suasana lebih terlihat lapang dan asri. Hanya bagian atas dapur yang mempunyai atap, agar tidak kehujanan.

Ibu sedikit membungkuk karena sedang mencuci wajan di tempat cuci piring. Aku merapatkan badanku ke badan ibu. Kontolku kutaruh di bawah selangkangan ibu yang membuka karena kedua kakinya renggang, sementara kedua tanganku meraih kedua buah dada ibu yang besar dan ranum yang sedang bergoyang-goyang saat ibu sedang mencuci wajan. Kucium perlahan punggung ibu tepat di tengah kedua belikatnya. Bau tubuh ibu perlahan memasuki indera penciumanku. Aku berada di surga.

“Ari, kamu ini penjahat kelamin ya? itu kontol kamu udah keras, kamu terangsang ngelihat ibu sendiri. Otak kamu pasti isinya Cuma keinginan menyetubuhi ibu sendiri, kan? Dasar kamu anak yang nakal!”

Bau tubuh ibu ditambah kata-kata ibu yang isinya vulgar yang disampaikan dengan nada manja seorang perempuan dan dilengkapi dengan hangatnya tubuh telanjang ibu yang halus dan putih, membuat otakku benar-benar tidak ingat apapun selain keinginan merasakan liang surgawi ibuku itu.

Aku selalu suka membaca puisi ataupun karya-karya sastra. Dari situ banyak sekali karya yang mengagungkan wanita. Kini, aku merasakan kecintaan kepada wanita, walaupun wanita itu ibuku sendiri. Maka, aku segera menjawab ibu dengan menumpahkan isi hatiku kepadanya,

“Ibu, salah ibu sendiri…. Kenapa ibu harus memiliki wajah yang cantik? Kenapa ibu harus memiliki tubuh yang sempurna keindahannya? Kenapa ibu memiliki bau tubuh yang memabukkan? Kenapa ibu memiliki suara yang sensual? Semua lelaki pasti inginnya menggagahi ibu terus-menerus tanpa berhenti. Semua lelaki ingin menikmati setiap jengkal tubuh ibu. Semua lelaki ingin merasakan kehangatan ibu. Bahkan anak kandungnya sendiri, ingin bersebadan dengan ibunya!

“Ari sudah mendapatkan kenikmatan yang tidak ada bandingannya di dunia ini. Uang, makanan, kemewahan, tiada artinya. Ari sudah merasakan kehangatan tubuh ibu luar dan dalam. Ari sudah pernah merasakan manisnya tubuh ibu dengan lidah Ari. Ari pernah merasakan kemaluan ibu mencengkeram kemaluan Ari. Tidak ada kenikmatan apapun di dunia ini yang mampu menggantikan itu semua. Ari mendapatkan bahwa seluruh tubuh ibu membuat Ari kecanduan. Ari kecanduan ibu. Ari butuh tubuh ibu. Ari butuh merasakan lagi menjadi satu tubuh dengan ibu, tanpa ada halangan di antara kita.

“Ketika kita berpelukan erat. Ketika kontol Ari terbenam di memek ibu, Ari merasakan betapa ukuran memek ibu begitu pas menyarungi kontol Ari. Betapa penis Ari sepertinya tercipta untuk dimasukkan ke dalam vagina ibu. Betapa belasan tahun yang lalu Ari yang tumbuh di dalam badan ibu dan dilahirkan ke dunia untuk keluar dari badan ibu, kini telah kembali masuk ke dalam badan ibu itu. Ari menemukan kembali rumah Ari yang dulu pernah ditinggalkan. Sekarang Ari tidak ingin berpisah dengan badan ibu yang indah ini. Ari ingin selalu memasuki badan ibu.

“Ari mencintai ibu. Dan tidak ada orang yang dapat mencegah Ari untuk mencintai ibu seutuhnya, jiwa dan raga.” Aku diam sejenak lalu berkata lagi dengan nakal,”tentunya mencintai raga ibu yang seksi ini sesering mungkin kalau bisa…..”

Ibu yang masih memalingkan wajahnya untuk menatapku, kini memandangku dengan mata yang berkaca-kaca penuh haru. Lalu katanya,

“kamu pinter banget dengan kata-kata. Romantis…..”

Ia mendoyongkan wajahnya untuk menciumku, aku berjinjit dan menyambut bibir ibu dengan bibirku. Ibu mengecupku perlahan dan lama. Lalu menghentikan kecupannya dan berkata,

“Tapi romantis dan vulgar. Dari segitu banyak kata-kata, tetap saja kepalamu mikirin seks doang….”

Ibu tertawa renyah lalu melanjutkan mencuci wajan. Aku lalu kembali menciumi punggung ibu sementara pantatku mulai kugoyang-goyang. Kontolku menggeseki bibir memeknya sementara kedua tanganku asyik meremas lembut kedua payudara ibu. Lama-kelamaan vagina ibu mulai basah dan mengeluarkan bau memek yang sedap.

Bibirku mulai menjilati dan mengenyoti punggung ibu. Dari tengah punggungnya aku mulai menyusur ke bawah menggunakan mulutku. Perlahan lidahku akhirnya mencapai bagian atas pantatnya. Kedua pantatnya yang putih dan ranum mulai aku garap. Bercak cupang menghiasi dari punggung sampai kedua bongkah bokongnya itu.

Kubuka pantatnya dengan kedua tanganku setelah aku tinggalkan dua tetek ibu yang kenyal. Lubang anus ibu yang dihiasi lingkaran kecoklatan tampak tertutup dan mengerut. Aku julurkan lidahku ke lubang dubur ibu. Ibu mengerang ketika lidahku menyapu lingkar anusnya. Lingkar itu tampak merekah ketika kedua tanganku menarik kedua pantat ibu lebih keras. Lalu lidahku kurojok-rojok ke dalam lubang dubur itu.

Ibu melepas wajannya dan berpegangan tangan di tepian tempat cuci piring. Kepalanya mendongak ke atas. Lidahku menerima rasa getir dan kelu ketika memasuki anus ibu. Kulihat tangan kanan ibu bergerak dan ia mengusapi klitorisnya sambil mendesah-desah.

“Anak nakal….. lubang tai ibu dijilatin…….. pikiranmu jorok, Ri…… masa dubur ibu kamu jilat-jilat….. kamu kurang ajar sama ibu sendiri…… ibu kamu anggap pelacur ya? ahhhhhh …… sshshhh…….”

Terkadang aku mengenyoti anus ibu, terkadang hidungku aku benamkan ke dalamnya untuk menghirup dalam-dalam aroma yang disebarkan dari dalam liang ekskresi ibu itu. Tapi lebih banyak aku menjilati dan menjulurkan lidahku sehingga memasuki lubang anus ibu sejauh yang lidahku mampu mencapainya.

“Ohhhhh… Ari…….. ga sopan ya kamu…….. lubang pantat ibu diendusi…… disedot-sedot……. Kamu ga bermoral, Ri……. Sssshhhhhhh……..”

“mmhhhhh…. Lubang tahi ibu enak………mmmmmhhhhhh……… baunya sedaapppp….. mhhhhhh……. Rasanya legit……… mmmmppphhh…….”

Tangan kananku tak tinggal diam, telapaknya kugerakkan untuk mulai menggeseki bibir vagina ibu yang mulai basah karena cairan kewanitaan ibu yang mulai merembes keluar melumasi lubang kenikmatan ibu dan mengeluarkan bau memek yang sedap.

Ketika jariku menemukan klitorisnya, ibu mengerang dan mendesah dengan keras. Punggung ibu yang berkilat karena mulai mengeluarkan keringat tertekuk bagai busur. Bau tubuh ibu yang harum mulai merebak keluar dari pori-pori kulitnya dan juga dari arah kemaluannya sementara matahari telah mulai menyinari tubuh kami berdua yang telanjang dengan sepenuhnya tanpa terhalang awan lagi.

Kurasakan kehangatan matahari yang makin lama makin memanas, membuat suasana hot di dapur bagaikan membara dalam birahi. Kedua tubuh kami mulai banjir keringat. Dapat kurasakan peluh ibu di lidahku menanamkan rasa sedikit asin yang memperkeras nafsu binatang yang mulai menggetarkan ujung urat kemaluanku.

Tak mampu menunda lebih lama lagi, aku mengarahkan kontolku dengan tangan kananku ke lubang kencing ibu. Cairan pelumas sedikit keluar dari kontolku, kalo sebutan orang amrik, ini adalah pre-cum. Aku gesek kepala kontolku sepanjang bibir memek ibu yang rapat namun basah karena keringat ibu dan cairan pelumasnya. Bibir memek ibu tersibak membuka menyebabkan sedikit kepala kontolku terjepit pelan.

Gesekkanku kuteruskan beberapa saat, sampai akhirnya kurasakan memek ibu kini benar-benar basah kuyup tanda siap untuk dipenetrasi. Maka kepala kontolku aku posisikan tepat di lubang vagina ibu yang sempit itu, lalu setelah sedikit bagian palkonku itu tertancap, aku memegang kedua pinggul ibuku dengan kedua tanganku dan setelah bersiap-siap dan mengambil ancang-ancang, akhirnya aku dorong pantatku ke depan sambil menarik pinggul ibu ke arahku.

Terdengar bunyi kecil ‘sleeeb’ benda menancap sesuatu yang adalah kontolku yang menembus lubang memek ibu dilanjutkan bunyi ‘blekk!” yang agak kuat tanda selangkanganku menumbuk pantat ibu yang bundar itu. Aku merasakan surga menjepit penisku yang keras. Surga itu berbentuk lubang yang bagaikan hidup membuka dan menutup bagaikan bernafas. Lubang yang hangat, licin dan sempit yang memijiti seluruh bagian kontolku. Surga memang bukan di telapak kaki ibu, melainkan berada di lubang kemaluan ibu.

“Ohhhhhh……” kata ibu sambil mendesah,”Kamu masukkin kontol kamu ke dalam memek ibu kamu sendiriiii……… Kamu anak yang mesuuuummmm…….. kontol kamu menggagahi memek ibu sendiri……”

Ibu memajukan badannya ke depan sehingga tubuh dan kakinya hampir membentuk 90 derajat dengan kedua kakinya dengan lengan atas dan lengan bawahnya membentuk juga siku-siku, tangan bawahnya menopang tubuhnya. Ibu memaju-mundurkan tubuhnya menggunakan kedua tangannya itu.

Aku masih baru saja mengenal seks, sehingga pada awalnya aku belum mengikuti irama goyangan tubuh ibu, sehingga aku mengimbanginya dengan mendekap tubuh ibu yang basah oleh keringat. Dadaku menempel punggung ibu dan kepalaku berada sedikit di bawah bagian antara kedua belikatnya. Sementara kedua tanganku menemukan dua buah dada ibu yang tak mampu kututup dengan kedua telapakku. Sementara ibu terus mendesah, mengerang dan berbicara,

“ssshhhhhh…. Ariiiiii…….. kontol kamu keras bangeeeet…………. Aaahhhhhhhhh………. Kamu menyetubuhi ibu dengan kontol kamu yang keras, Riiiiiiiiiiii……”

Aku mulai menjilati punggung ibu yang penuh dengan keringat ibu bagaikan anjing yang menjilati mangkuk penuh dengan susu. Keringat ibu yang asin begitu nikmatnya aku rasakan di lidahku. Kedua tanganku asyik meremasi kedua tetek ibu yang besar dan mancung itu, sambil sesekali memuntir puting susunya dengan ibu jari dan telunjukku.

Aku berusaha mengimbangi kata-kata yang meluncur dari mulut ibu, namun aku belum begitu nyaman berbicara selagi bersetubuh, tapi aku tetap berusaha. Kataku,

“Iyaaaaa…….sssshhhh….. Ari sukaaaa…… suka punya ibuuuuu……… aaaahhhh………. Ibu cantiiikkk…..”

“Ariiiii……. Kamu keterlaluaaan….. kamu suka punya ibu yang manaaaa??”

“Ari suka memek ibuuuuu…… oohhhhhhh…… sempit bangeeeetttt……… Ari suka….. suka tetek ibu yang….. yang gedeee……… Ari suka keringat ibu….. kulit ibuuuuu….. semua yang ada pada ibu Ari sukaaa….”

Tubuh ibu tetap bergerak maju mundur dengan ritme yang tetap. Memeknya berkali-kali melingkupi seluruh kontolku lalu menggesek sepanjang batangku sehingga hanya tinggal kepala kontolku saja yang terbenam dalam vagina ibu, untuk kemudian menggesek balik batangku dan membenamkan seluruh penisku kembali di dalam kehangatan tubuhnya.

Lama kelamaan naluri binatangku mulai keluar, dan secara insting aku mulai mengikuti gerakan ngewe yang ibu lakukan. Ketika ibu memundurkan pantatnya, aku menusuk ke depan, ketika ibu memajukan badannya, aku menarik pantatku. Pertama-tama, gerakan pantatku hanya maju mundur sedikit saja. Aku hanya menekan ketika ibu menekanku lalu aku sedikit menarik selangkangan ketika ibu memajukan pantatnya.

Perlahan tapi pasti kedua tubuh kami mulai bersinergi. Goyangan tubuh ibu dan aku makin sinkron. Aku lebih berani mengayun pantatku. Dengan menggunakan kedua payudara ibu sebagai titik tolak, aku mulai mengentot ibu lebih keras. Ibu juga mulai mengentotku sama kerasnya.

Suara selangkanganku membentur pantat ibu, dari tak terdengar hingga lama-kelamaan lirih terdengar, lalu menjadi terdengar pelan, sampai akhirnya aku dan ibu mengentot dengan cepat dan keras hingga terdengar bunyi benturan yang keras pula antara selangkanganku dan pantat ibu.

Kini ibu hanya bertumpu dengan tangan kiri di tempat cuci piring, sementara tangan kanan ibu menggosoki klitorisnya sendiri dengan cepat, secepat gerakan kami berdua bersenggama. Suara kedua tubuh kami yang membentur diselingi dengan erangan dan desahan ibu. Aku mulai nyaman pula mendesah, mengerang dan berbicara menimpali suara ibu yang secara konstan terdengar,

“tusuk yang dalam….. yang dalamm……. Tusuk memek ibu dengan kontolmu yang besar… entotin ibu…. Genjot ibu keras-keras……ssshhhh…… teruss…..”

“ini kontol anakmu…..” kataku saat kedua kelamin kami beradu,”ibu suka kan? Hmmmmphhhhh…. Ibu suka Ari entotin kan? Hmmmmphhhhh….. Ibu suka memeknya digenjot anak kandungnya sendiri kan…… hhhehhhhhh…… memek ibu emang nikmaat……hmmmmppphhhhhp. Sempiiiit…… legiiiiit……”

Aku terus mengimbangi kata-kata kotor ibu dengan kata-kataku yang kotor juga, sambil terus menjilati dan mengenyoti punggung ibu. Punggung putih ibu yang indah kini bertanda cupang merah di sana-sini, bahkan ada yang berwarna ungu karena aku menyedot bagian itu dengan sangat keras dan lama.

Memeknya yang sempit bagaikan diciptakan untuk kontolku. Begitu pas kurasa. Tidak terlalu sempit hingga terasa sakit, tidak pula longgar. Lubang vagina ibu yang licin itu tetap saja tidak membuat penisku gampang keluar masuk, berhubung liang senggama ibu sempit, sehingga tiap kali penisku menggesek dinding vaginanya, aku merasakan kontolku bagaikan sedang diperah oleh lubang kencing ibu itu.

“Memek ibu enaaaak……. Sempit bangeeeet………. Padahal Ari udah pernah keluar dari sini……..”

“Memek ibu sempit….. karenaaaa…… karena ibu ngelahirin kamu pakai caesaaarrrr…….. belum pernah ada bayi yang lewat dari memek ibu……. Cuma kontol Ayah kamu saja yang pernah lewat di sini….. Cuma kontol ayahmu kecil…….. makanya memek ibu sempit….. ahhhhhhh….. teruss sayaang…….. entotin ibumuu…… ssshhhhh”

Matahari kini sudah lumayan terik. Tubuh ibu sudah basah kuyup karena keringat, begitu juga tubuhku. Keringat kami bercampur menjadi satu, seperti halnya kedua kemaluan kami yang dari tadi bercampur menjadi satu juga, sehingga daerah selangkangan kami kini sudah dibasahi jus yang terbuat dari campuran kedua keringat kami ditambah dengan cairan memek ibu. Sementara, punggung ibu memiliki jus cairan yang sedikit berbeda, yaitu campurang keringat kami ditambahi ludah dari mulutku.

Tahu-tahu ibu bergerak maju secara cepat hingga kontolku copot dari memeknya, lalu ibu berbalik dan naik ke lantai ruang makanan di mana aku sedang berdiri, lalu ibu menarik kursi dari meja makan yang tak jauh dari situ, lalu dengan agak kasar menarikku sehingga aku duduk di kursi itu, kemudian ibu mengangkangiku, lalu memegang kontolku, menaruh lubang vaginanya tepat di atas kepala kontolku dan menurunkan badannya sehingga kontolku amblas lagi di memek ibu.

Kulihat wajah cantik ibu tampak begitu dikuasai birahi. Matanya setengah terpejam. Kedua tangannya memegang pundakku dan ia menggoyang pantatnya maju mundur menyebabkan kedua payudaranya yang besar bergoyang ke sana-kemari.

Aku otomatis menyedot puting kanan ibu, lalu kurasakan ibu mendekap kepalaku erat-erat, yang kubalas dengan memeluk ibu erat-erat.

Gerakan ibu begitu liar dan begitu cepat, membuat kontolku agak ngilu. Namun birahiku sudah sangat tinggi sehingga aku juga berusaha menggoyangkan pantatku keras-keras. Sambil mengenyot dan menghisapi pentil kanan ibu, tangan kananku meremas tetek ibu yang sebelah kiri, sementara tangan kiriku memegang pantat kanan ibu dan meremas sambil mendorong pantat itu kala pantatku menghujam ke atas. Gerakan kami makin lama semakin liar dan cepat.

Akhirnya, dalam kekuasaan birahi, kami berdua mencapai puncak kenikmatan itu. Dalam rahim ibu, spermaku akhirnya dikeluarkan lagi.

Mulai saat itu, hampir setiap hari kami berdua berhubungan badan. Tidak ada satu jengkalpun rumah yang belum pernah dijadikan tempat kami memadu kasih. Kami tenggelam dalam nikmat keduniawian selama satu bulan. Aku sekarang tidur di kamar ibu. Setiap malam kami bersetubuh, setiap pagi bila aku bangun duluan, aku akan menggerayangi dan menciumi ibu sampai ia bangun dan kami bersenggama sesudah itu. Bila ibu yang bangun duluan, maka aku akan terbangun sendiri dan aku akan menyusul ibu yang biasanya di dapur untuk mengajaknya bersebadan. Bila aku pulang sekolah, aku akan segera masuk rumah untuk mencari ibu untuk kuentot lagi.

Bulan berikutnya, ibu memberikanku suatu berita mengejutkan. Ternyata ibu sudah hamil! Aku tak mampu berkata-kata karena terkejut. Namun, ibu sudah merencanakan segala sesuatunya.

Tiga minggu lagi adalah liburan sekolah. Ibu akan memakai waktu itu, untuk mengunjung ayah. Mereka akan berhubungan badan sehingga nanti ayah akan mengira ini adalah anak ayah. Sementara, aku akan dititipkan pada Tante Hani.

Pada mulanya, aku protes keras. Berhubung aku baru saja sebulan merasakan indahnya berhubungan dengan ibuku. Namun akhirnya, setelah aku menerima kenyataan bahwa ayah tidak boleh curiga, aku menerima usul ibuku.

Ada sedikit harapanku, mungkin saat berlibur di rumah Tante Hani, aku dapat mengintip ia mandi, atau, bila Tante Hani mirip ibuku dalam hal keinginan seks, ada kemungkinan aku bisa merasakan tubuh tanteku itu. Ya, biarlah waktu yang berbicara, untuk sementara, aku akan berjalan mengikuti arah angin…

Petualangan Ari: Telpon Nikmat

Inilah kisah hidupku. Namaku Ari. Nama Ibuku Irma dan Ayahku Asep. Ini adalah cerita mengenai hubungan kami yang berawal dari hubungan biasa ibu dan anak, yang berkembang menjadi sahabat, lalu tak direncanakan menjadi lebih dalam lagi dari itu.

Aku dilahirkan di keluarga berada. Ayahku adalah seorang koki yang bekerja di kapal pesiar di daerah Eropa. Itulah kenapa Ayahku jarang sekali pulang. Ayah pulang sekali setahun, biasanya untuk dua atau tiga bulan, untuk selanjutnya akan bertugas kembali ke kapal pesiar itu. Namun dari pekerjaan yang digelutinya selama 15 tahun itu, kami sudah mempunyai rumah ukuran 45/120 dan juga sebuah mobil sedan.

Ayah dan Ibu menikah 17 tahun yang lalu, ketika ayah berusia 20 tahun dan ibu berusia 17 tahun. Sekarang usiaku 16 tahun. Aku akan memulai kisah ini saat aku berusia 13 tahun. Saat aku baru saja setahun memasuki pubertas dan baru masuk SMP.

Sedari kecil aku sudah dekat dengan ibu. Dikarenakan ayah jarang pulang, kami berdua menjadi sangat dekat. Ibu dan aku sudah seperti sahabat. Kemana-mana kami selalu bersama. Sedari kecil, aku tidur bersama ibu, kecuali bila ayah pulang dan aku harus tidur di kamarku sendiri. Lama-kelamaan, kami bagaikan kawan seumur. Kami sering bercanda dengan menggelitik satu sama lain, atau saling mencubit. Terkadang pula kami bergulat seperti Smack Down, tentu saja tidak beneran.

Semua berubah ketika aku sudah SMP. Sebelumya, bagiku ibu adalah seorang yang merawatku dan menyayangiku sepenuh hati, dan akupun menyayanginya sebagai anak. Namun, kala teman-teman SMPku datang ke rumah, mereka selalu berkomentar bahwa ibuku adalah perempuan yang cantik dan seksi. Pertama-tama aku marah terhadap mereka, karena menurutku mereka sangat tidak sopan terhadap ibuku. Namun, lama-kelamaan aku menyadari juga ibuku adalah wanita yang cantik dan seksi.

Teman-temanku memperkenalkan aku video bokep, majalah dewasa, pornografi di internet dan berbagai hal yang membuka mataku mengenai perempuan. Akhirnya, aku membandingkan para wanita yang ada di video atau di majalah itu dengan ibuku sendiri. Dan menurutku, ibuku tidak kalah cantiknya.

Setelah pencerahan dari teman-temanku itu, aku menjadi melek mata mengenai keseksian ibuku. Ibuku memiliki tubuh yang seksi. Tingginya sekitar 165 senti. Pinggulnya agak lebar, bekas mengandung aku. Tubuhnya tidak kurus, namun berisi. Bukan pula gemuk, walau perutnya tidak rata, hanya sedikit menonjol tanda bahwa pernah melahirkanku. Dada ibu cukup besar, aku mengetahui dari BH nya yang pernah kulihat di lemari pakaian bahwa ia memiliki ukuran 36 B. lengannya sedikit gemuk, mungkin akibat pil KB. Namun secara keseluruhan, tubuh ibuku memancarkan keseksian wanita yang matang.

Selain tubuhnya yang seksi, wajah ibu juga cantik. Hidungnya mancung dan tipis, dengan bibir yang agak tebal, mata yang lentik dan rambut yang dibiarkan tergerai sebahu, kulit ibu putih namun tidak pucat, seakan ada kilau yang memancar dari kulitnya. Rahang ibu tinggi sehingga tampak seperti peragawati di tivi. Apalagi suara ibu, yang sedikit berat untuk ukuran wanita, seakan bila ia bicara, ia menggoda pria yang diajaknya bicara. Tetangga-tetangga kami yang pria, tampak senang sekali bila berbicara dengan ibu walau sebentar. Dari mata mereka, aku dapat melihat nafsu kelelakian mereka membayang.

Semenjak aku kelas 1 SMP, akibat bergaul dengan teman-temanku, aku mulai terangsang tiap kali ibu dan aku bermain-main di rumah. Entah waktu kami saling menggelitik satu sama lain, terlebih bila kami berantem-beranteman ala Smack Down. Dan untungnya, ibu tampak tidak sadar bila aku sedang ngaceng dan kala kami bergumul terkadang batangku yang keras menempel badannya. Atau mungkin juga, ibu memang tidak memikirkan sama sekali mengenai hal itu.

Aku sangat tersiksa bila sudah bermain-main dengan ibu, kala kami berkeringat waktu bergumul satu sama lain, karena bau tubuh ibu jadi semakin jelas tercium olehku, membuat aku pusing tujuh keliling. Batangku sudah menjadi sangat keras minta disalurkan birahinya. Biasanya setelah merasa tidak kuat aku berteriak menyerah, ibu akan kegirangan dan meledek diriku. Aku hanya bilang bahwa aku sudah capek dan minta diri untuk mandi karena keringetan. Setelah itu aku ke kamar mandi, untuk masturbasi sehingga pejuku keluar, lalu baru benar-benar mandi.

Di rumah, ibu biasanya mengenakan daster atau baju kaos you can see dengan celana super pendek, memperlihatkan kulitnya yang kuning langsat. Ia tampaknya tidak sadar bahwa anaknya sudah mulai besar dan mengetahui mengenai seks. Ia masih menganggapku adalah anaknya yang kecil.

Karena kami sangat dekat, maka setiap kali aku bangun pagi dan menemui ibu di kamar makan, aku akan mencium kedua pipinya. Begitu pula setiap aku berangkat dan pulang sekolah. Bila aku ulang tahun, ibu akan mencium kedua pipiku dan kemudian mencium bibirku. Ciuman itu hanya ciuman sayang orangtua kepada anak. Begitu pula bila ibu ulang tahun, aku akan mencium kedua pipinya dan kemudian bibirnya.

Maka, ketika aku SMP itu, aku mulai ingin lebih dari ibuku. Ketika aku berulang tahun, aku sudah menyiapkan strategi matang. Pagi itu, aku bangun dan setelah gosok gigi, aku ke ruang makan dan melihat ibu sudah ada di sana.

“Wuiiih… yang ultah baru bangun jam segini mentang-mentang hari Sabtu…. Sini…” kata ibuku membuka tangannya untuk memelukku.

Ibu memelukku lalu mencium kedua pipiku dan bibirku. Setiap kali mencium ia akan menambahkan kata “muaah….” Dan ciumannya agak lebih keras karena ini hari spesialku.

Ibu memakai gaun tidur dengan tali di pundak berwarna hitam model dua potong. Dengan rok yang selutut. Aku yang sudah mulai horny menjadi tegang karena mendapatkan ciuman darinya.

Setelah ibu melepaskanku untuk menyiapkan sarapan, aku bergegas bertanya, berusaha membuat suaraku wajar-wajar saja.

“Bu, kok kalau ulang tahun saja, ibu mencium kedua pipi dan bibir Ari?”

“Karena hari ini special. Kamu kan ulang tahun.” Ibu menjawab tanpa berpikir karena pikirannya sedang dipenuhi untuk mempersiapkan makanan.

“oh, jadi kalau cium di bibir itu special ya?”

“Iya, menandakan bahwa ibu sayang sama Ari.”

“Oh, jadi Ibu Cuma sayang kalau hari Ulang tahun aja ya?”

Aku sudah duduk di meja makan. Ibu sedang mengoles roti sambil duduk. Ia menghentikan pekerjaannya lalu menatapku. Katanya,

“Ya tiap hari dong sayangnya. Emang kenapa sih?”

“Artinya harusnya tiap hari juga dong dicium bibirnya. Ya nggak?”

Ibu tertawa. Aku senang melihat bahwa ibu tidak curiga apa-apa.

“Ya udah. Kamu mau dicium bibir tiap hari? Boleh, kok. Wong kamu sendiri yang ga mau dicium bibir waktu kelas 3 SD. Kata kamu udah besar, ga boleh dicium bibirnya kayak anak kecil. Malu, kata kamu.”

Aku sedikit terkejut karena baru ingat hal  ini. Namun aku segera menjawab agar tidak ketahuan ada mau yang lain,

“Ya maksudnya sih jangan di depan teman-teman. Kan malu. Tapi kan kalau di rumah lain ceritanya.”

Ibu menyerahkan roti di tangannya kepadaku, lalu berjalan ke sampingku. Tiba-tiba ia mencium bibirku sambil tetap berdiri.

“Muaaaah….. ini roti untuk anakku.”

Lalu ia bergegas ke tempat cucian untuk mencuci perabot yang kemarin malam belum dicuci. Aku buru-buru melahap roti dan bergegas mandi, untuk melepaskan nafsuku yang sudah di ubun-ubun.

Kami melakukan banyak hal untuk merayakan hari ulang tahunku saat itu, yang tidaklah perlu kuceritakan. Yang jelas aku sangat Bahagia hari itu mendapatkan kasih sayang ibuku. Malamnya sebelum tidur dan setelah gosok gigi, aku mendatangi ibuku yang sedang beres-beres di dapur.

“Bu, makasih ya. hari ini Ari senaaaanggg sekali. Jalan-jalan sama ibu dan senang-senang.”

Ibu yang sedang memegang piring kotor hanya tersenyum. Aku mendekati ibu, memeluk dengan tangan kananku di pinggangnya, lalu jinjit, berhubung ibu masih ada hampir sepuluh senti lebih tinggi dariku, dan memberikan ibu ciuman di bibir agak lama.

“Muaaaah…. Ari sayang sama Ibu.”

Ibu hanya tersenyum lalu berkata,

“Ya udah… tidur sana…..”

Mulai saat itu, kini setiap aku bangun atau mau tidur, berangkat atau pulang sekolah, aku mencium bibir ibu.

Bukan hanya itu saja yang menjadi rencanaku. Seperti kataku sebelumnya, kami suka saling saling menggelitik. Yang paling seru adalah, ketika Ayah telpon dari luar negeri, kami suka saling menggelitik. Dimulai ketika aku masih di SD. Suatu ketika aku ingin dibelikan mainan yang tidak ada di Indonesia, maka aku ingin bicara dengan ayah di telpon, namun Ibu sengaja tidak mau memberikan telponnya, maka aku segera menggelitiki ibu. Akhirnya setelah beberapa saat ibu memberikan telpon padaku, giliranku yang bicara, ibu balas menggelitik. Ayah yang mendengar suara kami hanya tertawa saja. Ia senang bahwa di rumah isteri dan anaknya begitu akur dan harmonis. Ayah terkadang menelpon seminggu tiga kali. Kadang dua kali. Sehingga kami sering berkomunikasi dengannya.

Nah, kini aku juga berencana untuk menggunakan saat itu untuk memperjauh perhubungan antara aku dan ibuku. Ayah menelpon sehari setelah aku ulang tahun. Berhubung di Eropa terlambat sehari dari Indonesia, ayah lupa bahwa aku di Indonesia sudah ulang tahun sehingga baru menelpon. Aku saat itu sengaja hanya memakai celana pendek dengan alasan gerah.

Pertama ibu berbicara dengan ayah, aku belagak ga sabar dan minta telponnya.

“Belum beli, Yah. belum sempet……” saat itu aku memberi kode ibu untuk memberikan telpon kepadaku,” Iya… sebentar dulu… Ibu ngomong sama Ayah dulu nih….”

Beberapa saat ibu masih berbicara dengan ayah di telpon. Aku berusaha menjangkau telponnya.

“Ari, tar dulu ah……” kata ibu menghindar tanganku,” Ibu belum selesai ngomong sama ayah……”

Lalu ibu melanjutkan pembicaraannya. Saat itulah aku mulai duduk di sebelah ibu di sofa, lalu perlahan tanganku menggelitik pinggang ibu perlahan. Ibu mengikik pelan.

“Kenapa, Yah?” Kata ibu di telpon kepada ayah,” Oh, Si Ari ga sabar ngomong sama Ayah, jadi mulai deh ngelitikin Mamanya seperti biasa.” Ibu kemudian menatapku lalu berkata, “Kata ayah kamu jangan bandel.”

“Oke deh. Setelah ada perintah dari Si Boss,” kataku dan kemudian mulai kembali mengelitiki pinggang ibu yang kenyal.

“Udah ah. Ibu mau ngomong nih.” Ibu tertawa, posisi saat itu ibu duduk sebelah kiri sofa, telepon di tangan kirinya yang menyandar lengan sofa, aku di sebelah kanannya, karena aku menghadap ibu, maka aku mengelitikinya dengan tangan kanan. Agar aku berhenti mengelitik, dengan tangan kanan ibu yang bebas ia memegang tanganku lalu menariknya sehingga tangan kananku melingkari perutnya ke pinggang kiri, lalu aku segera melingkari tangan kiriku yang satunya ke belakang ibu. Kini aku memeluk ibu dari samping. Tubuh ibu memancarkan bau wangi yang sangat ku suka. Aku menaruh kepalaku di pundak kanannya. Dengan tangan kanan ibu menindih tangan kananku.

Aku menyukai posisi ini, tapi agar tidak mencurigakan, aku berkata,

“lama banget sih….”

Ibu hanya berdesis menyuruhku diam lalu kemudian kembali konsen ke telefon.

Aku pura-pura bosan namun menikmati pelukanku ke ibu. Lengan kananku merasakan bagian bawah tetek ibu yang lembut dan kenyal. Tapi tetap saja ibu berbicara dengan ayah. Lapat-lapat aku mendengar bahwa mereka membicarakan saudara ayah yang sedang dirundung masalah keluarga. Tapi aku tidak terlalu konsen.

Aku membisiki ibu,

“gantian donk….”

Tapi ibu tetap cuek dan asyik berbicara, mungkin karena lama tak berbicara dengan ayahku. Aku tahu ibuku gelian, terutama di leher, ketiak dan pinggang. Maka aku mulai meniupi lehernya yang sedikit doyong ke kiri karena sedang mendengarkan telpon, sehingga leher bagian kanan terbuka. Ibu hanya mendecakkan lidah walaupun dia sedikit merinding kegelian yang ditunjukkan dengan bahunya yang diangkat ketika lehernya kutiup.

Kudekati lehernya sehingga aroma tubuh ibu begitu dekat dihidungku lalu aku tiup perlahan. Ibu mengangkat tangan kanannya lalu mendorong kepalaku sambil mendelik melotot. Tapi wajahnya tidak marah. Ia terus berbicara. Aku kembali meniupi lehernya. Ibu mendorong kepalaku lagi. Aku kembali meniupi lehernya. Kali ini ibu meraih ke belakang kepalaku dengan tangan kanannya melewati kepalaku sehingga melingkari leherku sementara telapaknya menutup mulutku. Ia setengah memitingku sambil membekap mulutku.

Melihat kesempatan terbuka, aku menggunakan bagian kiri kepalaku untuk menekan ketiaknya yang terbuka  untuk mengelitik pangkal lengannya itu. Kupingku dapat merasakan bulu-bulu halus ketiak ibu yang agak lembab. Bau tubuh ibu terpancar kuat dari sana.

“Ya udah, deh Yah… ini Si Ari ga sabaran banget mau ngomong sama ayah.” Lalu ibu memberikan telpon itu kepadaku. Aku belagak senang dapat bicara dengan ayah, namun dalam hatiku aku sebel juga, belum cukup rasanya merasakan tubuh molek ibu.

Mulai dari saat itu pula, setiap kali ibu bicara dengan ayah, aku akan selalu menggoda ibu dengan menggelitik, atau meniup lehernya, atau memeluknya sambil mengganggu pembicaraan ibu, untuk berpura-pura ingin ngobrol dengan ayah.

Dari dua aktivitas ini, aku berharap dapat mencapai sesuatu yang lebih dengan ibuku. Namun, berhubung aku tidak tahu reaksi ibu bila aku terlalu memaksa, maka yang kulakukan adalah bertahap tapi tidak terlalu mencolok.

Dua bulan pertama aku mencium pipi dan bibir ibu kala berangkat sekolah, pulang sekolah, bangun tidur maupun berangkat tidur. Bulan ketiga aku mencium satu pipi yang dekat denganku, lalu kucium bibir ibu dua kali.

“Kok dicium dua kali bibirnya?”

“abis pipi yang satu jauh. Ibu lebih tinggi dari Ari, jadi Ari pegel. Cium di bibir dua kali, yang satu tolong sampaikan ke pipi yang sebelah lagi, ya bu?”

Ibuku hanya tertawa saja.

Untuk menggelitik waktu telpon pun, dua bulan pertama masih sama seperti sebelumnya, namun bulan ketiga aku langsung memeluk ibu dan meniupi telinganya. Alasanku agar bisa lebih cepat ngomong ke ayah. Ibu hanya geleng-geleng saja sambil tersenyum. Namun, mungkin karena kebiasaan, jadi setelah lima bulan, ibu dapat menahan gelinya di leher dan tampak tidak terlalu terganggu. Pada bulan keenam, aku menggunakan kumis yang baru tumbuh namun jarang dan mulai menggesekkan kumisku ke leher ibu. Ibu sontak kegelian dan tertawa.

“Ini nih… Ari ngelitikin Ibu lagi. Ya udah, ngomong sama anaknya deh. Udah ga sabar tuh…..”

Lalu aku mulai bicara pada ayah dengan Bahagia. Karena saat itu aku mulai berani menyentuh ibu dengan bagian dari bibirku. Yah kemajuan walau sedikit.

Bulan kedelapan aku mencium bibir ibu tiga kali dengan dalih menghemat waktu. Dan tolong sampaikan pada kedua pipi ibu yang lain. Ibu hanya mendorong kepalaku pelan sambil berkata, “gelo!”

Ibu makin lama berbicara di telpon. Biasanya hanya sepuluh menit, dengan aku mendapat jatah dua atau tiga menit terakhir. Namun semakin lama ibu berbicara makin lama. Bisa sampai dua puluh menit, sementara aku tetap saja dijatah sebentar. Aku  biasanya langsung memeluk ibu dari samping dan menggelitik lehernya dengan kumis. Pada bulan ke delapan, aku terkadang menggeseki leher ibu dengan bibirku juga. Pertama-tama hanya sebentaran saja. Ibu langsung menghela nafas.  Lama-kelamaan aku berani menggeseki leher ibu dengan bibir selama beberapa detik.

“Hmmmm………”kata ibu tak sadar masih bicara di telpon” kenapa, yah? Oh…. Ini…. Ee….. leherku pegal, Ari lagi mijitin leherku……”

Tepat setahun, waktu aku sudah berusia 14 tahun, di saat telpon, aku memeluk ibu di samping sambil mengelitik leher ibu dengan kumisku yang jarang. Ibu tampaknya senang. Ia terlihat kegelian dan kadang badannya menggelinjang dan tangannya sesekali mendorong kepalaku kalau kegelian. Ibu saat itu memakai gaun tidur warna krem tanpa bra. Gaun tidur itu terbuka bagian setengah dada ibu, sementara bagian punggung terbuka sejajar dengan bagian depannya, gaun itu juga memiliki tali bahu yang tipis, sehingga memamerkan pundak dan leher ibu. Sudah beberapa minggu ia jarang pakai bra kalau sudah malam. Pertama kali aku lihat pentilnya menyembul di baju malamnya, sontak aku horny dan senang sekali.

Sesekali aku menggeseki lehernya yang jenjang dengan bibirku. Setahun ini, tidak hanya leher sebelah kanan yang telah aku garap. Kadang ibu duduk di kanan sehingga aku dapat menggarap yang sebelah.

Saat itu, aku tak tahan dan kukecup leher ibu.

“ssshhhhhh…….. kenapa, yah? Oh ini badanku nyeri mungkin kecapekan…….. pembantu? Ah, nanti Ibu males di rumah…….”

Kemudian aku buka bibirku dan aku geseki leher ibu. Kedua bibirku yang terbuka itu ku tutup sambil terus ku tahan di leher ibu. Beberapa saat aku asyik mengatupi bibirku dileher ibu seakan ingin memakan leher itu, tak sadar aku mengeluarkan lidahku sehingga menjilat leher ibu yang jenjang itu.

“Ohhhhh…… kenapa, yah? Oh, enggak… ibu Cuma bilang Oh… begitu….”

Tahu-tahu ibu mendorong kepalaku, aku sedikit kecewa, namun ibu memindahkan telpon wireless itu ke kuping kanannya, lalu ibu ganti menelekan kepala ke kanan sehingga kini leher kirinya yang terekspos. Aku memposisikan diriku tepat di belakang ibu sambil terus memeluknya, kalau tadi dari samping, sekarang dari belakang tubuhnya, memaksa ibu agak maju duduknya. Dengan hanya bercelana pendek, karena selama ini aku tak pernah memakai baju ketika ibu terima telpon. Selama setahun aku telah bertambah tinggi. Walaupun aku belum setinggi ibu, namun kini kepalaku sudah seleher ibu kalau duduk begini. Batangku yang keras kini berada di antara kedua pantat ibuku.

Aku mulai melumati lehernya seperti tadi, dan dengan mengumpulkan keberanian, aku menjilat leher ibu secara cepat. Tubuh ibu mendadak doyong ke kanan sehingga perlahan tubuh kami rebah ke samping. Tangan kanan ibu membentuk siku untuk menahan kepala dan telpon, namun lehernya tetap terbuka. Gerakan ini tahu-tahu membuat kedua tanganku yang tadi melingkari perut ibu, kini memegang kedua dadanya yang masih terbungkus baju tidurnya yang tipis. Sementara wajahku menekan leher sebelah kiri ibu.

Nafas ibu tertahan, begitu juga denganku. Payudara ibu begitu besar sehingga tangan remajaku tak mampu menutupi semua lekuk bulat dada indah ibu. Aku memegang dada ibu dari arah agak bawah sehingga jemari telunjuk dan tengahku menempel pada pentil ibu yang mencuat. Tiba-tiba saja aku sadari bahwa kami berdua mulai bernafas agak berat. Dada ibu terlihat bernafas sedikit tersengal, mungkin karena kedua telapakku memegang kedua payudara ibu dari arah bawah dan telunjuk dan jari tengah kedua tanganku menekan kedua pentil ibu.

Aku tak berani menggerakkan tanganku, takut kalau saja ibu marah bila kuusap kedua putingnya, bahkan aku tak bergerak sama sekali. Ibu tampak terdiam beberapa saat. Demikian juga aku, namun, wajahku saat itu sedang menempel di leher ibu, terutama hidungku. Aku dapat mencium sisa bau parfum ibu yang disemprotkan pada pagi hari namun masih mengeluarkan wewangian halus, di tambah dengan bau tubuh ibu sendiri yang sekarang tiba-tiba saja kurasakan melembab.

“Kenapa?….. oh, ibu lagi ngelamun mikirin cucian yang belum dimasukkin, yah….. sori deh….. jadi ga konsen…..” kata ibu pada ayah di telpon setelah beberapa saat terdiam. Lalu ibu mulai berbicara normal lagi. Tidak ada tanda-tanda kemarahan dari ibu. Aku menjadi bersemangat lagi.

Kukecup perlahan leher jenjang ibu. Tubuh ibu kurasakan membeku, namun ia masih berbicara dengan ayah walau suaranya sedikit bergetar. Kukecup lagi perlahan lehernya, kali ini ibu tidak membeku karena sepertinya sudah mengantisipasi.  Aku tak tahu berapa lama aku dan ibu berbaring miring di sofa, karena aku sibuk mengecupi perlahan leher jenjang ibu. Bahkan aku mulai berani mengecupi pundak kiri ibu yang terbuka. Aku tak tahu pula ibu berbicara apa di telpon, tahu-tahu ibu beringsut duduk dan mematikan telpon wireless kami. Aku tersadar bahwa saat itu ibu berbicara padaku.

“Tadi Ayah tanya, kamu mau ngomong ga? Tapi ibu bilang kamu lagi sibuk.”

Ibu berdiri sambil tertawa kecil melihat aku yang bagaikan orang bingung. Karena memang aku bagaikan linglung saja setelah tiba-tiba berhenti menikmati leher dan pundak ibu.

“Kamu emang sibuk, kan? Kepalamu itu penuh dengan pikiran ngeres sampe-sampe lupa mau ngomong sama ayah.” Kata ibu. Aku menjadi malu. Namun ibu tidak memarahiku. Suaranya tidak terdengar marah. Kemudian ibu langsung beranjak pergi ke kamar tidurnya.

Setelah aku di kamar dan selesai masturbasi membayangkan kembali kehalusan kulit leher dan pundak ibu, dan mengingat-ingat wangi tubuhnya, aku mulai berpikir, apakah ibu senang dengan aktivitasku kepadanya? Bila ia senang, kenapa ia tidak minta lebih? Bila ia tidak suka, mengapa ia tidak melarangku? Dengan kepala penuh pikiran ngeres yang bingung, aku tertidur.

Paginya ketika aku bangun, ibu masih memakai baju tidur tipisnya.  Pentilnya menyembul terlihat dari balik gaun kremnya. Aku horny sekali. Aku tak kuasa memandangi dadanya sepanjang waktu sarapan, namun ibu tampaknya tidak sadar bahwa payudaranya yang terhalang kain tipis sedang ditatap dengan nafsu oleh anaknya. Ketika aku mau berangkat sekolah, aku yang tidak mampu mengontrol diri, memeluk ibu yang sedikit lebih tinggi dariku dengan tangan kiriku erat-erat, lalu sambil memegang leher ibu dengan tangan kanan, aku jinjit untuk mencium bibir ibu dengan sedikit bernafsu.

Sekitar lima detik aku cium bibir ibu dan ketika ciumanku lepas terdengar bunyi kecupan dua bibir kami.

“Tumben kamu semangat begini, Ri?”

“Ibu cantik banget pakai baju tidur ini. Ari jadi gemas,”kataku tak mampu menahan diri. Ketika kata-kataku telah meluncur, aku menyesal sekali. Aku takut ibu marah. Tapi ibu hanya tertawa kecil sambil mendorong kepalaku, katanya,

“pagi-pagi udah ngeres! Sana sekolah!”

Hari itu di sekolah aku tidak dapat konsen. Tiada sesuatu di sekolah yang membuatku dapat mengalihkan pikiran dari ibuku yang cantik dan seksi itu. Aku telah menyimpulkan bahwa ibu senang dengan kelakuan kurang ajarku, namun tetap saja sebagai ibu, ia tidak akan membawa hubungan kami lebih jauh. Ini terbukti bahwa ibu selalu orang yang menghentikan kegiatan ngeresku kepadanya.

Pulangnya aku mendapati ibu selesai masak dan sedang menyiapkan makanan. Ia memakai tank top hitam dan rok hitam di atas lutut. Tank topnya tidak tipis, namun tetap saja menunjukkan dadanya yang besar, yang ternyata hari ini tidak terbalut bra juga. Pentil ibu terlihat membayang, dan dibalik tali bahu tank topnya, tidak terlihat bra.

Aku kembali memeluk ibu dan mencium bibirnya dengan gemas. Aku melepas bibirnya setelah kurang lebih lima detik seperti tadi pagi, namun aku kembali memagut bibir ibu. Kini lebih lama dari yang pertama. Kontolku tertekan pada paha ibu, kontol yang sudah mengeras tanda birahi. Setelah beberapa saat ibu melepaskan bibirku dan sambil tertawa menyuruhku cuci tangan dan kaki untuk kemudian makan.

Setelah itu aku tidak mendapatkan kesempatan lagi, karena ibu sibuk dengan pekerjaan rumah. Aku kemudian tidur siang (setelah masturbasi tentunya). Sorenya, aku mandi dan mengerjakan PR. Aku sedikit kecewa, karena ayah tidak pernah telpon berturut-turut setiap hari. Sehingga kini aku tidak bisa mengerjai ibuku lagi.

Namun, malam itu ada yang telpon. Aku tahu bukan ayah, tapi aku menggunakannya sebagai dalih saja. Malam itu ibu menggunakan gaun tidur yang sama seperti malam sebelumnya. Ibu mengangkat telpon, biasanya ibu mengangkat sambil menyender di sofa, sehingga aku hanya bisa memeluk dari samping, tapi malam itu ia duduk di pinggir sofa, menyisakan tempat di belakangnya, aku yang sudah siap segera duduk di belakang ibu sambil memeluknya. Kini telapakku secara tak tahu malu kuletakkan di bawah payudara ibu dengan jari jemariku menggenggam bulatan payudara ibu dari bawah, sehingga kedua telunjukku kini mendekati kedua puting tetek ibu yang kenyal.

“Oh…. Mbak Hani…..”kata ibuku di telepon. Rupanya Kakak ibuku, Tante Hani telpon. Tante Hani dua tahun di atas ibuku, sehingga pada saat itu, Tante Hani berusia 34 tahun. Tante Hani seperti halnya ibuku, cukup tinggi untuk ukuran perempuan Indonesia. Ia sedikit lebih tinggi dari ibu, namun tubuhnya agak lebih gemuk dari ibu, apalagi ukuran dadanya yang selalu menonjol di balik pakaiannya. Tante Hani kuduga memiliki payudara yang lebih besar dari Ibuku. Kekurangannya adalah, perut Tante Hani berlemak walau tidak terlihat terlalu gendut, namun tetap saja, bodinya bagiku cukup aduhai.

Entah apa yang dibicarakan ibu, karena aku sudah mulai mengendusi dan mengecupi leher ibu. Tahu-tahu ibu kini merebahkan diri ke belakang, dengan kepala disandarkan ke belakang pula, menyender pada bahu kiriku. Kontolku yang sudah tegang dari tadi menjadi di tindih bagian atas pantat dan sedikit punggung bawah ibu, membuatku membalas tindihan ibu dengan tekanan pada bokongnya itu.

Bibirku mengecupi leher ibu dengan perlahan, namun nafsu membuat gerakanku makin lama makin cepat. Tak lama pundaknya kuciumi juga. Hampir seluruh bahu ibu kukecupi dan kuendus-endus. Akhirnya aku memberanikan diri memagut pangkal lengan ibu, tepat di sambungan antara lengan atas dan bahunya, dengan menggunakan sedikit lidahku untuk merasakan kulit ibuku yang licin dan berkilau menyilaukan semua lelaki yang melihatnya.

“sssshhhhhh…. Mmmphhhh…….” Ibu mendesah, namun dengan cepat ibu tersadar dan berkata di telepon,” ohh…. Nggak kenapa-napa, Mbak. Bahuku sedang dipijit Ari, soalnya sudah pegal dari tadi….. iya…… iya…… enggak, kok, Mbak…. Aku belum mau istirahat… masih bisa ngobrol sama Mbak……”

Lidahku merasakan begitu halusnya kulit ibu. Indera pengecap di lidahku mencicipi rasa kulit ibuku. Tentu saja bukan rasa seperti  di kala makan buah-buahan atau makanan, bukan rasa yang membuat perut lapar, tetapi rasa dari kulit ibu menyebarkan sensasi sensual ke seluruh tubuhku, terutama kepada kejantananku yang mulai berkedut tak sabar. Aku masih mengulum pundak ibu dan sedikit mengenyoti perlahan kulitnya yang halus dan licin. Setelah beberapa saat aku lepaskan pagutanku, lalu mulai memagut perlahan pundaknya yang lebih dekat ke leher ibu, sesenti demi sesenti. Tiap pagutanku berkisaran antara tiga sampai lima detik dengan kenyotan pada pundak ibu sepanjang itu. Perlahan bibir dan lidahku mendekati leher ibu, dan suara ibu makin terdengar bergetar ditingkahi nafasnya yang mulai sedikit memburu.

Ketika aku sampai pada leher ibu bagian bawah, ibu tak sadar melenguh lagi,

“sssshhhh… Ariiiii…. Iya….. disitu…………,” kata ibu sedikit tercekat,”kenapa, Mbak? Oh…. Ari pinter mijit bahu Irma, Mbak…… enak sekali pijatannya………………………. Kenapa?…… Oh, boleh aja. Nanti kalau Mbak ke sini biar dipijit Ari……..”

Pada saat itu aku mulai melumat leher kanan ibu dengan mulut dan lidahku. Kini lidahku lebih berani kuulur, dan sesekali, bagaikan anjing, aku menjilat leher ibu dari pangkal leher sampai ke bawah dagunya. Saat itu tangan kanan ibu yang tadi diam saja, mendekap kepalaku dan sedikit meremas rambutku.

Aku menjadi lupa daratan. Tanganku reflex meremas payudara ibu yang besar, sementara bibirku menghisapi rahang kanan ibu.

“aaahhhh………..” mulut ibu terbuka, kulihat sederet air liur ibu tertarik dari bagian atas bibirnya sampai ke bawah di ujung lidahnya, bagaikan tirai air yang sedikit berbusa menghiasi mulutnya yang indah yang sedang terbuka itu. Aku menjadi gelap mata dan tanpa memikirkan konsekuensi apa-apa, aku segera menjulurkan lidahku memasuki mulutnya yang terbuka dan menjilat ludah ibu itu. Air liur ibu terputus sementara lidahku terus bergerak hingga menjilat rongga atas mulut ibu. Ujung lidahku mengenai rongga mulut atasnya sementara bagian tengah lidahku merasakan bagian belakang gigi atas ibu.

Tahu-tahu bibir ibu mengatup  sehingga kini kedua bibirnya menjepit bibir bawahku. Aku mengatupkan bibir juga dan aku mengenyoti bibir atas ibu.

“mmmmmm……. Mmmpppphhhhhh.” Ibu menggumam sambil mengenyot-ngenyot bibirku, sementara aku yang saat itu merasa bingung, senang, terkejut tercampur menjadi satu hanya bisa mendengus-dengus saja. Tiba-tiba ibu terdiam dan mendorong kepalaku dan duduknya bergeser sedikit sehingga tidak menyenderku lagi melainkan menyender di sofa, lalu ibu berbicara ke telepon yang hampir saja jatuh akibat gerakan tadi,

“Ya, Mbak…… enggak kenapa-napa…. Aku lagi ngemil……” lalu mulai ngobrol lagi dengan kakaknya di telpon seakan tidak terjadi apa-apa.

Aku sedang shock. Apakah ibu marah? Namun perlahan ketakutanku sirna, karena saat ini tanganku masih menggenggam sebagian payudara ibu yang besar, karena tanganku tak dapat menutup buah dada ibu yang besar itu. Bila ibu marah, ia tentu akan mendorong tanganku pula. Ia mendorong kepalaku tentu karena sadar bahwa bila diteruskan, kakaknya akan curiga bahwa ada sesuatu yang ga beres terjadi di sini. Aku kini bingung harus ngapain. Ingin kuremas dada ibu, tapi apakah ibu akan marah.

Kulihat kini ibu duduk disampingku walau sedikit badannya masih menempel padaku, karena tangan kiriku masih melingkarinya dari belakang memegang tetek ibu sebelah kiri, sementara tangan kananku membentuk siku dan juga memegang buah dada kanan ibu. Posisiku agak miring menghadap ibu. Paha kiriku sekarang ditindih paha kanan ibu. Tangan kiri ibu memegang telpon sementara tangan kanan ibu terbuka menghadap ke atas membentuk sudut 45 derajat membuka ketiaknya lebar-lebar, dengan lengan atas terangkat tegak sejajar kepala, dan lengan bawahnya melintang sehingga bagian belakang telapak tangannya mendekap kepala. Posisi ibu menunjukkan seperti ibu sedang lelah, apalagi dadanya sedikit tersengal. Namun ibu berusaha tetap berbicara secara normal di telpon.

“Kenapa, Mbak? Aku tersengal? Iya…. Ini tadi ada kucing di dapur jatuhin barang, aku jadi kaget…. Iya…. Tuh si Ari lagi ke dapur ngusir kucingnya…….” Kata ibu terus berbicara di telepon.

Ketiak ibu yang terbuka menunjukkan ketiak dengan sedikit sekali rambut. Rambut ketiak ibu tampak tipis, keriting dan pendek bagaikan hutan yang memiliki sedikit sekali pohon. Ketiak itu lebih putih dari bagian kulit lain ibu, sangat kontras dengan bulu-bulunya yang hitam sewarna dengan rambut ibu.

Posisi kepalaku tepat sekali di hadapan ketiak ibuku. Ketiak yang tercukur itu membuatku nafsu lagi, aku lalu membenamkan hidungku diketiak ibu dalam-dalam sambil memandang muka ibu. Ibu langsung memejamkan mata dan melipat bibirnya ke dalam mulutnya, seakan menahan sesuatu.

Bau tubuh ibu begitu nyata tercium dari keteknya yang lembab dan sedikit berkeringat, bulu-bulu pangkal lengan ibu yang sangat pendek itu menggelitik lubang hidungku seakan menyambut kedatangan mereka. Aku semakin horny, tak sadar aku menjepit paha kanan ibuku dengan kedua kaki dengan cara aku menindih paha kanannya dengan paha kananku. Kurasakan ibu bergerak dan gantian paha kiri ibu kini menindih paha kananku. Sementara itu, kaki kiri ibu merangkul masuk kaki kananku, sehingga kini posisi kami saling membelit dari samping. Bagian rok gaun tidur ibu tersingkap ke atas karena gerakan kami tadi. Gerakan ini juga menyebabkan tangan kiriku lepas dari tetek ibu dikarenakan tubuh ibu menjadi makin miring menghadapku, aku menyesuaikan dengan menarik tangan kiriku dari belakang tubuh ibu lalu tangan kananku kupindahkan untuk memegang payudara kiri ibu dan tangan kiriku memegang yang sebelah kanan.

Aku mulai menjilati ketek ibu, ibu makin mengatupkan mulutnya, namun kurasakan ia bergerak sehingga kini tahu-tahu selangkangan ibu yang masih berbalut celana dalam menekan paha telanjangku, karena aku saat itu memakai celana pendek yang juga sudah tersingkap sehingga sebagian besar pahaku tidak tertutupi. Aku gentian menjepitkan selangkanganku di paha kiri ibu yang juga sudah tidak tertutup rok.

Aku masih menikmati ketek ibu yang memiliki bermacam rasa di lidahku. Ada rasa asin dan sedikit getir namun entah kenapa lidahku menikmati sekali rasa tubuh ibu ini. Selangkangan ibu, di lain pihak, mulai menekan-nekan pahaku. Aku juga mulai menekan-nekan paha ibu dengan selangkanganku, tanganku mulai berani sedikit meremas kedua payudara ibu yang dibalut gaun tidur tipis itu. Pentilnya berada di kedua telapak tanganku.

Kurasakan tubuh ibu mulai merosot ke belakang membuat badanku doyong ke kedepan. Lama kelamaan tubuh ibu seakan ingin tidur di sofa namun agak susah dengan posisi kami, aku otomatis melepaskan diri dengan  mengangkat kepala dan tubuhku dengan kedua tanganku yang kutaruh di samping kanan kiri ibu, membuat jilatanku terhenti, kemudian kaki kiriku yang terhimpit sofa dan paha kanan ibu kuangkat juga. Dengan cepat ibu menggeser tubuhnya lurus di bawahku, kaki kanannya sedikit tertekuk menyender bagian badan sofa, menyebabkan kedua kaki ibu kini mengapit kedua kakiku.

Lalu, berhubung tangan kiri ibu masih memegang telpon, ibu memiringkan tubuh ke kanan dengan tumpuan tangan kanan agar lebih mudah memposisikan dirinya. Gerakan ini membuat tali gaun tidur yang sebelah kanan terjatuh dari bahu ibu. Ketika ibu sedikit mundur agar kepalanya menyender di tangan sofa supaya posisi badannya kembali lurus, tali gaun tidurnya sudah terjepit siku kanannya sendiri.

Dengan cepat pula aku tarik tangan kanan ibu itu keatas dengan mengusahkan agar tali bahu gaun tidur ibu tidak ikut tertarik, tangan kananku menarik tangan kanan ibu ke atas sementara tangan kiriku memegang tali itu dengan cara seakan aku sedang menopang tubuhku dengan tangan kiri. Bagusnya ibu tadi membuka mata hanya untuk melihat posisi gerakan, untuk kemudian memejamkan mata lagi dan melanjutkan pembicaraan dengan Tante Hani.

Hebatnya ibu tidak menyadari tali gaun tidurnya terjatuh, karena payudara kanan ibu masih tertutup berhubung dada ibu besar sehingga gaun bagian depan kanan masih nyangkut di bongkahan indah tetek kanan ibu, sebenarnya aku tinggal menarik sedikit gaun tidur ibu dari pinggang kanan ibu, maka payudara kanan ibu akan terlihat, namun aku punya rencana lain. Aku tidak ingin terburu-buru dan mengagetkan ibu. Jangan sampai ibu nanti malah sedemikian kagetnya sehingga menghentikan aktivitas nikmat kami berdua.

Secepat aku menarik tangan kanan ibu ke atas sehingga tangan itu bersandar di sofa seperti halnya kepala ibu, maka secepat itu pula aku kembali membenamkan wajahku di ketiak ibu dengan bulu-bulu yang pendek itu. Gerakan ini membuat aku menindih ibu terang-terangan. Tahu-tahu saja kontolku kini menekan memek ibu, walau masing-masing masih terbungkus celana.

Sambil menjilati ketiak ibu, aku mulai menekan-nekan selangkangan ibu. Ibu sudah dapat menguasai nafasnya, berhubung aku cukup lama menjilati pangkal lengannya itu, sehingga ibu tampaknya sudah tidak lagi geli, namun malah menikmati nafsu yang mulai menjalar dirinya. Sementara, aku sambil meremas-remas payudara ibu yang besar yang masih tertutup gaun tidurnya, asyik menjelajahi ketiak seksi ibu terus-menerus dengan lidahku.

Lidahku tidak hanya menjilat seperti anjing menjilati piring makanan, terkadang lidahku memutar-mutar, bahkan kadang-kadang bibirku mengenyot ketek ibu sehingga bulu-bulu halusnya masuk ke dalam mulutku untuk kemudian kuhisap-hisap bagaikan sedang menghisap permen. Iya, bulu ketiak ibu bagiku semanis permen lollipop. Terkadang pula bagian tengah keteknya kukenyot sampai ke kulitnya. Saat itu ibu langsung mendesis bagaikan sedang kepedesan….

“sssssh…….  Kenapa, Mbak? Oh…. Iya… ini si Ari sudah mijitin bahuku lagi……”

Lalu perlahan aku mulai beringsut ke bawah. Sambil mengenyot terus, aku sedikit demi sedikit mengenyoti bagian bawah keteknya, lalu berpindah ke bawah lagi, hingga sampai ke kain atas gaun tidurnya yang terletak di samping payudara ibu. Tangan kiriku ku lepas dari dada ibu dan ku taruh di ketiak ibu untuk mengelus-elus rambut ketiak, terkadang memilin-milinnya perlahan.

Dengan hidung dan pipiku aku mendorong sedikit demi sedikit gaun tidur ibu, sementara lidahku terus mengenyot dan menjilati samping payudara ibu. Kini mulutku telah mencapai bulatan samping tetek ibu, dengan tak sabar aku melepas tangan kanan dari payudara kiri ibu yang tadi terus kuremas, untuk menyingkap bagian kanan gaun tidur ibuku sehingga tahu-tahu buah dada ibu sebelah kanan menjadi telanjang.

Ibu membuka matanya terbelalak melihat ke payudara kanannya yang telanjang, mata kami bertemu sejenak, aku melihat sekejap payudara ibu yang besar yang tampak tumpah ke kanan karena ibu sedang tiduran, dan melihat pentil tetek ibu sudah mengacung. Pentil itu seukuran jempol bayi, namun sedikit lebih panjang dan mengacung bagaikan ujung belakang pensil, sementara areola ibu yang menjadi bagian bawah putingnya, ukurannya hampir sebesar pantat botol aqua kecil 330 ml. areolanya tidak sepenuhnya bundar, namun mengelilingi pentil nya dengan indah. Dengan warna coklat muda sungguh indah sekali menghiasi kulit putih mengkilatnya yang sekarang mulai berkeringat. Gundukan buah dada ibu dihiasi urat-urat halus kebiruan, menambah indah pemandangan tubuhnya yang mulus.

Beberapa detik kami tertegun, ibu lalu bagaikan terjaga karena dengan cepat berbicara lagi di telpon,

“Oh.. enggak, Mbak…. Bukan ngantuk….. Aku diam karena tadi sedang mikirin masakan besok……. Enggak, Mbak…. Aku enggak bosen kok ngobrol sama Mbak…. Cuma tahu-tahu kepikiran masak besok…. Terus…. gimana ceritanya sama Mas Hari?”

Mas Hari adalah suaminya Tante Hani. Rupanya tanteku lagi curhat. Ibu berbicara di telpon sambil terus menatap mataku. Sambil menatap mata ibu dalam-dalam, aku perlahan mendekati pentil ibu yang tegang itu dengan kepalaku. Nafas ibu mulai berat kembali. Kulihat dadanya naik turun mulai cepat.

Kucium gundukan samping kanan tetek kanan ibu yang dihiasi urat-urat halus itu secara pelan. Ibu memandangiku sambil terus berbicara dengan tante Hani. Matanya memancarkan sinar aneh. Bukan marah, bukan Bahagia. Tetapi sinar mata lain. Saat itu aku tak tahu, namun belakangan aku menjadi hafal. Itulah tatapan seorang wanita yang sedang birahi.

Berhubung ibu tidak melarang, aku mulai berani menciumi lingkar areola payudara ibu. Buah dadanya begitu kenyal dan lembut. Bau tubuh ibu yang lembut membelai-belai indera penciumanku. Entah hanya di pikiranku atau tidak, namun kuperhatikan puting ibu tampak membesar. Kukecup perlahan puting ibu yang menantang itu. Kulihat dada ibu naik dan turun tanda menghela nafas, desahannya lirih terdengar.

“iya…. Mbak……. Pundakku rasanya enak dipijit Ari…… terus ceritanya gimana kok bisa Mas Hari begitu?”

Mata ibu menatap tajam mataku selama bibirku mengecup puting kecoklatannya, sementara aku tetap menatap matanya untuk mencari-cari apakah ada tanda kemarahan di balik sinar matanya yang indah itu. Tetapi aku tidak menemukan seberkas tandapun baik dari matanya maupun dari raut wajahnya yang menyatakan bahwa aku sedang melakukan sesuatu yang tidak ibu sukai.

Kukecup lagi puting susunya, kali ini agak lama. Kami masih saling menatap lekat-lekat. Aku lalu memberanikan diri untuk mengeluarkan lidahku dan perlahan mendekati pentil tetek ibu itu dengan lidah tersebut. Kulihat sorot mata ibu berkilau, sorot mata yang memancarkan harapan. Seakan ibu menunggu-nunggu momen lidahku menyentuh puting indahnya. Kurasakan dada ibu berhenti bernafas menunggu sentuhan itu…

Ketika lidahku menyapu puting susu kanan ibu itu, ia menggigit bibir bawahnya. Kini ia bernafas lagi tapi lebih berat dibanding sebelumnya. Perlahan dengan ujung lidahku aku menyapu puting yang kini sangat tegak dan tampak lebih besar dari sebelumnya. Pentil ibu kurasa keras di lidahku. Aku mulai menjilati pentil ibu lebih cepat. Terkadang lidahku memutari pentil ibu. Kulihat wajah ibu mengernyit dan bibirnya tetap dalam posisi digigit ibu. Tampak erotis sekali di mataku.

Akhirnya aku tak tahan dan memasukkan pentil ibu ke dalam mulutku dan mulai mengenyot dengan gemas.

“Mmmmmphhhhhhhh……….” Tak sadar kini ibu mengeluarkan suara walaupun bibir bawahnya terkatup dan sedang digigit oleh gigi atasnya. Suara ibu sungguh sensual, suara wanita yang berusaha menahan gejolaknya dengan menutup mulut, namun gejolak birahi itu tak mampu ditutupi secara penuh. Gumaman nikmat meluncur tak dapat ditahannya.

“mmmm? Iya mbaaaakkk……… ada…. Ada….. ada uratku yang pegal yang… yang pas dipijit.. ariiiiiii……..”

Kulihat kini ibu mengernyit bagai menahan sakit dan ia berusaha menutup mulut dengan melipat bibir ke dalam. Tangan kiri ibu kini memegang belakang kepalaku. Aku terus mengenyoti tetek ibuku dengan hebat. Terkadang aku jilati juga.

Di lain pihak, selangkangan kami menempel. Tak direncanakan, aku mulai menggoyangkan pantat maju  mundur tapi sambil tetap menggeseki selangkangan ibu, dan ibu mengimbangi juga dengan gerakan yang sama, tiap kali aku tekan ibu juga tekan, tiap kali sedikit renggang, ia akan renggang, tapi tak pernah sampai selangkangan kami berpisah.

Celana pendekku kini kurasa sudah menempel dengan celana dalam ibu. Dapat kurasakan pinggiran rok gaunnya tersangkut ke bagian atas. Tangan kananku masih meremasi payudara kiri ibu. Tangan kiriku sedang menahan tubuh dengan memegang sofa. Aku mengangkat tangan kiriku sehingga badanku kini penuh menindih ibu. Selangkangan kami lebih lagi beradu dengan ketat. Lalu kedua tanganku aku gerakkan untuk mendorong celana pendekku ke bawah, tepat ketika kami berdua menarik pantat kami dalam irama goyangan selangkangan kami berdua. Aku hanya menarik celana sampai paha, yang penting kontolku bebas.

Ketika terbebas aku menekan lagi selangkangan ibu. Kini dapat kurasakan celana dalam ibu dan celana dalam itu ternyata sudah basah. Tahu-tahu tangan kanan ibu memegang pantatku. Ketika ia merasakan pantat telanjangku, ibu tiba-tiba membelalakan matanya dan menatapku. Saat itu aku takut ia akan marah, namun kurasakan tangan ibu malah menekan pantatku kuat-kuat. Telpon di tangan kirinya tahu-tahu terlempar ke dudukkan sofa, dan tangan kiri itu kini menekan pantat kananku yang juga telanjang.

Kurasakan selangkangan ibu menekanku dalam-dalam dan tangannya mencengkeram kedua pantatku kuat-kuat. Kepala ibu tertarik ke arah belakang dan dengan mata terpejam dan wajah meringis ia mengeluarkan suara….

“Aaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh”

Kontolku yang terjepit merasakan sakit karena terjepit. Namun saat itu juga aku sudah tidak tahan lagi memendam birahi yang dari tadi menggelegar di dada. Apalagi kini kurasakan kontolku basah kena lendir yang menembus celana dalam ibu yang tampaknya tipis karena tak dapat membendung cairan kenikmatan ibu. Sehingga aku juga menekan selangkangan ibu kuat-kuat dan kedua tanganku menyelusup hingga memegang kedua bongkah pantat ibu, lalu memuntahkan pejuku yang membasahi celana dalam ibu dan selangkanganku sendiri.

Dalam masa orgasme itu, ibu menegakkan kepalanya lalu menggunakan tangan kirinya menjambak rambut belakangku sehingga aku mendongak, lalu ia mencium bibirku kuat-kuat. Lidahnya menyapu-nyapu liar sementara bibirnya menyedot-nyedot. Aku berusaha mengimbangi dengan lidah dan bibirku pula.

Beberapa menit kemudian, ibu kembali rebah dengan lemas. Aku masih duduk di selangkangannya tak tahu harus berbuat apa. Kulihat celana dalam ibu yang berwarna putih kini sudah gelap karena basah di bagian memeknya. Sementara celana dalam itu dihiasi cairan putih milikku.

Beberapa saat kemudian ibu baru sadar lalu mengangkat telepon.

“Maaf Mbak… tadi ada kucing berantakin dapur. Aku check dulu ke sana. Iya……. Berani benar tu kucing…”

Kini ibu duduk di sofa dan memegang telpon dengan tangan kanan. Tangan kirinya bebas. Gaunnya terbuka di bagian kanan, sementara tali bahu gaun kirinya masih terpasang. Aku yang sudah mulai berani, tanpa pura-pura segera meraih tali gaun tidur itu lalu menariknya turun. Ibu tampak tidak terpengaruh dan terus berbicara dengan tanteku.

Setelah aku mencopot tali itu dari tangan ibu, kini gaun tidur ini sudah tidak menyangkut apapun. Aku tarik gaun tidur ibu kebawah sambil melihat wajah ibu. Ibu terus berbicara dan hanya menatapku saja tanpa ada reaksi.

Keberanianku kini menjadi nekat. Aku terus menarik gaun itu sampai pinggangnya dan berusaha meloloskan gaun yang kini nyangkut di pantat. Ibu mengangkat pantatnya dan dengan cepat gaun tidur itu kuloloskan. Dengan gaun tidur itu aku menyeka celana dalam ibu yang penuh mani dan juga selangkanganku.

Tak henti mataku menjelajahi tubuh ibu yang sedang duduk dengan hanya celana dalam yang basah di selangkangan. Di mataku, semua wanita di dunia ini kalah seksi. Ibu bagaikan penjelmaan dewi Venus yang mengundang maksiat di kepala semua lelaki, bahkan anaknya sendiri. Dengan tubuh yang tidak gemuk atau kurus, ibu memiliki tubuh wanita sesungguhnya.

Kedua payudara ibu begitu bulat dan indah, dengan lembah payudara yang hanya sedikit di bagian tengah agak ke atas, dekat dengan pusat tulang dada. Kulit yang putih itu tampak begitu kontras dengan puting buah dada yang coklat muda. Puting itu duduk di bagian tengah payudara namun sedikit ke bawah dan agak ke samping. Nampak payudara yang kencang dan hanya sedikit sekali kendur. Nafas ibu membuat kedua payudara ibu bagai menari tarian paling erotis yang pernah kulihat seumur hidupku.

Perutnya tidak rata, namun tidak buncit. Agak sedikit berlekuk yang menambahkan keindahan seorang perempuan sejati. Pinggulnya melebar, tanda bahwa perempuan yang adalah ibuku ini adalah perempuan yang diciptakan untuk melahirkan anak. Jembut ibu terlihat membayang di tempat mana yang basah sehingga bagaikan sedikit transparan.

Baru aku mau mendekati dewi sensual ini lagi, tahu-tahu telpon ditutup. Aku terpaku. Mata kami menatap satu sama lain. Aku bingung harus bagaimana. Akhirnya ibu duluan yang berkata,

“sudah malam. Waktunya tidur.” Dan ibu berlalu dari hadapanku…

Paginya ibu bangun seperti biasa. Kali ini dengan baju mandi yang seperti kimono, dengan tali untuk mengikat. Ia menyapaku seperti biasa. Aku menunggu tanda-tanda dari ibu, apakah tanda kemarahan, kekecewaan atau bahkan kebahagiaan. Namun tidak ada yang terlihat. Aku semakin bingung.

Ketika berangkat ke sekolah aku nekat mencium bibir ibu lama. Tidak ada tanda kemarahan, namun tidak pula ada balasan ciuman dari ibu. Aku coba mengeluarkan lidahku dan menyapu bibirnya. Tiba-tiba ibu mendorongku sambil tertawa dan menyuruhku ke sekolah.

Dengan penuh kebingungan aku berangkat.

Waktu pulang sekolah, ibu tidak ada di rumah. Aku menunggunya hingga senja turun. Ketika ia masuk rumah aku bermaksud menciumnya lagi, namun ibu hanya mengijinkan sebentar, berhubung ia membawa banyak belanjaan dan juga Ibu membeli makanan di luar.

Ketika makan malam, ibu mengajakku bicara seperti biasa dan tidak ada sedikitpun menyinggung malam kemarin. Aku benar-benar bingung sebenarnya mau ibu itu apa. Apakah ia senang dengan kemarin, ataukah tidak menyukainya?

Setelah makan ibu bergegas ke kamar dan aku menonton TV dengan penuh pikiran. Sekitar sejam kemudian ibu turun menggunakan baju mandi tadi pagi yang seperti kimono. Sehingga aku hanya melihat sedikit pahanya saja. Mungkin ibu tidak mau mengulang kemarin malam. Aku menjadi sedih.

Sekitar jam Sembilan ibu meraih telepon lalu memutar nomer. Tak lama ia berbicara,

“Ayah…. Telpon rumah dong…. Ibu kangen…… Satu jam lagi ya….. aku lagi kangen……… jangan…. jangan sekarang….. sejam lagi ya…… nanti ibu angkat dari kamar……”

Telponnya begitu singkat sehingga aku belum sempat duduk dekat ibu. Apalagi ibu bilang bahwa ia minta ayah telpon sejam lagi dan akan diangkat di kamar. Hmmmm, aku berpikiran ngeres…. Apakah ibu akan melakukan phone seks dengan ayah?

Aku cemburu dan sebal dan bingung. Apakah yang harus aku lakukan? Aku belagak tidak mendengar, dan wajahku pasti terlihat jutek. Tapi ibu tampaknya cuek saja dan ikut menonton denganku. Ketika satu jam hampir sampai, ibu bergegas ke atas.

Lama-lama aku penasaran, apa yang akan dilakukan ibu di telpon? Aku mulai horny lagi dan akhirnya memutuskan untuk ikut ke atas dan melihat situasi.

Ternyata kamar ibu dibuka. Ibu sedang duduk di samping kanan tempat tidur, di samping kanan ada meja tempat telpon. Ibu sedang menunggu telpon. Ibu melihatku ketika aku di depan kamar, dan hanya tersenyum. Perlahan aku masuk kamar, namun ibu tampak tidak bereaksi apapun.

Akhirnya aku naik tempat tidur dan beringsut mendekati ibu. Aku pura-pura bertanya,

“Ayah mau telpon ya? nanti Ari mau ngomong ya?”

“Kamu tunggu ya… biar ibu ngomong dulu seperti biasa….”

Ibu sedang bersandar di kepala tempat tidur dengan diganjal bantal. Aku menyelusupkan tangan kananku ke belakang tubuh ibu dan tangan kiriku mendekap perutnya. Ibu hanya terdiam. Baru aku mau cium pipinya ketika telpon bordering…..

“Iya ayahhhh……” ibu mengeluarkan suara yang manja. Aku menjadi horny dan kucium pipinya perlahan. “ih… ayahhhh… kok pura-pura ga tau sih? Aku kan kangen……….. ini lo….. aku mau coba kayak temanku dan suaminya…… itu loh ayah…… phone sex….. ayah mau kan? Aku udah kangen loooo…..”

Aku agak terkejut. Ternyata dugaanku benar. Hmmm, ini nih….. kayaknya bakal seru, batinku sambil tertawa dalam hati.

“Aku yang mulai ya, Yah…….. abis ayah kok kayak malu-malu….” Suara ibuku begitu manja bagaikan anak perawan saja. Kontolku sudah mulai mengeras hanya karena suaranya itu.

“cium dong yah…….” Kucium pipi ibu.

“kok enggak ada suaranya? Cium bibirku dong, yah….. coba pakai tangannya jadi suaranya kedengaran kayak asli…. Aku contohin ya……”

Tahu-tahu bibir ibuku mengecup bibirku berkali-kali sehingga memperdengarkan suara orang berciuman.

“mirip dong…. Soalnya ibu pura-puranya pakai penghayatan, coba ayah…..”

Aku mau cium ibu lagi tapi ia berkelit. Terdengar suara ayah yang pura-pura ciuman, bibirnya mengecup sesuatu, mungkin pakai tangannya sendiri seperti yang disarankan ibu tadi. Lalu ibu berkata,

“nah… gitu dong anak baik….. hihihi” ibu terkikik bagai gadis saja. “ibu balas ya…….”

Lalu ibuku menciumku lagi kini sambil memainkan lidah. Terkadang bibir kami menimbulkan suara kecupan, dan terkadang lidah kami bertautan. Saat itu ibu mengeluarkan gumaman nikmatnya,

“mmmmphhhh…..mmmmmmpppphhhhhh”

“kenapa yah? Ayah jadi horny? Ibu juga….. sekarang ayah jamah aku dooonnggg…..”

Aku mulai menikmati permainan ini.. ibu beringsut sehingga tiduran telentang, kedua kakinya sedikit terbuka. Aku segera memposisikan kedua kakiku di sela-sela kaki ibu, dan berhubung ibu suruh aku nenen, maka kepalaku sejajar dadanya, sementara kontolku kena tempat tidur, karena ibu lebih tinggi dariku. Aku segera menarik baju mandi ibu melolosi kedua lengan ibu, walaupun tali di pinggang masih terikat, sehingga hanya bagian atas yang terbuka. Bagiku ini sangat sensual.

Kedua buah dada putih ibu tampak mengacung menantang. Bulir keringat mulai muncul perlahan-lahan. Ibu menatap mataku, lalu meloloskan kedua tangannya dari gaun mandi kimono itu. Dengan tangan kiri ditaruh di bibir, tanda bahwa aku tak boleh bersuara, ibu menekan tombol speaker. Lalu perlahan ibu menaruh telepon itu di meja samping.

“Ibu….. aku ngaceng nih……..”

“jangan dulu, Yah…… coba belai dada istrimu dulu….”

“aku belai ya…..”

Sementara ayahku yang bersuara, aku yang mulai menggenggam kedua payudara ibu dengan kedua tanganku. Kedua gundukan nikmat ibu begitu besar sehingga telapakku tak bisa menutupi seluruh payudaranya…

“Iya……. Begitu, sayangku……… shhhhhhhh….. coba remas sedikit dong yah…..”

“ini aku remas, dik….. kerasa ndak?”

Sementara tanganku mulai meremasi payudara ibu yang tambah berkeringat. Begitu lembut dan kenyal di tanganku yang coklat. Jempolku berkali-kali mengusapi puting ibu yang mulai mengeras, sama seperti kontolku yang mengeras perlahan.

“terus, Yaaah……. Nenen dong, yahhhhh……”

Sebelum aku mendengar balasan suara ayahku, aku menyerbu pentil kiri ibu dan aku sedot dalam-dalam. Ibu mendesah keras dan hampir berbarengan dengan suara ayahku yang pura-pura mmperdengarkan suara orang sedang netek, ibu berkata,

“Terus yaaaah….. iyaaaa, begituuuuuu”

Suara kecipakan mulut ayahku berpura-pura masih terdengar, sementara kini aku secara buas menjilati, menciumi dan mengenyoti seluruh toket kiri ibu. Bahkan aku mulai juga mencupangi kulit putih berhiaskan urat-urat biru halus gundukan tetek ibuku. Tak lama kulit putih payudara kiri ibu sudah dihiasi bercak cupang di sana-sini.

“sebelah lagi yah….. sshhhhhhh…..”

Aku menggerakkan kepalaku ke sebelah, dan kini buah dada kanan ibu yang menjadi sasaran mulutku. Kugagahi seluruh jengkal tetek ibu yang besar itu sampai seluruhnya berlumuran air liurku. Sampai saat itu aku mulai hafal bau tubuh ibu yang memabukkan.

Selama penjelajahan mulut dan lidahku di dada ibu, aku telah menanggalkan celanaku diam-diam dan aku menunggu kesempatan untuk dapat menggeseki selangkangan ibu lagi.

“aku ga tahan, diiiik……..” tahu-tahu ayahku setengah berteriak,” aku mau masukkin burungku ke sangkar kamuuuuuu…….”

Aku segera beringsut ke atas, mulutku tak lagi menggauli tetek ibu, aku lihat kesempatan untuk menggeseki selangkangan ibu lagi, maka sambil terus meremas kedua payudara ibuku, aku tergesa bergerak maju tepat saat ibu sedang membuka kedua kakinya untuk ngengkang sehingga memudahkan kedua kakiku yang tadi masih terjepit di antara kaki ibu.

Ibu sedang terpejam sambil mendesah-desah. Untuk dapat menggesek kontolku di selangkangan ibu dengan mudah, aku harus agak duduk lalu menaruh kontolku di selangkangan ibu untuk kemudian menindih ibu. Namun ketika kulihat selangkangan ibu yang sedang ngangkang, kulihat baju mandinya sudah tertarik ke perut karena kedua paha ibu yang merapat ke atas, dan ternyata ibu tidak pakai celana dalam!

Dengan tiba-tiba kulihat jembut ibu yang dicukur rapi menjadi segitiga terbalik dengan belahan memek di bagian bawahnya. Kiri kanan memek ibu tercukur rapi sehingga bibir memek merah muda ibu terlihat jelas. Bibir itu sedikit merekah terbuka namun hanya memperlihatkan warna bagian dalam merah muda sedikit saja di bagian agak bawah. Warna sedikit lubang memeknya.

Semua terjadi begitu cepat. Aku lihat kesempatan. Segera dalam hitungan detik tangan kananku menuntun kontolku ke rekahan kecil lubang memek ibu. Detik kepala kontolku bersandar di depan lubang kemaluan ibu itu, mata ibu melotot, namun detik berikutnya aku dorong pantatku keras-keras ditolong dengan tangan kiriku yang aku taruh di pinggul kanan ibu sebagai pegangan dan secara cepat juga tangan kananku memegang pinggul kiri ibu.

Kurasakan kontolku tiba-tiba diselimuti gua yang sangat basah dan hangat. Dan secara cepat aku tindih ibu sehingga seluruh kontolku amblas dan selangkangan kami bertemu.

“kontol ayah masuuuuuuukkkkkk!” teriak ibu sambil membelalakan matanya padaku.

Kudengar ayahku di telpon sedang mendesah-desah juga sambil mengeluarkan kata-kata kotor mengenai persetubuhan virtual-nya dengan ibu. Kurasa ia sedang ngocok, tanpa mengetahui bahwa desahan dan erangan ibu bukanlah pura-pura melainkan sungguh karena vaginanya sedang ditusuk oleh kontol anak mereka sendir.

Aku menindih ibu sambil secara buas menghujami lubang memek ibu yang basah, licin dan hangat yang menyelimuti batang kontolku. Dinding vagina ibu bagai mencengkeramku. Aku tahu bahwa ukuran kontolku masih ukuran anak remaja. Panjangnya hanya 13 senti saja. Namun dibanding dengan teman-teman sekelasku, aku termasuk yang terpanjang dan tergemuk. Selama ini aku di kala aku membayangkan bersetubuh dengan ibu, aku selalu membayangkan bahwa kontolku yang tidak terlalu besar ini, mungkin tidak akan sama rasanya dengan kontol ayah, dan mungkin agak susah bagi ibuku untuk menikmatinya. Selain itu, aku juga membayangkan bahwa memek ibu akan longgar bila kuentoti. Tetapi, semua bayanganku ternyata berbeda dengan kenyataan. Kontolku merasakan dinding kemaluan ibuku walau basah dan licin, tetapi dinding vaginanya itu kurasa mencengkramku dengan kuat. Dinding memek ibu kurasa cukup ketat menjepit batang kontolku.

Aku serasa di surga. Baru beberapa saat kemudian aku menyadari kini kepalaku sejajar dengan dada ibu, dengan kepalaku yang hanya mencapai hidungnya dan mulutku yang beberapa senti di atas leher ibu. Dengan sedikit menekuk, mulutku mencapai puting kanan ibu dan mulai menyedot-nyedot.

“iyaaa terusss yahhhh……. Entotin ibu teruuuus…….. sambil sedotin tetek ibu……. Ayo yahhhh…… jangan berhenti……”

“Iya sayaaaang……. Kuentot kamu keras-keras….. itu yang kamu suka, kaaaan…..” terdengar jawaban ayahku di speaker phone ditingkahi erangan dan desahannya.

Bergantian pentil kiri dan kanan ibu aku sedoti dan jilati, terkadang aku juga menjilati dan menyedoti bagian dada ibu yang lain. Kini tubuh kami sudah bermandikan keringat akibat persetubuhan kami yang sudah hampir sepuluh menit berjalan. Asin peluh ibu kunikmati di lidahku, dan seluruh dada ibu kini sudah habis kucupangi juga. Tubuh kami bermandikan keringat ibu, keringatku dan ludahku yang bercampur satu. Suatu cairan jus birahi yang terus kami aduk dalam luapan hasrat seksual.

Makin lama memek ibu yang sempit itu kurasakan semakin licin dan juga semakin hangat. Kini ibu hanya mengerang-ngerang tanpa ada satu kata pun terdengar.

“aaahhhhh……. Aaahhhhhhhhh…… ahhhhhhh…….” Dalam suara yang baru kudengar, yaitu suara ibu yang melengking sementara kedua matanya setengah terpejam dan yang terlihat hanya bagian putihnya saja. Ibu sudah tenggelam dalam kenikmatan surgawi.

Kutarik kepala ibu agar menunduk dan kuserang bibirnya dengan buas. Kami berciuman dengan ganas dan liar. Bahkan kurasakan air liur ibu keluar membasahi kedua bibir kami. Kini suara ibu yang menggumam nikmat namun cukup keras terdengar sampai ke telepon di samping tempat tidur.

Makin lama gerakanku makin cepat, dan ibu juga menggoyang pantatnya makin cepat. Kami berdua sedang berpacu menuju puncak kenikmatan. Kontolku sudah merojok-rojok lubang kemaluan ibu dengan cepat dan hampir tak ada hambatan sama sekali karena kelamin kami berdua sudah basah kuyup oleh cairan pelumas yang keluar dari dalam vagina ibu.

Ibu melepas ciumannya dan mendongakkan kepalanya ke atas sambil mengerang keras,

“Aaaayaaaahhhhh….. ibu sampaaaiiiiiiiiii…… aaaahhhhhhhh!!!!”

Kurasakan memek ibu berdenyut-denyut keras mencengkram melepas dengan cepat berkali-kali. Cengkraman ini membuat kontolku dijepit-jepit dengan keras membuat aku membabi buta merojoki vagina ibu dengan sekuat tenaga, tahu-tahu hidungku mendarat di ketiak kiri ibu yang basah, karena aku tak menyadari gerakan sendiri. Bau tubuh ibu yang alami kuhirup, hidungku merasakan bulu ketiak ibu yang pendek-pendek dan basah, aku menjadi tak tahan lagi. Sambil mengenyoti ketek ibu akhirnya aku menekan kontolku di lubang kelamin ibu dalam-dalam, dan menyemburkan air maniku ke dalam memek ibu yang nikmat itu berkali-kali.

Kami terdiam beberapa saat. Baru kemudian kami tersadar ketika kami mendengar ayah berteriak di telepon,

“aku juga sampaaaaiiiiiii”

Aku dan ibuku berpandangan sebentar lalu tersenyum nakal satu sama lain. Saat itu kami berdua tahu bahwa segala sesuatunya akan menjadi berbeda.

DIAN 3: WITH MOM

Setiba dirumah pulang dari kantor ku melangkah kerumah atas tuk mengambil kunci rumah bawah tempat ku menyewa tempat tinggal… Sebelum kuketuk pintu samar samar ku dengar ada yang bercakap cakap… Ku lirik ke dalam melalui gorden jendela ternyata Dian dan Mamanya yang ngobrol… Aku berbalik ehhh aku kaget namaku di sebut oleh Dian… Gak jelas apa… Aku penasaran… Ku balik pengen tau lalu aku nguping di balik jendela dengan posisi cukup aman dan jelas mendengar suara mereka…
Mah… Ternyata memeknya tante … Bulunya gak dicukur sama sekali Mah… Kata Dian akrab ke Mamanya… Aduhhh mereka ngobrol tidak ada canggung dan batasannya… Yang menunjukkan mereka berdua sudah biasa melakukan apa yang Dilakukan Dian kepadaku yang waktu itu aku membiarkan Dian melahap memekku dengan pura pura tidur….
Anganku melayang… Penyakit syahwatku kumat pengen dengar terusan obrol mereka…
Kok kamu tau… Kata Mamanya
Hehehe kemaren aku kekamarnya tante… Ehhh tante lagi baring cuman pakek handuk kecil doang Mahhh… Trus… Trus itu Mahhh memek tante kekihatan… Susunya mahhh… Duhhhh padat dan montok mahhh…
Aaahhh kamu bikin mama kepengen aja…. 
Iya bener mahhh  bulu memek nya rimbun banget… Tebal hitam dan memeknya kayak busung gitu mahhh… Pokok nya seksi bikin aku ngejilatin aja terus…
Aku sedikit bangga dengar Dian memuji semua pekakas  birahi ku…
Memek mama kan bulunya hitam jugaaak…
Iya sih maaa… Bulu Memek mama gak teballl gitu… Bibir memek mama masih bisa ke kihatan… Kalau memek tante gak kelihatan mahhh kalau gak di sibak gitu bulunya…
Ooo… Penasaran mamah jadinya… Hehehe mama Dian ketawa… Dalam hati ku menilai mereka mama dan anak ini udah sangat saling memahami bicara masalah kelamin sek dengan fulgarnya…
Yan… Mama jadi napsu nih… 
Semalammm kan mama gituan ma papaaa… Brisik banget kamar mama semalam….l
Itutuh papamu… Maunya di oral muluuu… Kalau ngoral mama dia malasss … Hufff
Emang mama gak di ewek ma papa…??? 
Maunya sih iyaaa… Tapi kan papamu kalau dioral harus sampai muncrat gitu… Kalah dah muncrattt capek lah ngantuk lah… Sebel mamahhh
Emang kenapa mahh papa gak ngewekin mamahhh….
Kasihan ma mamahhh… Papah sukak susah keluarnya kalau masukin kememek mamahhh trusss kalau dipaksain gitu mama kecapaian bisa orgasme tiga empat kaliii katanya…
Emang gitu mahhh…!!! 
Iyaaa mungkin memek mama gak sesempit dulu lagi… Sedang burung papamu termasuk yang sangat tahan banget kalau ngewe… Mau setengah jam buat ngentotin keluar masuk aja gak klimak klimak… Belum gedenya lagi huhhh bikin mamah capekkk Burung papa gedeee maaa… Uuu… Panjang lagi… Sama tuh ma tangan kamu… Kebayang gak capek mama… Hufff…
Aku jadi teringat burung.papa Leo… Waktu dia ngentotin Narti tempo hari… Bener bener luar biasa… 
Ihhhhh ngeri jugak ya mahhh harusnya mama bangga dong Iya sihhh tapi mama kan udah berumurrr… Yan ayo yannn… Jilatin memek mama yaaa… Mama udah birahi banget nih.. Iya mah… Dian dah kangen ngisapin klentit mama yang nyembul keluar itu… Hehehe..
Aku bener salut ama.keluarga ini… Birahiku jadi memuncak dengar mereka ngobrol sek sebebasnya antara mama dan anak… Kunyamankan.posisi ngintip ku agar selesa… 
Mama Dian.membuka celana dalam.nya… Bajunya diangkat keatas dan.lepas… Kelihatan memek mama Dian menggelambir keluar bibir bagian dalam memeknya… Sedang klentitnya terlihat jelas bagai burung anak kecil lima taunan… Duhhhh sexi juga ya
Dalam.hati ku… Baru ini aku lihat memek yang agak ekstrim penpilannya… 
Mungkin karena dihajar kontol papa Leo yang besar itu sekian belas tahun lamanya… Iyalah…
Jadinya terjadi perubahan bentuk di.memek mama Dian…
Dian meletakkan bantal.kursi di lantai… Lalu dia telentang sambil.membuka bajunya… 
Ough Diannnn susumu.kecil seksi padat dan putih walau hanya sebola tenis… Ooogghh memekku basah cairan ku mengalir… Tanganku langsung menyeruak celana dalam ku oh Mama Dian lngsung mengangkang di atas wajah Dian… 
Wahhhh kebelet bangettt ya ma  sini sini Dian jilatinnn… Hhhm kata Dian sambil memegang gelambir.memek mamanya dengan dua jari…  Mamanya nenjerit kecill… Iiih nakal ya kamu… Ouhhhh ayo sayanggg… Di emut… Itilnya.. Mama Dian udah birahi banget kulihat… Gakda pemanasan segala langsung ke inti nikmat nya yaitu itilll… 
Mamanya berpegangan di ping gir meja… Bokongnya digoyang maju.mundur mengikuti garis belahan.memeknya… Tangan dian sebelah.mengusap.memeknya mulutnya.mengulum bibir memek mamanya… Ough ough ssssttttuuu ya sayang disitu…
Dian menjemput kelentit mama nya dengan mulut… Disedot … Dijilat penuh dengan lidahnya
Mamanya.melenguh….oohh o enakkk sayangggh huffff… Kepala Dian kadang menengadah seperti anak sapi menyusu ke induknya…
Naik turun menyusur bibir memek mamanya… Dan berenti di kelentit untuk mengulum dan menghisap isap burung kecil wanita itu… Ooouuuhhhg ooouuuhhhggg… Mamanya mengerang enak nikmat sambil menggoyang pinggulnya… Sungguh posisi ideal sekali memuaskan bagian memek orang yang diatas… Mama Dian juga meremas susu imut Dian dengan sebelah tangan.. Dian hanya aauuhh aauuhhan melepas aliran nikmat melalui mulut yang sibuk dengan memek.mamanya… 
Mamanya turun… Ayo sayang balikkk… Ouugghh… Mereka berbalik posisi enam sembilan mamanya yang dibawah… Sambil menggapai sesuatu diatas kursi….
Aduhhhh penis karet warna kulit dengan urat yang kasar sekali….
Ayo sayang sambil di masukin ke memek mamaaa… Aaagggh mama dah gak tahan…
Dian telungkup diatas memek mamanya… Mulutnya gak lepas dari itil panjang itu… Diambilnya penis karet lalu di jilatkan ke mulut mamanya su paya basah dan licin. Sekarang mamanya melahap memek kecil anaknya… Di pel nya  dengan rakus memek mungil itu…Dian kekejangan menerima jilatan mamanya yang sudah sangat senior sekali… Sambil mencolok colok lubang dubur Dian… Tapi tidak kasar…  
Dian teganggghh tanpa suara pinggul mamanya bereaksi…  tanpa aturan ketika Dian mulai  memasukkan penis karet warna kulit itu kedalan lobang memeknya… Oouugghh oouug ooooooohhhgggg enak sayang
Yang dalammmmnnnmmm sayang… Dian menambah kan tekanan pada memek mamanya hingga sisa sepegangan saja… Ahhhhggg ya yaaaahhh ya sayanghhhgg dikocok yang hebat sayang…  Iyaaa mammm mmmuughhh.. Dian pun kenikmatan susunya diremas itil kecilnya di usap sendiri… Oouuggghhh… Yan yang kenceng eweknya yann.. Dengan durasi cepat Dian mengeluar masukkan penis karet ukuran jumbo itu… Cocok sama.memek.mamanya yang bibirnya lebar dan berlubang dalam.itu… Saking tersembul nya itil memek mamanya Dian leluasa menghisap itil sambil.memgocok memek dengan penis karet itu…. Mama nya mengerang pinggulnya terangkat… Pahanya merapatt ketat dan ooohhhggg oohhgg Mammmmmmma kkkkkeluar sayangggggg ooooooggghhhh oh ooooooohhhhgggg serrr serrrrretttt mani memek mamanya melesat hebattt…. Ohh ooohhhggg… Mah mah Dian gak tahan maaahhhh cepetannnnn colok.ma colok memek Dian maaaaahhhhh… Ooooooo oooogghhhh mmmaa mmmmaaaa…. Iyaaaaa ouuugh
Dian mencapai puncak orgasmenya begitu mamanya memasukkan lidah panjangnya kedalam lobang kecil memeknya…. 
Enak maaa nikmat…  Ooogghh 
Iya sayangggg pinterrrr… Oohh tak tahan memekku berkedut dan siap tuk diewekkk kutinggal mereka ke kamarku
Dikamar ku buru buru telanjang habis… Pakaian ku berantakan dilantai dimana saja… Ku bugil susu kuremas memekku kugosok gosok dengan telapak tangan kutekan kelentitku tegang… Mataku mencari cari sesuatu apa yang kira bisa nemuaskan memekku 
Kedapapur… Ya kedapurrr… Dikulkas ku ingat wortelku… Kupilih yang kecil saja karena hanya pengganti jariku biar lebih nikmat sambil ku ekploitasi kelentitku… Ohghh tak sabar aku langsung masukin ujung wortel ke meme ku yang udah kuyub dan tembem di desak napsu birahi orgasme… Kuberjalan ke.kamar tanpa melapas wortel dari dalam memekku…. Ooouugghh nikmatnya sambil jalan memek ku bergesekan seiring gerakan pahaku…. Ooohhgg.. Ooohhgg kubersandar ke meja rias menghadap cermin almari dan kaki ku tumpangkan sebelah ke atas kursi rias…. Waaaahhh menantang sekali di dalam kaca memekku jelas terlihat menjepit ujung wortel dan kelentitku tegang sekali… Ough oghhh… Pelan pelan kugerakan wortelku… Kunikmati setiap gesekannya sambil kupilin pilin puting susuku…. Aduuuhhh mammmaaaaa … Oogghh oohhgg… Kuremas.kuat susuku ku… Sungguh nikmat dan birahiiku makin keujung.. Kutekan dengan gesekan pelan antara kelentit dan lobang memekku… Uuhhhhhgggg… Aku akan keluar… Ooohhhggg oooggghhh… Memekku menje pit jepit wortelku sambil keluar masuk dangkal saja… Ku gak mau di perawanin ama.wortel aj… Sungguh nikmat gesekan tanggung wortel itu… Oogghh oogghh mammaaa nikmatttt seeeerrrtttt srrrrreeee maniku muncrat daru ujung nikmatku oouugghh oouugghh ooooohh aku orgasme nikmat banget…
Kubiarkan wortel tetap kejepit di sela memekku yang masih kedutan menikmati sisa birahi yang tersisa… Sambil.ku belai lembut susu dan putingnya… Ku terkulai lemas puas nikmat dan birahi tercapai tuntas…
Ku beralih ke kasur sambil rebahan mengingat hangatnya komunikasi mama dan anak tadi… Sampai kontol suaminya pun tanpa risih diceritakan ke Dian anaknya…
Mahh… Emang bener ya kontol papa selengan aku gedenya… Iyaaa… Tapi kamu jangan macem macem yaaa… Awass..
Gaklah mahhh… Kepengan tau ajaaa… 
Kalo sama memek kamu gak bakalan masukkk… Yang ada memekmu robek robek ama kontol papamu…
Tapi mahhh aku pengen tau aja gak pengen ngewe sama.papa gituuu… Aku kan jaga perawan ku mammm…
Hhhmmm ya udah biar kamu tau dan gak.penasaran ama kontol… Nti.mama cari jalan..
Pas mama dan papamu lagi gituan mama kasih tau dan kamu bisa intip dari jauh…
Dikamar kan susah.mahhh…
Gakkk… Papamu sering mgewe in mama di ruang ini…
Emmmuacgh makasi.mamma

DIAN 2: WITH ME 2

Mengingat apa yang dilakukan Dian ke aku sore itu… Aku pikir Dian juga mengalami penyakit seksual yang menyimpang yang sama dengan ku Karena kupancing dia sore itu Dian tidak menyiakan kesempatan yang ada… Dilahapnya memekku dengan rakus sampai aku mencapai puncak nikmat yang luar biasa dan dengan adiknya Leo… Dia juga ada ketertarikan walau hanya sekedar memamerkan tubuhnya dengan bertelanjang ria di depan Leo… Berarti Dian punya fantasi seksualitas yang rada aneh seperti aku…
Anganku pengen tau tentang Dian ini… Apalagi memeknya gimana sih… Aku heran kenapa aku begitu teransang kalau bicara memek? Lesbiankah… Tapi memainkan burung atau.kontol juga aku sangat suka… Cumak aku memang belum pernah berhubunga kelamin dengan burung siapapun… Kalau sekedar digesekkan dan di tempelkan ke memekku udah sering malah… Karena aku teransang banget kalau bisa bikin penasaran lawan xsibisku… Dan aku sangat menikmati syahwatku tergantung menjelang orgasme… Sungguh nikmat tersendiri…
Iseng ku whatssapp Dian… Hari ini libur pasti Dian dirumahnya.
Hallo non gi ngapaian…
Malesan aj di kamar tan…
Ooo… Lagi laperrr… Ada yang.mo dimakan disana…
Ada tan… Mo dianterin…
Gak usah biar tante kesana…
Ku jalan kerumah atas… Tangtop bertali kecil… Pendek sekali sejengkal.lebih diatas lutut… Bra ketat menopang payudara montok membusung tanpa sela ditengahnya… Huhh kok udah teransang giniii…
Aku kurang.puas dengan cumbuan di memekku oleh Dian kemarennn karena aku tidak membalas dan banyak.menahan gerakan…
Diiiannn… Kataku depan rumah
Yaaa tan… Masuk aja…
Ku.masuk langsung ke dapur…
Di meja makan ada nasi goreng roti ama selainya lengkap…
Dian menyusul ku…
Ayo tan… Bareng aja uku juga lum sarapan… Baru aj mandi…
Tumben kayak ngantenan aj.mandi pagiii… Kataku…
Hehehe biasalah tan kalo.libur
Emang ada apa… Timpalku…
Malam.libur nyantai nonton tv… Sambil gituan tan…
Hihihi dalam hatiku… Bener bener nih anak… Gak da groginya ngomong gituan… Cumak kurang sreg.kalo gituan sendiri tannn…
Gituan maksudnya kataku.pura pura bodo…
Yaaa tante… Onani gitu tannn..
Ooo gitu…
Emang biasanya berdua gitu…
Iya tan… Ehhhh enggak enggak
Dian keceplosan …
Berangan tan kalo bedua enak banget pasti… Kayak kemaren.. Dian keceplosan lagi…
Kemarenn ama sapa… Kataku
Emang tante gak tauuuu…
Tau apaan sihhh… Aku pura pura bego acuh tak acuh…
Ooo kata Dian … Gak tan… Gak da tan… Hehehe… Jangan sekarang deh…
Maksud kama apain sihhh…
Ada dehhh… Gak usah dibahas
Aku diemin biar suasana sesuai dengan kemauan Dian dan akrab…
Kulirik cewek kelas tiga esema ini… Memakai baju kaos oblong tanpa bra pasti… Kelihatan.puting kecilnya tercetak di kaos topisnya… Basar susunya paling sebola tenis… Masih kecil memang… Tapi merangsang banget….
Dipadu dengan celana pendek
Bahan lejin ketat banget kelihatan tanpa celana dalam.. Memeknya tercetak jelas diselangkangannya… Bahkan garis bibir memeknya terlihat..
Posturnya langsing rada kurus tubuhnya belum tumbuh sempurna…
Aku menerawang.memeknya
Dian pasti masih rapat dan kenceng…
Ehhh tante ngelamun yaaa…
Gak kataku terbata dan pura kubenerin letak susuku dengan mengangkatnya keatas…
Dian memperhatikan dengan srius…
Dian udah gak bahas tentang kejadian kemaren… Dan dia memang menganggab aku tertidur sewaktu dia asyim mengekploitasi memekku….
Duh bagus banger susu tante ya… Montok banget… Penuhhh
Aku jadi iriii tan…
Ooo… Masak sihhh… Susu Kamu juga tuh seksi banget walau masih kecilll…
Iyaa ya tan… Ketek tante juga
Walau gak dicabutin bulunya sedang halus rapih… Hehehe
Aduh.kok omomgin bulu segala… Kataku… Dalam hati aku senang.malah..
Itu baru didesa ya tan… Gimana di kotanya yaa… Aduhhh pasti lebih lebat dan rimbun… Hehehe… Iyakan tan…?
Kata Dian menggodaku dan memulai aksinya…
Ah sok tau kamu… Dalam hati Ya iyalah kamu tau kamu udah garap memekku kemaren…
Kamu kan juga.punya itu Dian
Bulu.maksutnya tann… Iya sih mememku ada bulunya tapi bisa dihitunggg tan… Heheheh
Yahhh aku cukur aja..Abis jelek banget di liatnya…
Tanpa sungkan Dian nerangin memeknya ke aku… Bikin aku terangsang…aku tau dia juga sudah gak tahan… ingin mencumbu puas memekku kayak kemaren…
Masak sihhh dicukur…
Iya tan… Tante gak percayaaa
Gak… kataku…
Sinideh.ke kamar aku.liatin…
Gak malu.kamu…
Gak lah tan… Sama cewek aja
Iya deh tante pengen tau…
Hihihi… Dasar sama sakit jiwa seksual ku ikuti alur kemauan syahwat Dian kekamar..
Nihh tan gak da bulun kan kata dian sambil menurunkan celananya sampek kelantai…
Oughhhh syahwat ku langsung menyentak melihat memek Dian yang polos gak tembem sama.sekali dengan.garis tengah bibirnya yang tipis… Gak bohong kan tan… Pegang deh tan… Bekas cukurannya aj dikit banget…
Iya iya ngeliat aj tante dah tau
Kataku… Dian gak kontrol kata dan bawaannya lagi dibawa arus rangsangan yang aku tahu dari celana pendeknya udah bebercak cairan nikmat memeknya… Hihihihi pinterrr..
Trus kamu kalau lagi gituan maksudnya gimana tante pengen tau…
Ahhh tante macam gak tau aj
Tauuu… Cumak tiap orang kan beda caranya… Kataku beralasan…
Diginiin aj tan pakek jari… Trus yang ini nih itilnya di usap usap aja… Ntar jadi basah dan makin enak…
Aduhhh.mmmaaammma Dian mempraktekkan mengusap bibir memeknya dengan jari dan aku makin sange aja  melihatnya…
Kalo Tante gimana caranya…
Sama ma.kamu waktu masih sekolah dulu… Ya gitu juga
Kalo sekarang tante…?
Heh mau tau aj urusan orang dewasa…
Hihihihi… Dian brani karena diam diam dia sudah tau aku juga suka dengan permainan memek ini…
Aku sudah hampir gak tahan untuk melumat.memek Dian ini Tante boleh lihat gak memem tante… Hheheee…
Kok pengen tau sihh…
Tauk tuh tan… Dian sukak keransang kalau dah omong masalah memem… Gitu Dian menyebut memek dengan memem… Mememku berdenyut heheehehehehe…
Iyalah tan.plisss…
Ntar kalok tante lihatin memek tante mo diapain…
Yahhh paling dipegang atau apa gitu… Dian agak tercekat
Napsunya menjalar suaranya bergetar… Syahwatnya naik… Yahhh hhhmmmhuf.. Diannn malah melumat bibirku napsu sekali… Kami berpagut saling raba… Memek Dian basah sekali… Apalagi memekku… Kulepas kaos Dian dan aduhh cantiknya montok dan padat sekali payudara Dian walau sebola tenis… Nyaris tanpa puting… Putih merangsang… Kuremas pelan kedua susunya Dian melenguh ngggghhhmm makin menambah napsunya melalap bibirku… Tangan Dian tak henti mengelus memekku yang udah lembab sangat… Ouhg ohggg… Dian beralih ke susuku… Duhhhh tanteeee indahnya payudara tanteee… Buka ya tan branya… Langsng Dian melepas pengait bra ku… Melompat susuku dan Dian langsung mengejar putingku dengan mulutnya…oggghhh aku menengadah keenakan… Tubuhku di rebahkannya di kasur… Dian menindihku melahap meremas memilin putingku… Trus sayang aduh nikmatnya… Kubalas dengan mengelus garis memeknya yang rapat dan basah… Dikelentitny kutekan dan kugetarkan jariku… Dian mengerang kenakan… Iyaaa tan… Oh oh oh trus tan yahhh rasa kasihanku datang ibaku melihat Dian kelojotan tanpa birahi pasti….
Udah sayang… Sini tante tuntasin… Kamu baring Dian…
Lalu kujilat kuat memek Dian dian melentingkan bokongnya kenikmatan tiada tara… Susah aku.menjilat.memeknya karena masih agak kebawah dari letaknya… Kuganjal bokong Dian dengan bantal… Dan langsung.memeknya agak mendongak ke atas… Kujilat dengan gerakan cepat kelentitnya saja … Ng ng nhnghhhh…ohhhh tante…. Lalu kuhisap dalan sekuatnya kutarik hisapan ku tanpa melepas bibirku dari kelentitnya.. Taaaaannnnn te.. Masukin masukin jari tante… Kumasukkan jariku setengahnya…. Dan nggggghhahhhhh Dian orgasmee…eeennnaaakkk taaannnteeeeee oooouuugggh. Ooooohhhhgggg oh ough..
Memeknya banjirrrr basah…. Ait syahwatnya mengalir diiring nikmat pahanya menjepi kepalaku tanpa ampunnnn
Dian memintaku gaya doggi… Ayo tante…lalu kepalanya pas dibawah memekku… Gaya enam sembilan denga aku yg diatas… Ooouuuggghhh Langsung Dian melumat keentiyku.kuat sekali helaan bibitnya… Tanpa ampun kutekan habis memekku ke.mukanya… Dian bernapsi sekali menhilati.memekku dengan melebarkan belahannya…. Aduhhhhh maaammmaaa mmmmm ouuiihhhhjnmemekku berkedut kedut… Dian memasukkan jarinya ke lubang memekku… Ooooooghhhhhhh Diaaaannn enak sayanggggg…. Makin cepat jari Dian… Kuremas kuat susuku… Dannnn aaaaaaagghhhhhh…. Maniku melesat keluar diiring orgasme nikmatttttt oh.oh.ohhhhhh pahaku merapat… Dan ahhh haaaaaaahhhggg aduh sayang hhmm hhhmmm…
Dian berbalik diamenciumku ganas sekali… Memeknya di tempelkan ke.memekku… Ohh baru tau aku kalau begini samgay nimat… Kaki.kami bersilang kami setenga duduk sambil aga menyamping…. Dian dengan kuat.menekan memekku dengan.memeknya sambil terus menggoyang ping gulnya…. Oh oh oh ayo tan sama sama …iiiihhhya iiiiiya dan sunggung nikmat dan birahi syahwat yang membawa kelentit.kami kembali tegang..
Sempurna kelentit kami saling gesek saling enak dan nikmat Tanteeee Dianau.kkkkkeeeluar iihhhya sayang..m ayo ayo..
Ooooghh ogh oghhhhhh… Ouuuuuuhhhgggggg.. Kami saling berpagut erat…maniku mani Diam terpancur deras dari tempatnya… Dian memelukku nyaman sayang dan penuh kasih…. Huuuuugghhhh… Cairan ku masih terasa mengalir diiring nikmat kedutan.memek terpuaskan…
Tanteee susu dan memek tante merangsang sekali…. Indahhh banget… Aku iri kok susuku cumak segini… Kata Dian sambil membekap susunya dengan telapak tangan… Memek tante juga… Tembem banyak bulunyaaaa … Duhhh kalau Dian pengen lagi maukan tante…
Iya iya… Kataku sambil mengelus elus memek Dian mengiring sisa kenikmatan..
Tangan Dian juga tak lepas dari kedua susuku… Dielusnya pelan kesemua permukaannya
Dian merebahkan kepalanya di susuku dengan nyaman… Kedekap Dian dalam diam dan kenikmatan syahwat tercapai…

DIAN 1: WHEN I SLEEP

Seperti yang sudah aku singgung di episode sebelum ini… Dian adalah kakak perempuannya Leo… Dian masih kelas tiga esema, sedang Leo seperti pembacaku tercinta tau baru kelas satu esempe…

Sedangkan aku adalah aku yang berpostur tubuh yang bisa dibilang montok… Tinggi ku satu enam lima… Dadaku penuh oleh sepasang payudara yang montok padat dan berisi. Bokongku bak gitar spanyol yang aduhai banget wat kaum adam… Paras lumayan cantik manis dengan rambut sebahu. Aku masih perawan diumur yang hampir kepala tiga ini… Yaaa… Begitu adanya… Belum ada satu bendapun yang masuk kelubang memekku selain jari ku sendiri… Hufff.. Memekku masih perawan… Bulu rambutnya kubiarkan saja semaunya… Karena ini merupakan senjata utamaku untuk eksibisionis yang menjadi penyakit akut ku dalam hal pelampiasan seksual, selain buah dadaku yang berguncang kalau kalau sedang berjalan.
Kembali ke Dian tadi… Aku terobsesi oleh cerita Leo adik nya Dian… Yang mana Dian ini suka sekali berganti baju di depan adiknya Leo. Dan menurut cerita Leo malahan di sengaja dan berlama lama lagi Apa Dian punya penyakit sama seperti aku? Aku jadi penasaran ingin tau… Aku gak peduli apakah dia laki laki perempuan tua atau muda anak kecil sekalipun asal bisa aku ekbis dan dia respon aku pasti bersemangat dan libido ku jadi meledak ledak…
Aku akan pancing Dian di rumahku saja biar lebih bebas dan leluasa… Cumak waktunya saja yang harus ku setting. Jangan sampai Leo adiknya Dian sedang dirumah… Harinya adalah kamis… Karena Leo pada hari itu pulangnya jam sepuluhan malam. Kenapa dengan Leo….karena Leo lagi getol getolnya melihat memekku lah… Mau nenen susuku lah atau sekedar minta di keluarin spermanya… Kalau dia bilangnya tanteee… Keluarin pipis Leo tante ya…!
Tapi aku senang dan horni bannget melakukannya… Ya itulah penyakitku…
Kalau Dian selalu main kekamarku tanpa sebab atau karena dia sudah terlalu dekat dengan ku… Karena Dian sudah agak dewasa dia sedikit menjaga sikap dalam masalah masalah seksualitas gitu… Tapi dalam beberapa kesempatan Dian aku perhatikan sukak memperhatikan buah dadaku… Atau selangkangan ku kala berganti pakaian atau selesai mandi… Aku tau di memperhatikan bukan sekedar melihat saja… Tapi ada perasaan suka akan tubuh ku…
Kamis pun datang, dari kemaren aku sudah siapin skenario kalau Dian datang ke kamarku nanti…
Kupercepat pulang dari kantor dan sampai dirumah ku langsung mandi… Dan aku tau jam segini Dian pasti sudah dirumah… Aku kekamar lagi hanya berlilit handuk ukuran sedang… Sulit sekali tuk menutupi kedua payudaraku apalagi sekalian sama bawah selangkangan ku… Kalau kututup memekku sebagian payudara ku akan terbuka… Pun begitu sebaliknya… Tapi hal ini ku sengaja untuk memancing Dian…
Tannteee… Suara Dian di pintu
Aku diam aja berbaring pakek handuk tadi di kasur…
Taannn… Kembali suara Dian dan diikuti suara pintu sibuka Tante dimana sihhh… Dian masuk kamarku… Aku berpura tidur… Aku tau Dian sudah melihat ku berbaring miring dengan satu pahaku yang bawah tidak ketutup handuk..
Intinya… memekku yang bulu rambutnya sangat tebal itu kelihatan oleh Dian walau tidak sempurna…
Dian diam saja menegun melihat keadaan ku… Lalu dia memanggil pelan sekali… Tanteee… Dia ingin tau apakah aku benar benar tidur… Lalu Dian duduk di dekat betisku… Terdengar tarikan nafasnya berat oleh pemandangan di depannya… Ku lirik dia dari balik bantal yang kupeluk menutupi buah dadaku… Agak lama Dian memperhatikan bagian selamgkangan ku… Sampai dia menundukkan kepalanya agar lebih jelas melihat memek ku… Akupun.mulai merasa horni cairan memekku terasa mulai mengalir… Hhhmmmm ku hella nafasku seperti orang tidur benaran… Dian berdiri dan tak lama terdengar bunyi.pintu depan di kunci… Aku ketawa dalam hati… Dian masuk perangkapku… Hihihihi… Kembali Dian duduk di dekat kakiku… Terasa oleh ku tepian handukku diangkat keatas… Ya Dian.menyibakkan kain penutup pahaku keatas dan… Terpampanglah memek hitamku walau posisi menyamping… Dian diam sebentar… Melihat kearahku… Lalu Dian mendekatkan wajahnya kedekat memekku… Nafaskupun mulai gak tetatur dilanda hasrat syahwat…
Terasa nafas Dian hangat di Pangkal.pahaku… Ya wajah Dian dekat sekali didepan memekku…
Kubiarkan momen itu tanpa mau mengejutkan Dian… Biar dia lebih jauh dulu sehingga dia gak bisa ngelak kalau aku bangun nanti… Hasratku sudah menggebu… Birahiku meninggi tapi suasana begini aku udah biasa menahannya malah kenikmatan sendiri oleh ku…
Bulu rambut memekku seperti ada yang menyentuh… Ya… Dian mendekatkan hidungnya ke bulu rambut memekku… Dia mau mencium pasti… Cuman belum berani… Hangat hembusan nafasnya menambah birahiku menggelora dan memekku mulai berkedut… Cairanku makin jelas terasa mengalir… Terasa bulu memekku disibak dengan jari dan pelan sekali… Dian makin berani melakukan kegiatannya di memekku… Kulihat sebelah tangan Dian dimasukkan ke balik celananya yang longgar… Hehehehe Dian udah horni berat… Dia agak kurang kontrol… Jari nya sedang mengelus elus belahan memekku… Licin karena cairan ku melenguh pelan… Nggggghh nghhh ….
Tangan didalam celananya terus aktif bergerak… Teratur dan pasti… Dian tak merasa lagi aku akan terbangun… Dian udah kepalang tanggung mungkin… Tekanan jarinya berganti dengan jempol di belahan memekku… Ku pun udah gak kontrol… Pinggulku bergerak pelan mengikuti irama jari Dian… Tanpa suara tanpa gerak yang kentara… Aku keenakan… Nikmat… Hasrat syahwatku memburu… Oh ohhh nghhhh dalam hati ku ingin teriakan suara nikmat…
Tangan Dian dalam celananya makin kentara gerakannya… Suara nikmat melanda Dian sama seperti yang kurasa…
Tanpa sengaja karena ingin merasa nikmat yang lebih ku membalik badan tanpa mengejutkan aktifitas Dian… Ku telentang… Kaki kananku kutekuk dilutut dan tersandar dibantal sebelah kanaku… Kaki kiri kuselonjorkan rilek… Satu bantal tetap menutupi wajah ku pas di bawah leher tanpa menutupi kedua payudaraku yang mencuat keatas… Sungguh menantang bagi yang melihatnya…  Dan memekku benar benar terbuka lebar bebas dan siap menerima serangan dari depannya… Memekku berkedut cepat… Rasa nikmat menjalar disetiap sendi tubuhku…
Dian bagai kehilangan akal sehat… Dia udah gak peduli situasi atau akan takut ku terbangun… Dian sedang berpacu dengan rasa nikmat dari ransangan jarinya sendiri.. Kakinya mengejang… Badannya bergetar mengantar kepuncak nikmat syahwat yang sebentar lagi kurasa akan meledak… Dian berbalik mengarah ke aku dan langsung kurasakan kerakusan Dian melahap memekku macam orang kelaparan… Aku gak tahan lagi menahan lenguhan kenikmatan ku… Ouhhhggg ouhggg… Kekentitku di hajar dengan lidahnya sambil menghisap dalammm sekali… Aku menggelepar pinggulku naik keatas menahan kenikmatan… Dian makin lahap melalap seluruh permukaan memekku… Kujeput rasa nikmat dengan erangan syahwat tertuntaskan ouhghh oughhh oughhh… Dianpun tanpa menjaga gerakan lagi kakinya menjepit kuat tangan kanannya di sela selangkangan nya… Dian melenguh panjang tertahan… Dian orgasme tubuhnya tegang dan kaku menahan nikmat… Jilatannya di memekku mengendor… Mulutnya belepotan oleh cairan memekku…
Aku tetapkan saja untuk tidak bangun… Kunikmati saja sisa kenikmatanku… Memekku mengalir cairan syahwat orgasme yang enak dan memuaskan…
Dian kembali duduk mengatur nafas nya seperti orang habis lari seratus meter… Tangannya di tarik keluar dari dalam celana dan berdiri menatap tubuh telanjangku terpampang jelas di depannya… Dian berbalik dan melangkah ke arah pintu… Tanpa rasa berdosa seoalah tak terjadi apa apa… Ku cekikikan dalam hati… Hihihi sampai jumpa di seson berikutnya Diaaannn…
Terdengan bunyi pintu depan di buka dan ditutup kembali tanda Dian sudah keluar dari rumahku…

Kado Ulang Tahun Mama

Ini merupakan tulisan Fikki yang ketiga di 17Tahun.com, meskipun saat ini aku menggunakan alamat email yang berbeda daripada biasanya karena alamat tersebut sedang dalam perbaikan dan seingatku, dulu tidak harus punya account di situs ini untuk dapat menulis cerita, cukup langsung mengirim lewat email.

Kali ini juga bukan kisahku sendiri yang akan kuceritakan, tapi tentang Wen, temanku di kota N dulu, yang sekarang telah duduk di kelas II SMP, ketika aku bertemu beberapa waktu yang lalu saat aku berkunjung ke tempat pamanku di sana. Meski saat itu hubungan antara keluargaku dan keluarganya sedang tidak begitu baik karena ada masalah, tapi kami sempat bertemu dan mengobrol banyak tentang dirinya, sehingga aku dapat menuliskannya dalam beberapa cerita, di antaranya adalah yang berikut ini.
Baca lebih lanjut